Sesepi apa lalu lintas Jakarta ketika Lebaran?
11 Apr 2025 09:05 WIB · Metro
”Mumpung Jakarta pas sepi, jadi kami coba menikmati fasilitas-fasilitas kota Jakarta,” kata Taufan (37), warga Cilegon, Banten, saat ditemui di kawasan Bundaran HI Jakarta, pada hari kedua Idul Fitri, Selasa (1/4/2025).
Bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil, Taufan sengaja datang ke Jakarta. Keluarga kecil ini bermaksud berkeliling ibu kota menggunakan bus Transjakarta.
Suasana Jakarta yang lengang selama masa Lebaran karena ditinggal penghuninya mudik merupakan ”kemewahan” tersendiri. Kapan lagi bisa menyusuri jalan-jalannya yang lengang, tanpa kebisingan suara klakson kendaraan, sambil menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit?
Fenomena Jakarta yang sepi saat Lebaran bukan sekadar nostalgia tahun ’80-an. Namun, sesepi apa sih Jakarta ketika libur Lebaran kemarin?
Tim Jurnalisme Data Kompas mencoba menguantifikasikannya lewat peta isochrone. Peta ini menggambarkan area yang dapat dicapai dalam waktu tertentu dari satu titik tertentu.
Hasilnya memperlihatkan bahwa pada malam Lebaran atau H-1 Idul Fitri, kota ini seakan ”bernapas lega”, bebas dari deraan kemacetan sehari-hari.
Kompas mengambil Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai ”titik nol” jangkauan. Data pertama diambil pada hari Minggu (30/4/2025) pukul 18.30 WIB atau H-1 Idul Fitri. Pada saat itu, jangkauan kendara dari titik Bundaran HI dalam waktu 30 menit mencakup area seluas 376,7 juta meter persegi.
Data kedua diambil pada hari Rabu (9/4/2025) atau H+8 Idul Fitri pada jam yang sama. Pada saat itu, jangkauan kendara dari titik Bundaran HI hanya 183,4 juta meter persegi. Dengan kata lain, mobilitas pada malam Lebaran meningkat 105,4 persen dibandingkan dengan hari biasa.
Sebagai contoh, pada 9 April, dari Bundaran HI ke arah barat, pengendara hanya mampu menjangkau Kebon Jeruk. Bandingkan dengan saat malam Lebaran, perjalanan bisa mencapai kawasan Alam Sutera di Tangerang.
Ke arah selatan, jangkauan yang hanya sampai kawasan Tugu Pancoran, Jakarta Selatan, pada hari biasa, pada malam Lebaran bisa mencapai Cilandak di Jakarta Selatan, atau bahkan terus hingga ke Ciracas, Jakarta Timur. Ke arah timur, jangkauan yang pada hari biasa hanya mencapai Cawang, pada libur Lebaran dapat mencapai Metropolitan Mall Bekasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/27/84a636ae-5749-4b1d-81bf-3fc666001ac9.jpg)
Data ini diperoleh melalui API dari Mapbox, platform pemetaan digital global yang digunakan dalam industri teknologi dan media, untuk pelacakan mobilitas dan analisis spasial.
Berkebalikan, ketika Jakarta lengang pada masa Lebaran, kota-kota besar lain di Pulau Jawa justru lebih padat dibandingkan dengan hari biasa. Di empat kota besar yang menjadi tujuan utama mudik, yakni Kota Bandung, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta, jangkauan mobilitas pada masa libur Lebaran terlihat berkurang dibandingkan dengan hari biasa.
Di Kota Bandung, analisis dilakukan dengan memilih Gedung Merdeka sebagai titik acuan start penghitungan jangkauan. Pada malam Lebaran, jangkauan perjalanan 30 menit dari Gedung Merdeka turun 8,7 persen, yakni 235 kilometer (km) persegi dibandingkan dengan pada 9 April yang mencapai 257 km persegi.
Demikian pula di Kota Semarang yang jangkauannya mengalami penurunan sebesar 3,5 persen pada malam Lebaran, yakni 278 km persegi dari hari biasa yang seluas 288 km persegi. Simpang Lima menjadi ”titik nol”-nya.
Posisi Semarang sebagai simpul arus mudik di jalur pantai utara (pantura) diduga menjadi penyebab kota ini mendapat limpahan pergerakan kendaraan dari berbagai arah. Akibatnya, jangkauan pun menurun.
Di Surabaya, jangkauan isochrone dari pusat kota juga turun pada masa Lebaran, meskipun relatif kecil, yakni sebesar 4,2 persen. Pada hari biasa, jangkauan 249 km persegi, pada malam Lebaran menyusut menjadi 239 km persegi.
Tren pelambatan lalu lintas pada masa Lebaran yang paling kentara terjadi di Yogyakarta, dengan penurunan paling signifikan, sebesar 21 persen. Dari 477 kilometer persegi pada hari biasa menjadi 376 kilometer persegi pada masa Lebaran. Tidak heran karena Yogyakarta menjadi magnet wisatawan dan pemudik di setiap periode Lebaran.
Hasil analisis ini memperlihatkan satu pola besar: ketika Jakarta ”kosong”, kota-kota lain justru ”penuh”. Tradisi mudik tidak hanya memindahkan manusia, tetapi juga menggeser ritme lalu lintas dan denyut mobilitas antarkota.
Penulis:
Satrio Pangarso WisanggeniEditor:
Sri RejekiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji