Ketika Gelombang Panas Ekstrem Menerjang Eropa

Organisasi Meteorologi Dunia menyebut gelombang panas yang terjadi di Eropa saat ini datang terlalu cepat karena biasanya terjadi pada akhir Juli atau awal Agustus.

08 Jul 2025 09:00 WIB · Lingkungan

Oleh Totok Wijayanto

Seorang wisatawan muda berpakaian terbuka berdiri di atas Bukit Filopappou, Yunani, Senin (7/7/2025). Cuaca yang cukup terik membuatnya harus berlindung di bawah payung merah muda yang ia bawa. Cuaca siang itu yang mencapai 40 derajat celsius tidak menyurutkan niatnya untuk menikmati keindahan kota Athena dari tempat tersebut.

Selain di Yunani, gelombang panas ekstrem juga menerjang sejumlah negara di Eropa, seperti Perancis, Inggris, Lituania, Polandia, Ukraina, Turki, dan Italia, beberapa waktu belakangan ini.

Pemandangan udara yang diambil pada 5 Juli 2025 ini menunjukkan orang-orang beristirahat di tepi pasir Sungai Vistula yang terkena kekeringan di Warsawa. Sungai terpanjang di Polandia, Sungai Vistula, pada 4 Juli 2025 mencapai level air terendah sepanjang sejarah di Warsawa, saat negara tersebut menghadapi kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut badan meteorologi nasional. (Foto oleh Sergei GAPON / AFP) *** Local Caption *** This aerial view taken on July 5, 2025 shows people resting on the sandy bank of the drought-affected Vistula River in Warsaw. Poland's longest river, the Vistula, on July 4, 2025 hit a record-low water level in Warsaw, as the country faces an unprecedented drought, the national weather agency said. (Photo by Sergei GAPON / AFP)
Seorang wanita berlari di Taman Sempione pada pagi hari di Milan, Italia, Jumat, 4 Juli 2025. (Foto AP/Luca Bruno) *** Local Caption *** A woman runs at the Sempione park in the early morning in Milan, Italy, Friday, July 4, 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

Organisasi Meteorologi Dunia menyebut gelombang panas yang terjadi di Eropa saat ini datang terlalu cepat karena biasanya terjadi pada akhir Juli atau awal Agustus. Fenomena ini dianggap tidak lazim oleh para ahli karena biasanya terjadi pada puncak musim panas, bukan awal Juli.

Copernicus Climate Change Service Uni Eropa mencatat bahwa wilayah Eropa mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Hal ini menjadikannya sebagai kawasan dengan laju pemanasan tercepat di dunia.

Seorang pria berusaha mendinginkan diri di sebuah air mancur pada hari yang panas, saat suhu diperkirakan akan melebihi 40 derajat celsius (104 derajat fahrenheit) dalam beberapa hari ke depan, di kawasan Palaio Faliro, selatan Athena, Yunani, Minggu (6/7/2025).
Anak-anak mendinginkan diri pada hari yang panas di sebuah air mancur umum di Vilnius, Lituania, Kamis, 3 Juli 2025.
Sebuah laki-laki mandi di dekat pantai pada hari yang panas, saat suhu diperkirakan melebihi 40 derajat celsius (104 derajat fahrenheit) dalam beberapa hari ke depan, di kawasan Palaio Faliro, selatan Athena, Yunani, Minggu, 6 Juli 2025.
Orang-orang mandi pada sore hari karena suhu diperkirakan melebihi 40 derajat celsius (104 derajat fahrenheit) dalam beberapa hari ke depan, di kawasan Glyfada, selatan Athena, Yunani, pada Minggu, 6 Juli 2025.
Pelanggan makan di sebuah restoran ikan populer saat air disemprotkan untuk mendinginkan area tersebut pada hari yang panas di Istanbul, Turki, Jumat, 4 Juli 2025. (Foto AP/Francisco Seco) *** Local Caption *** Customers eat at a popular fish restaurant as water is sprayed to cool the area on a summer day, in Istanbul, Turkey, Friday, July 4, 2025. (AP Photo/Francisco Seco)
Orang-orang berjalan di Plaza Trocadero dekat Menara Eiffel selama gelombang panas, Rabu, 2 Juli 2025 di Paris. (Foto AP/Christophe Ena) *** Local Caption *** People walk at Trocadero plaza near Eiffel Tower during a heat wave, Wednesday, July 2, 2025 in Paris. (AP Photo/Christophe Ena)
Seorang gadis mengemil sambil bersembunyi di bawah naungan jembatan layang pada hari yang sangat panas di Kyiv pada 6 Juli 2025, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. (Foto oleh Sergei SUPINSKY / AFP) *** Local Caption *** A girl snacks as she hides in the shadow of an underpass during a heat summer day in Kyiv on July 6, 2025, amid Russian invasion in Ukraine. (Photo by Sergei SUPINSKY / AFP)

Para pengamat menyampaikan, perubahan iklim itu akibat ulah manusia. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil membuat gelombang panas lebih intens dan semakin sering terjadi dengan skala yang lebih luas. Bahkan, tahun ini gelombang panas ekstrem terjadi di luar periode normal.

Perubahan iklim semakin intens terjadi. Cuaca di satu belahan bumi bisa b membuat satu belahan dunia panas sedangkan satu belahan dunia lain diterjang hujan deras yang menyebabkan banjir dan tanah longsor.


Kerabat Kerja

Penulis:

Totok Wijayanto
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul