Ketika ”Harimau” Sabalenka Menjinakkan Diri Sendiri

Aryna Sabalenka mempertahankan gelar Amerika Serikat Terbuka seperti yang dilakukan Serena Williams, 11 tahun lalu.  Itu menjadi gelar keempat dari ajang Grand Slam.

07 Sep 2025 14:58 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Aryna Sabalenka mendapat gelar keempat Grand Slam ketika menjuarai tunggal putri Amerika Serikat Terbuka. Empat gelar dari tujuh final itu didapat dalam tiga tahun terakhir setelah petenis Belarus tersebut pernah frustrasi di dunia tenis profesional.

Sabalenka menjuarai AS Terbuka di Stadion Arthur Ashe, Flushing Meadows, New York, Sabtu (6/9/2025). Dia menang atas petenis tuan rumah, Amanda Anisimova, dengan skor 6-3, 7-6 (3).

Hasil ini membalas kekalahan Sabalenka dari Anisimova saat mereka bertemu pada semifinal Wimbledon, dua bulan lalu. Adapun Anisimova harus menanti kesempatan lain untuk menjuarai Grand Slam setelah kalah di final Wimbledon dari Iga Swiatek.

Saat kemenangan atas Anisimova digambarkan dalam angka, Sabalenka mencatatkan berbagai prestasi. Dia menjadi tunggal putri pertama yang bisa mempertahankan gelar juara AS Terbuka dalam 11 tahun terakhir.

Petenis terakhir yang melakukan itu adalah Serena Williams ketika menjadi juara pada 2012-2014. Di antara mereka dalam rentang sembilan tahun, gelar juara selalu berganti di antara delapan petenis. Hanya Naomi Osaka yang dua kali menjadi juara, pada 2018 dan 2020.

Kemenangan atas Anisimova membuat Sabalenka sama seperti Osaka yang mempunyai empat gelar Grand Slam dari turnamen lapangan keras. Selain AS Terbuka, Osaka mempunyai trofi juara Australia Terbuka 2019 dan 2021.

US Open Tennis

Sementara, Sabalenka menjuarai Australia Terbuka 2023 dan 2024 yang menjadi bagian dari 21 gelar juara turnamen profesional. Di antara petenis aktif, mereka hanya tertinggal dari Swiatek yang memiliki lima gelar Grand Slam dan Venus Williams (tujuh gelar).

Selain itu, gelar AS Terbuka menjadi obat kekecewaan Sabalenka setelah kalah di final Australia dan Perancis Terbuka. Dia kalah dari dua petenis AS, yaitu Madison Keys di Melbourne Park dan Cori ”Coco” Gauff di Roland Garros.

Namun, ada makna lebih mendalam dibandingkan daftar prestasi tersebut. Sabalenka bisa mempraktikkan yang dia pelajari seusai kalah di final Australia dan Perancis Terbuka: belajar bersabar.

Quote

Setelah melakukan kesalahan itu, saya melupakannya, menarik napas panjang, dan berpikir, ”Oke, itu sudah terjadi, ayo fokus lagi untuk yang berikutnya.”

Dengan bersabar, petenis berusia 27 tahun itu belajar mengerem karakternya yang keras, seperti harimau yang dijadikan tato di lengan kiri sejak berusia 18 tahun. Sabalenka memilih harimau karena dia lahir pada 1998 yang memiliki simbol harimau berdasarkan kalender China. Di lapangan, Sabalenka memang punya karakter seperti harimau: agresif dan tak kenal takut.

Kesabaran itu terlihat ketika dia bersikap tenang pada momen kritis saat melawan Anisimova. Dalam posisi serving for championship (servis untuk menjadi juara) saat unggul 5-3, Sabalenka membuat unforced error dari pukulan yang seharusnya membuahkan poin dengan mudah. Bola yang melambung di dekat net dipukulnya dengan arah menukik. Namun, bola dari overhead smash itu tak menyeberangi net.

Sabalenka ”versi lama” biasanya berteriak marah dengan momen tersebut, tetapi kali ini tak bereaksi apa pun. Dia langsung berbalik badan, kembali fokus pada servis berikutnya untuk menghilangkan tekanan. Apalagi, atmosfer di Stadion Arthur Ashe meriah dengan teriakan dan tepuk tangan untuk mendukung Anisimova.

Petenis AS Amanda Anisimova melepaskan pukulan "backhand" dalam pertandingan final AS Terbuka melawan petenis Belarus Aryna Sabalenka di Flushing Meadows, New York, AS, Minggu (7/9/2025) WIB. Sabalenka menjuarai AS Terbuka 2025 setelah mengalahkan Anisimova dengan skor 6-3, 7-6 (3).

”Saat bola melayang, saya ragu-ragu. Setelah melakukan kesalahan itu, saya melupakannya, menarik napas panjang, dan berpikir, ’Oke, itu sudah terjadi, ayo fokus lagi untuk yang berikutnya.’ Namun, ternyata Amanda mematahkan servis saya,” tutur Sabalenka sambil tertawa saat menceritakan momen ganjil itu di dalam konferensi pers.

”Lalu, saatnya ’reset’ lagi,” lanjutnya.

Dari unggul 5-3, Sabalenka berbalik tertinggal 5-6. Dia akhirnya bisa menyelamatkan diri dari terjadinya set ketiga melalui tiebreak. Butuh waktu 15 menit dari kesalahan pada gim kesembilan hingga akhirnya menang.

Ketika poin terakhir didapat, Sabalenka bersimpuh sambil menangis. Cukup lama dia mengeluarkan emosinya hingga Anisimova menghampiri untuk memeluknya.

”Saya sangat mengaguminya. Dia benar-benar bekerja keras untuk menang di sini. Itulah Sabalenka,” kata Anisimova yang didukung 24.000 penonton di stadion.

Momen terpuruk

Perjalanan di Flushing Meadows selama dua pekan, terutama di final, adalah perjalanan ketika Sabalenka tak membiarkan emosi negatif menguasainya. Dia mengambil pengalaman dari kekalahan pada final Perancis Terbuka.

Setelah kalah dari Coco, Sabalenka dikritik publik di media sosial. Saat itu, Sabalenka mengatakan bahwa kemenangan lawan terjadi karena dia bermain buruk, alih-alih Coco yang bermain bagus.

US Open Tennis

Sabalenka meminta maaf dan berjanji tak mengulangi kesalahan tersebut. Lalu, pada turnamen berikutnya, Wimbledon, Sabalenka memperlihatkan hubungan baik dengan berjoget bersama Coco lalu mengunggah video tersebut di media sosial.

”Saya benar-benar salah. Itu pelajaran besar bagi saya, tetapi membantu saya berubah dalam banyak cara,” kata Sabalenka.

Sabalenka mencapai fase ini setelah pernah berpikir untuk meninggalkan tenis, tiga tahun lalu. Dia frustrasi karena berulang kali kalah dari petenis dengan peringkat di bawahnya.

”Ada fase ketika saya berpikir, ’Oke, saya selesai. Waktunya saya meninggalkan tenis dan memilih jalur lain,’” kata Sabalenka merefleksikan perjalanannya pada 2022.

Rasa frustrasinya dimulai sejak awal tahun. Di Australia Terbuka, Sabalenka disingkirkan petenis non-unggulan, Kaia Kanepi, pada babak keempat ketika berstatus unggulan kedua.

Sebelum tampil di Melbourne Park, Sabalenka bahkan kalah pada pertandingan pertama dalam dua turnamen di Adelaide. Dia kalah pada babak kedua Turnamen Adelaide I dan membuat 18 double fault, lalu tersingkir di babak pertama Adelaide II dengan 21 double fault.

APTOPIX US Open Tennis

Dalam persaingan di Perancis Terbuka sebagai unggulan ketujuh, Sabalenka kalah dari Camila Giorgi pada babak ketiga dan tak memenangi satu gim pun pada set ketiga.

Setelah tak boleh bertanding di Wimbledon dengan adanya larangan bertanding bagi atlet Rusia dan Belarus, terkait serangan ke Ukraina, Sabalenka mencapai semifinal AS Terbuka. Namun, kali ini, dia dihentikan Swiatek.

Pada akhir tahun, Sabalenka memiliki peluang besar meraih gelar besar pertama ketika mencapai final turnamen Final ATP yang hanya diikuti delapan petenis terbaik sepanjang tahun. Saat itu, para pesaing besarnya, seperti Swiatek dan Coco, tersingkir di semifinal dan penyisihan grup. Akan tetapi, Caroline Garcia mengubur mimpinya.

Momen bangkit

Tiga tahun setelah menjalani fase yang membuatnya frustrasi, Sabalenka memiliki empat gelar juara Grand Slam. Posisinya di puncak peringkat dunia sejak 21 Oktober 2024 tak tergeser petenis lain.

Karakternya yang keras sama kerasnya dengan pukulan di lapangan. Rata-rata kecepatan topspin forehand-nya, yaitu 128,7 km/jam, lebih cepat dibandingkan dua petenis putra yang akan tampil di final AS Terbuka, Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz. Sinner memiliki forehand dengan kecepatan rata-rata 125,5 km/jam, sementara Alcaraz dengan 127 km/jam.

Diimbangi dengan kemampuannya memukul dengan kecepatan yang sama secara konsisten, Sabalenka bisa membuat lawan-lawannya tertekan dari baseline. Cara bermainnya ini mengingatkan pada karakter permainan Serena, idolanya, yang powerfull.

Reaksi petenis Belarus Aryna Sabalenka memenangi ”match point” dalam pertandingan final AS Terbuka di Flushing Meadows, New York, AS, Minggu (7/9/2025) WIB. Sabalenka menjuarai AS Terbuka 2025 setelah mengalahkan petenis AS, Amanda Anisimova, dengan skor 6-3, 7-6 (3).

Sabalenka juga memperbaiki teknik servis dengan memasukkan pakar biomekanik, Gavin MacMillan, dalam tim pelatih. Polesan MacMillan, yang saat ini menjadi bagian dari tim pelatih Coco, membuat Sabalenka dikenal sebagai petenis dengan servis yang sulit dikembalikan. Kecepatan tertinggi servisnya pada final AS Terbuka adalah 188 km/jam, sementara Anisimova dengan 181 km/jam.

Kemampuan teknis dan usaha untuk membangun kembali motivasi mulai membuahkan hasil ketika meraih gelar pertama Grand Slam di Australia Terbuka 2023. Ini menjadi final pertamanya dalam level persaingan tertinggi di arena tenis profesional.

Tambahan tiga gelar dari Australia dan AS Terbuka membuatnya dikenal sebagai petenis spesialis lapangan keras. Meski demikian, performanya di lapangan lain tak bisa dipanjang sebelah mata.

Dia mencapai final Perancis Terbuka 2025 walau kalah dari Coco dan menembus semifinal Wimbledon dalam tiga keikutsertaan terakhir, pada 2021, 2023, dan 2025. Bisa jadi, Sabalenka tinggal menunggu waktu untuk menjuarai Perancis Terbuka dan Wimbledon. Peluangnya cukup terbuka dengan adanya persaingan terbuka di tunggal putri.

Orang-orang di tim kepelatihan menilai, apa yang diraih Sabalenka dalam tiga tahun terakhir, terutama di AS Terbuka 2025, adalah gambaran bahwa dia telah menjadi sosok yang semakin dewasa.

”Semua orang tahu, Aryna adalah atlet dan sosok yang emosional. Apa yang dirasakannya menjadi penentu yang akan dilakukannya. Ketika dia bertambah dewasa dan berpengalaman, dia semakin mengerti caranya untuk mengontrol emosi itu,” kata pelatih fisik Sabalenka, Jason Stacy.

Petenis Belarus Aryna Sabalenka mengangkat trofi juara setelah pertandingan final AS Terbuka di Flushing Meadows, New York, AS, Minggu (7/9/2025) WIB.

Anton Dubrov, yang pernah menjadi rekan berlatih tanding di tim lalu menjadi pelatih sejak 2020, menilai, keseimbangan antara kebutuhan di lapangan dan kehidupan di luar lapangan turut berpengaruh pada perjalanan positif Sabalenka.

”Ketika pekerjaan dan kehidupan pribadi berjalan seimbang, itu sangat membantu karena atlet akan semakin nyaman di lapangan. Kehidupan Aryna di luar lapangan sangat membantu membuatnya lebih tenang,” kata Dubrov. (AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji