Kereta anjlok dan gangguan suplai listrik adalah peringatan keras bagi Kereta Api Indonesia. Perlu tindakan preventif pada kondisi sarana dan prasarananya.
26 Okt 2025 13:24 WIB · Metropolitan
Rangkaian kereta LRT Jabodebek melaju seperti biasa saat baru bertolak dari Stasiun Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (25/10/2025). Tak ada tanda-tanda gangguan sampai tiba-tiba kereta berhenti.
Sejurus kemudian terdengar pengumuman. Rangkaian mengalami gangguan operasional. Penumpang akan dievakuasi melalui pinggir rel.
”Saya dan penumpang lain bertahan selama 30 menit di kereta sebelum dievakuasi. Kami berjalan dari pinggir rel (walkaway) sampai ke Stasiun Cawang,” tutur Rasendriya (19), Minggu (26/10/2025).
Rasendriya satu dari 653 penumpang LRT Jabodebek yang mengalami gangguan pada pada Sabtu pukul 08.41 WIB. Manajemen melaporkan terjadi gangguan pada sistem third rail sebagai penyuplai listrik bagi kereta sehingga semua perjalanan tidak dapat berlangsung saat itu.
Pagi itu Rasendriya berangkat dari Jatibening menuju Pancoran, Jakarta Selatan. Perjalanan kelihatan normal sampai Stasiun Halim. Namun, kereta tiba-tiba berhenti dalam perjalanan ke arah Cawang, Jakarta Timur.
Ia sempat mengira ada kereta menuju ke Taman Mini Indonesia Indah. Sebab, kereta akan bergantian untuk mendahului.
”Tapi pas nengok keluar jendela kok enggak ada kereta yang belok ke arah Taman Mini Indonesia Indah. Kami baru tahu ada gangguan setelah pengumuman dari speaker. Yang bikin kaget itu gangguan ke seluruh kereta,” ujar Rasendriya.
Lebih kurang setengah jam mereka berada di dalam kereta. Kemudian terdengar pengumuman evakuasi melalui walkaway.
Train attendant dan beberapa petugas keamanan menuntun penumpang keluar dari gerbong paling depan. Mereka lalu berjalan perlahan sampai ke Stasiun Cawang.
”Ini untuk pertama kalinya saya mengalami kendala sampai harus dievakuasi seperti kemarin. Ada sekitar 20 menit kami jalan sampai ke peron 4 Stasiun Cawang,” kata Rasendriya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/26/cda71cae-c0e1-34de-bc6c-e864c2c17333_jpg.jpg)
Sebelumnya ia pernah mengalami gangguan kereta tidak berhenti persis di pintu masuk-keluar peron, berganti kereta karena masalah teknis, dan lainnya. Namun, LRT Jabodebek masih jadi andalannya karena paling terjangkau dari akses untuk ke Jakarta dengan angkutan umum.
Oleh sebab itu, ia berharap manajemen meningkatkan keandalan layanannya. Bukan soal kerugian waktu semata, melainkan keamanan dan keselamatan pengguna.
Siang harinya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta melaporkan dua kereta bagian belakang dari rangkaian KA 58F Purwojaya relasi Gambir-Kroya anjlok saat melintas di emplasemen Stasiun Kedunggedeh Kilometer 56+1/2.
Terdapat 232 penumpang dalam insiden yang terjadi pukul 14.14 WIB. Gangguan itu berdampak pada hanya satu jalur yang bisa dilewati secara terbatas.
Lewat akun resminya pada Minggu pagi, manajemen mengumumkan bahwa proses evakuasi telah selesai. Jalur hulu yang sebelumnya terdampak kini dinyatakan aman dan dapat dilalui kembali dengan kecepatan terbatas.
Pukul 04.47 WIB, KA Parahyangan menjadi kereta pertama yang melintas. Manajemen memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat gangguan perjalanan.
”Dua kejadian ini harus jadi hard alert, peringatan keras untuk KAI,” ujar Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Aditya Dwi Laksana ketika dihubungi terpisah.
Gangguan sistem third rail pada LRT Jabodebek wajib dicegah. Ada risiko saat evakuasi penumpang melalui bidang sempit di titik ketinggian dari permukaan tanah.
”Tentu akan sangat kurang berkeselamatan bila terjadi dalam kondisi hujan. KAI perlu meninjau kembali sistem ketersediaan cadangan energi listrik dan proses evakuasi yang lebih berkeselamatan,” ujar Aditya.
Sama halnya dengan kejadian kereta anjlok lantaran berselang tiga bulan sejak terjadi pada KA Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasar Turi-Gambir. Kereta tersebut anjlok di emplasemen Stasiun Pegadenbaru pada 1 Agustus 2025 pukul 15.47 WIB.
Aditya mengatakan, musabab anjloknya kereta pada Agustus belum jelas, tetapi sudah terjadi lagi. Meskipun tidak ada korban jiwa, kereta anjlok sangat mengganggu kelancaran dan kenyamanan perjalanan dan menimbulkan trauma bagi penumpang.
”Kejadian ini tidak boleh berulang, harus ada tindakan preventif terukur pada kondisi sarana dan prasarana KA serta memastikan pula bahwa batas kecepatan aman telah dipatuhi, pemantauan ketat terhadap potensi rel patah, pemuaian rel, rel melengkung, fondasi rel ambles, ataupun malafungsi wesel pemindah jalur,” kata Aditya.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) intensif memastikan hal-hal di atas. Demikian pula pada pemeriksaan kondisi rangka bawah kereta agar sekali lagi kejadian serupa bisa dihindari karena dalam waktu berdekatan.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan