"The Prosecutor", Ketika Jaksa Jadi Gerbang Terakhir Penegakan Hukum

Kisah perjuangan mantan polisi memperbaiki celah dalam sistem hukum. Menjadi jaksa untuk menegakkan keadilan.

06 Jan 2025 08:00 WIB · Hiburan

Oleh Prayogi Dwi Sulistyo

Umumnya jaksa bertugas menuntut terdakwa agar dijatuhi hukum pidana. Namun, tidak dengan Fok Chi Ho yang diperankan oleh Donnie Yen di film The Prosecutor. Fok justru membela terdakwa mati-matian di dalam maupun di luar persidangan, demi menegakkan keadilan.

Film yang diangkat berdasar kasus nyata yang terjadi di Hong Kong ini, berpusat pada perjuangan Fok. Ia awalnya berprofesi sebagai polisi yang gigih dalam mengungkap kasus kejahatan. Ia bahkan rela terluka dalam upayanya menangkap penjahat.

Akan tetapi, Fok kecewa ketika ada celah dalam sistem hukum. Penjahat yang ditangkapnya dibebaskan di persidangan karena jaksa gagal membuktikan dakwaan. Fok lalu memilih keluar dari kepolisian.

Tujuh tahun kemudian, setelah belajar hukum, ia bergabung dengan Department of Justice atau Departemen Kehakiman Hong Kong sebagai jaksa. Pengalaman sebagai polisi membuatnya berbeda dengan jaksa lainnya. Ia mampu mengidentifikasi kasus secara detail.

Salah satu adegan dalam film “The Prosecutor”

Kasus pertama yang ditangani Fok melibatkan pemuda miskin bernama Ma Ka-kit (Mason Fung). Ia ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam perdagangan narkoba. Kit didakwa melakukan persekongkolan kepemilikan narkoba bersama Chan Kwok-wing (Lam Ka-Hei).

Awalnya Kit mengklaim hanya menuruti perintah Chan Kwok-wing. Karena ditekan oleh kedua pengacaranya, Au Pak-man (Julian Cheung) dan Lee Sze-man (Shirley Chan), Kit mengakui telah menyelundupkan narkoba. Keduanya membujuk Kit agar mengaku bersalah dan meminta keringanan hukuman.

Namun Kit akhirnya mencabut pengakuan bersalah tersebut dan mengganti pengacaranya. Ia yakin tidak bersalah karena telah ditipu untuk memberikan alamat rumahnya dan dikirimi paket yang tidak diketahuinya.

Kejanggalan

Fok melihat ada kejanggalan dalam perkara ini. Ia berusaha mengungkap kebenaran. Upaya itu membuat hakim pengadilan tinggi (Michael Hui) tak senang. Hakim tak terima dengan pertanyaan dan pernyataan Fok yang justru membela Kit.

Kit akhirnya divonis pidana 27 tahun penjara atas kepemilikan narkoba hingga 1 kilogram, sedangkan Chan Kwok-wing dibebaskan. Atas putusan tersebut, Fok meminta pengacara Kit banding.

Salah satu adegan dalam film “The Prosecutor”

Selain menemui hakim, ia juga menjumpai kakek Kit. Awalnya, Fok tak dipercaya oleh kakek Kit yang telah antipati terhadap aparat penegak hukum. Namun, setelah Fok menolong kakek Kit dari upaya orang tak dikenal yang berusaha mencelakai, akhirnya Fok mendapat kepercayaan dari kakek Kit.

Dengan kemampuan investigasi yang dimiliki Fok, akhirnya diketahui bahwa kasus ini melibatkan sindikat perdagangan narkoba yang dipimpin Sang (Ray Lui) dan Tung (Mark Cheng). Fok mendapatkan bukti baru. Namun, itu belum cukup membuatnya lega.

Berbagai tantangan dihadapi Fok mulai dari kakek Kit yang diserang hingga tewas. Pihak kepolisian pun mulai putus asa karena kesulitan mengungkap kasus ini, tetapi Fok meminta untuk tidak menyerah.

Salah satu adegan dalam film “The Prosecutor”

Sutradarai sendiri

Tak hanya berperan sebagai bintang utama, film yang di Indonesia dirilis pada 1 Januari 2025 ini juga disutradari oleh Donnie Yen. Ia juga menjadi produser bersama sineas kawakan Raymond Wong Pak-ming. Sementara naskah ditulis Edmond Wong.

Di awal film, penonton disuguhi adegan menegangkan ketika Fok yang masih menjadi polisi memimpin penggerebekan. Aksi tembak-menembak dan pertarungan sengit dipertontonkan.

Pengambilan sudut gambar di film berdurasi hampir dua jam ini tak kalah menarik. Pada beberapa adegan, kamera menyorot tangan Fok yang sedang memegang senjata api layaknya di video game.

Salah satu adegan dalam film “The Prosecutor”

Untuk urusan aksi laga, ketika Donnie Yen berperan di dalamnya, tentu tak perlu diragukan lagi. Tak hanya di awal film, sepanjang film, penonton terus disuguhi berbagai aksi pertarungan yang tak membosankan. Salah satunya seperti saat Fok yang sedang mengungkap kasus Ma Ka-kit diserang komplotan sindikat narkoba.

Quote

Donnie Yen juga tak tampak seperti pria berusia 61 tahun pada umumnya. Ia terlihat tetap bugar dan penuh energi.

Dan berbeda dengan akting Donnie Yen di film Ip Man yang fokus pada seni bela diri Wing Chun, kali ini ia bereksperimen dengan berbagai unsur bela diri campuran. Alhasil, koreografi aksinya terlihat variatif, tidak monoton. Penonton bisa terlepas dari bayang-bayang Ip Man.

Donnie Yen juga tak tampak seperti pria berusia 61 tahun pada umumnya. Ia terlihat tetap bugar dan penuh energi. Sayangnya, audio saat pertarungan terkesan berlebihan sehingga kurang natural.

Tak hanya aksi laga, penonton juga disuguhi alur cerita berliku dengan tempo cepat. Pengambilan tema kasus hukum dan keadilan cukup menarik untuk dinikmati, terutama saat proses persidangan yang jarang diangkat dalam sebuah film.

Drama yang menitikberatkan pada ketidakadilan proses hukum terhadap kaum miskin menjadi kisah yang memantik rasa haru. Film ini seperti mengingatkan bahwa kaum miskin yang tak bersalah juga perlu dibela.

Beberapa dialog jenaka dan kalimat inspiratif pun disisipkan. Seperti saat Fok membandingkan segelas minuman anggur mahal yang diberikan oleh hakim dengan penghasilan sebulan orang miskin.

Salah satu adegan dalam film “The Prosecutor”

Fok beberapa kali menyebut kejaksaan sebagai gerbang terakhir penegakan hukum. Itu seperti menggelitik praktik hukum yang selama ini hanya menyoroti putusan hakim. Padahal, peran jaksa dalam menggali perkara dan menuntut terdakwa sangat vital karena berpengaruh pada vonis.

Quote

Ketika membahas tantangan dalam memproduksi film yang fokus pada proses pengadilan dan rangkaian aksi, Wong membutuhkan waktu yang tak singkat untuk membujuk Donnie Yen.

Sayangnya, dialog yang diucapkan di film ini, khususnya di persidangan terlalu cepat. Bagi penonton yang mengandalkan teks terjemahan, itu sangat melelahkan dan beberapa kali tertinggal ketika belum selesai membaca setiap kalimat. Terlebih, tidak semua penonton memahami bahasa hukum.

Dikutip dari Chinadaily.com.cn, saat pemutaran perdana film di Beijing, China pada 15 Desember 2024, Raymond Wong menyampaikan bahwa berdasarkan penelitiannya, ada banyak kasus penipuan yang mirip dengan yang digambarkan film ini. Ada lebih dari 1.000 kasus yang dilaporkan setiap tahunnya.

Ketika membahas tantangan dalam memproduksi film yang fokus pada proses pengadilan dan rangkaian aksi, Wong membutuhkan waktu yang tak singkat untuk membujuk Donnie Yen. “Saya menghabiskan waktu dua bulan untuk membujuk Yen agar mau bergabung dalam proyek ini,” ungkap Wong.

Meski awalnya ragu-ragu, Donnie Yen yang telah bermain di lebih dari 80 film selama empat dekade itu, akhirnya memutuskan memimpin produksi dan membintangi The Prosecutor. Ia ingin melepaskan diri dari bayang-bayang film laga tradisional.

Film ini diharapkan bisa membangkitkan kembali apresiasi penonton terhadap sinema Hong Kong yang telah dikritik karena kurang inovasi dan kreativitas dalam beberapa tahun terakhir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prayogi Dwi Sulistyo
 | 

Editor:

Dwi AS Setianingsih, Moh. Hilmi Faiq
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase