Pengaruhnya yang begitu luas menunjukkan bahwa KAA Bandung 1955 bukan hanya milik Indonesia. KAA Bandung adalah milik dunia.
18 Apr 2025 11:59 WIB · Opini
Saat mengenang kembali peristiwa ”Bandung Lautan Api”, biasanya orang mengacu ke peristiwa yang terjadi di Bandung pada akhir Maret 1946. Waktu itu bagian selatan kota sengaja dibumihanguskan oleh rakyat dan para pejuang kemerdekaan. Tujuannya agar kota tersebut tidak digunakan sebagai markas oleh tentara Sekutu untuk menyerang rakyat sipil maupun satuan-satuan militer Indonesia.
Dengan sukarela rakyat membakar rumah masing-masing sebagai bagian dari upaya membela amanat proklamasi. Dan, memang itulah yang terjadi. Tentara Sekutu gagal menjadikan Kota Bandung sebagai markas mereka guna membuka jalan bagi kembalinya kolonialisme di Indonesia. Tak bisa disangkal, peristiwa Bandung Lautan Api merupakan salah satu momen istimewa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bandung adalah kota istimewa.
Tak kalah istimewa, ”lautan api” Bandung juga pernah menyulut dunia. Waktu itu bulan April tahun 1955. Kita ingat, pada tanggal 18-24 di bulan dan tahun tersebut di Bandung berlangsung sebuah perhelatan pertama bangsa-bangsa dari Benua Asia dan Afrika.
Itulah Konferensi Asia-Afrika (KAA). Bahwa konferensi itu dihadiri oleh perwakilan dari 29 negara, kita masih ingat. Bahwa konferensi itu digagas oleh Presiden Soekarno bersama sejumlah pemimpin Asia dan Afrika, kita belum lupa. Demikian juga bahwa konferensi tersebut merupakan contoh sukses kolaborasi negara-negara Dunia Selatan (Global South).
Yang terkadang kita lupa adalah bahwa konferensi yang berlangsung di ”Kota Kembang” pada tahun 1955 itu telah turut mengubah sejarah dunia, khususnya sejarah dunia pasca-Perang Dunia II. KAA Bandung telah membuat bangsa-bangsa Asia dan Afrika ”terbakar”, tidak hanya oleh api solidaritas, tetapi juga oleh api anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan kerja sama transnasional.
Berkat KAA, banyak bangsa sadar, kerja sama dalam semangat solidaritas di antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika tanpa campur tangan negara-negara kolonial Barat itu mungkin. Berkat KAA pula, disadari bahwa di tengah konflik global Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, bangsa-bangsa Asia dan Afrika boleh bersikap netral. Pintu untuk tidak-memihak telah dibuka.
Selanjutnya, berkat KAA bangsa-bangsa yang hingga saat itu belum merdeka jadi terinspirasi oleh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (Reybrouck, 2024). Model Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang singkat, jelas, dan total menjadi acuan bagi negara-negara yang waktu itu masih terjajah.
Di Afrika, contohnya. Disulut oleh api semangat KAA Bandung, para pejuang politik seperti Kwame Nkrumah dari Ghana dan Julius Nyerere dari Tanzania mengobarkan semangat anti-kolonialisme di Afrika. Mulai tahun 1960, hanya lima tahun setelah KAA, wilayah-wilayah kolonial di Afrika mulai rontok. Lima tahun kemudian ada 34 negara baru di Afrika.
Kemudian, para tokoh politik yang sama juga mendesak untuk menolak batas-batas negara buatan kolonial, seraya mendorong kerja sama transnasional. Gagasan itu disambut baik. Pada tahun 1963 terbentuklah Organization of African Unity, yang menjadi cikal bakal lahirnya Uni Afrika (Reybrouck, 2024).
Sementara itu, sepulang dari KAA, Presiden Gamal Abdel Nasser menggelorakan semangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme di Mesir. Dengan menggunakan radio, ia juga menggelorakan semangat yang sama kepada bangsa-bangsa lain di Timur Tengah. Ia bahkan menerjemahkan program-program radionya ke dalam bahasa Swahili guna mengobarkan semangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme di antara bangsa-bangsa Afrika Sub-Sahara.
Masih dalam semangat yang sama, pada Juli 1956 Nasser menasionalisasi Teruzan Suez yang hingga saat itu masih dikuasai oleh dua bangsa kolonial, Inggris dan Perancis. Pada Oktober 1956, Inggris dan Perancis menyerang Terusan Suez. Terjadilah apa yang disebut sebagai Krisis Suez. Merasa tidak diajak berembuk sebelumnya dan tidak menyetujui serangan tersebut, Amerika Serikat minta agar serangan dihentikan. Inggris tunduk. Serangan pun dihentikan.
Merasa dikhianati oleh Inggris dan demi memperjuangkan kepentingan Eropa Kontinental, Perancis lalu mendekati Jerman untuk membentuk aliansi. Jerman setuju. Keduanya lantas berusaha membangkitkan kembali semangat Perjanjian Roma (the Treaty of Rome) yang sebelumnya sempat lesu.
Bersama dengan Italia dan negara-negara Benelux (Belgia, Nederland, dan Luxembourg), akhirnya Perancis dan Jerman merintis kerja sama ekonomi negara-negara Eropa Kontinental yang nantinya mendorong terbentuknya European Community. Dalam perkembangan selanjutnya lahirlah Uni Eropa pada tahun 1992.
Kelihatan, Konferensi Bandung 1955 turut mendorong terjadinya Krisis Suez 1956, sedangkan Krisis Suez 1956 secara tak sengaja turut mendorong lahirnya Uni Eropa. Dengan kata lain, secara tak langsung KAA Bandung turut membantu terbentuknya Uni Eropa yang ada sekarang ini (Falter, 2017).
Secara agak berlebihan mungkin bisa dikatakan, tak akan ada Eropa bersatu dalam bentuk Uni Eropa kalau tak ada Konferensi Bandung 1955. Bandung telah turut mengubah sejarah Eropa. Bandung memang istimewa.
Lebih dari contoh-contoh di atas, api semangat KAA Bandung juga telah menyulut terjadinya berbagai peristiwa bersejarah lain. Di Paris, misalnya, pada tahun 1960 ”l’esprit de Bandung” alias semangat Bandung telah mendorong diadakannya Premier Congrès international des écrivains et artistes noirs atau kongres para seniman dan penulis kulit hitam.
Dalam konferensi yang antara lain dihadiri oleh Franz Fanon dari Aljazair dan Léopold Senghor (kelak Presiden Senegal) itu, untuk pertama kalinya dilakukan kerja sama transnasional para pelaku budaya yang telah dipandang sebagai warga kelas dua akibat adanya rasialisme.
Di Afrika Selatan, para pejuang gerakan anti-apartheid mengambil inspirasi dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan semangat KAA Bandung. Beberapa kali Mandela memuji Presiden Soekarno dan ”para tokoh visioner” lain yang hadir dalam KAA Bandung. Ia pun menyerukan agar ”semangat Bandung” menjadi dasar pembangunan masyarakat baru.
Sementara itu, di Amerika Serikat, para pejuang persamaan hak warga kulit-hitam juga mendapat sulutan api semangat dari KAA Bandung. Kebetulan dalam konferensi tersebut hadir Richard Wright, seorang penulis warga kulit-hitam dari AS.
Sepulang dari Bandung, Wright menulis buku berjudul The Color Curtain: A Report on the Bandung Conference (1956) yang membuat masyarakat AS tahu tentang KAA. Martin Luther King Jr, tokoh terkemuka perjuangan persamaan hak di AS, memuji para peserta KAA yang telah berseru supaya ”tidak ada lagi rasialisme dan kolonialisme”.
Saat mengenang kembali peristiwa Bandung Lautan Api, biasanya orang mengacu ke sebuah peristiwa yang terjadi di Bandung pada akhir Maret 1946. Meski demikian, sebenarnya ”lautan api” lain dari Bandung pernah menyulut dunia dalam bentuk semangat solidaritas, anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan kerja sama transnasional. Pengaruhnya yang begitu luas menunjukkan bahwa KAA Bandung 1955 bukan hanya milik Indonesia. KAA Bandung adalah milik dunia.
Semoga peringatan 70 tahun KAA Bandung pada tahun 2025 ini tidak hanya melahirkan nostalgia penuh rasa bangga. Semoga peringatan 70 tahun KAA Bandung juga mendorong semangat bersama untuk kembali ”menyulut” dunia dengan api semangat solidaritas, anti-neokolonialisme, anti-neoimperialisme, dan kerja sama antarbangsa.
Semuanya demi terciptanya sebuah tatanan global yang lebih adil dan saling menghormati di ”rumah bersama” kita, yakni Bumi yang bersama-sama kita tinggali ini.
Baskara T Wardaya, Peneliti PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus)
Penulis:
Baskara T WardayaEditor:
Johanes Waskita Utama, Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul