Para orangtua pulang dengan membawa pemahaman tentang tanggung jawab besar guru dalam mendampingi anak-anak didiknya.
26 Nov 2025 08:00 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Kompas/Supriyanto
Peringatan Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November menjadi momen penting untuk menyampaikan penghargaan kepada guru atas dedikasi mereka dalam mencerdaskan bangsa. Di Lampung, sejumlah orangtua diajak merasakan besarnya tanggung jawab guru dengan mengajar sehari di ruang kelas.
Suasana ruang kelas SD Islam Terpadu Baitul Jannah, Bandar Lampung, Lampung, Selasa (25/11/2025), berbeda dari hari-hari biasanya. Di depan kelas, bukan guru yang berdiri mengajar, melainkan orangtua siswa. Anak-anak pun merasa gembira, seolah mendapat kejutan kecil yang sudah lama mereka tunggu.
Setiap peringatan Hari Guru Nasional, sekolah itu memang memberikan kesempatan kepada orangtua untuk menjadi guest teacher atau guru tamu. Ada dua orang perwakilan wali murid yang mengajar di masing-masing kelas. Para orangtua datang membawa cerita tentang pekerjaan, pengalaman, atau keterampilan yang mereka lakukan setiap hari.
Hari itu, Anggardi Sapar (32), yang sehari-hari bekerja sebagai perawat yang juga konselor adiksi, menjadi salah satu pengajar di kelas anaknya. Dia memulai pelajaran dengan mengucapkan salam dan mengenalkan profesi perawat dengan cara yang sederhana kepada anak-anak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/25/62ebf7a4a61f0e38f5e7c4751ac87089-WhatsApp_Image_2025_11_25_at_18.19.33.jpeg)
”Ada yang tahu perawat itu apa? Perawat itu temannya dokter, tugasnya membantu dokter memeriksa orang yang sedang sakit,” kata Anggardi.
Sehari-hari, Anggardi bekerja sebagai tenaga profesional yang memberikan konseling kepada orang-orang yang mengalami kebergantungan pada narkotika, psikotropika, atau zat adiktif lainnya. Belakangan, dia juga menangani sejumlah klien yang mengalami kecanduan akibat penggunaan gawai yang berlebihan.
Oleh karena itu, Anggardi berbagi pengetahuan kepada anak-anak tentang bahaya bermain gawai berlebihan. ”Siapa di sini yang suka main HP (telepon genggam)? Ada yang tahu main HP bolehnya berapa lama?” tanya Anggardi.
Anak-anak kelas 1 SD yang hadir di ruangan itu pun berebut menjawab pertanyaan. Anak-anak itu mengaku kalau hobinya memang bermain gim atau menonton video di Youtube.
Anggardi lantas memberikan penjelasan bahwa bermain gawai pada anak-anak sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Itu pun tidak boleh setiap hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/25/1d7752356a8db0822d3eb08d07f759b1-WhatsApp_Image_2025_11_25_at_18.19.57.jpeg)
Selain itu, anak-anak juga tidak boleh bermain gawai pada malam hari dan di ruang gelap karena bisa membuat mata menjadi sakit. Setelah memberikan penjelasan singkat, Anggar lantas mengajak anak-anak bermain gim dengan kertas origami warna-warni.
”Ini pengalaman yang luar biasa dan menyenangkan. Rasanya seperti flashback ke masa lalu saat saya masih menjadi murid. Hari ini saya menghadapi anak-anak yang luar biasa aktif. Pantas saja guru itu dapat julukan pahlawan tanpa tanda jasa,” kata Anggar seusai berperan menjadi guru sehari di ruang kelas.
Sementara itu, cara lain dilakukan oleh Rahayu Susanti untuk menceritakan aktivitasnya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Dia mengajak anak-anak di kelas praktik membuat sandwich. Di sela-sela aktivitas itulah, Rahayu menceritakan peran seorang ibu dalam mengurus keluarga, mulai dari menyiapkan makanan, membersihkan rumah, hingga mengantar atau menjemput anak ke sekolah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/1fe14be985b240973d8741a847dc41af-DSC03021.JPG)
”Siapa di sini yang suka membantu ibunya di rumah?” kata Rahayu melontarkan pertanyaan. Anak-anak pun menjawab dengan tersipu malu.
Rahayu mengaku tertarik menjadi guest teacher di kelas karena ingin berbagi pengalaman sebagai seorang ibu rumah tangga. Saat di kelas, Rahayu juga memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan oleh orangtua mereka semuanya baik dan mulia. Karena itu, setiap anak harus bangga pada orangtuanya.
Rahayu juga menyadari beratnya tanggung jawab seorang guru yang mendidik anak-anak. Dia berharap, semua guru-guru di Indonesia bisa mendapatkan kesejahteraan yang layak atas jasa-jasanya. ”Ternyata jadi guru itu capek banget. Tadi aja aku sampai keringetan,” ujarnya.
Dari pengalaman singkat itu, para orangtua merasakan sendiri bahwa membangun suasana belajar dan memahami karakter murid bukan pekerjaan mudah. Mereka pun pulang dengan pemahaman tentang tanggung jawab besar guru dalam mendampingi anak-anak didiknya. Pada akhirnya, pengalaman itu memberikan jejak pembelajaran yang akan terus tumbuh di ruang kelas maupun di rumah.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto