Gara-gara penutupan Selat Hormuz, industri pelayaran di masa depan akan takut berbisnis. Mereka akan butuh jaminan keamanan yang kredibel.
02 Apr 2026 09:00 WIB · Internasional
AFP/SEPAHNEWS
Meski ujung perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran belum tampak, dunia sudah bersiap-siap atas dampak jangka panjang dari konflik di Timur Tengah. Bisnis industri pelayaran global menjadi salah satu yang paling terdampak.
Perang telah mendorong Iran menutup Selat Hormuz. Sebagai jalur pelayaran dari seperlima pasokan minyak dan gas dunia, aksi ini membuat harga minyak bergejolak.
Jika suatu saat perang berakhir, selat ini bisa kembali beroperasi sehingga kapal-kapal kembali berlayar. Namun, menurut para ahli, gangguan terhadap pasokan global akan tetap terasa untuk waktu lama.
”Ketika perang secara resmi berakhir, itu tidak berarti bahwa perang berakhir untuk logistik karena pekerjaan sebenarnya baru dimulai. Kita masih akan melihat gangguan pada rantai pasokan yang menuju dan dari Teluk Persia,” kata Nils Haupt, Direktur Senior untuk Komunikasi Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran Jerman kepada Al Jazeera edisi Selasa (31/3/2026).
Perang membuat perusahaan-perusahaan energi di negara-negara Teluk harus menghentikan produksi. Jalur distribusi yang tersendat membuat kapasitas penyimpanan kewalahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/0219c6fd6f7b4f0d0bdec8d98086436f-000_98WM26B.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/17/8f1a9c00-5d25-4f10-a4a0-e80764685a8b_jpg.jpg)
Selain itu, menurut Badan Energi Internasional (IEA), lebih dari 40 aset energi di seluruh Timur Tengah telah ”rusak parah atau sangat parah”. Sejumlah perusahaan, seperti QatarEnergy, Kuwait Petroleum Company, dan Bapco Energies Bahrain, bahkan menyatakan keadaan kahar (force majeure) karena gangguan produksi.
Perang juga mengganggu ekspor sejumlah besar petrokimia, pupuk, dan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan plastik.
”Meski fasilitas logistik nanti beroperasi dengan kapasitas penuh, akan butuh waktu untuk menyelesaikan tumpukan minyak, gas, dan barang-barang lain yang dibongkar dari kapal,” ujar Svein Ringbakken, Direktur Pelaksana Asosiasi Risiko Perang Pemilik Kapal Norwegia (DNK).
Ringbakken melanjutkan, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan rantai pasokan pengiriman ke tahap normal. ”Ditambah lagi kerusakan pada fasilitas produksi dan infrastruktur pelabuhan. Semua ini menambah inefisiensi ketika selat dibuka,” ucapnya.
Sebelum perang, menurut DW, 130-140 kapal melewati Selat Hormuz per hari. Saat ini, ada sekitar 2.000 kapal terdampar, menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO). Dari jumlah tersebut, sekitar 400 kapal berada di Teluk Oman.
Analisis dari Transport & Environment (T&E) di Eropa memperkirakan, industri pelayaran global merugi sekitar 340 juta euro per hari akibat konflik di kawasan Teluk. Sebab, perusahaan mesti mengeluarkan biaya tambahan untuk kapal-kapal yang kebanyakan masih menggunakan bahan bakar fosil.
IMO juga menyatakan, setidaknya terjadi 18 serangan terhadap kapal di seluruh Teluk sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Belakangan, Iran mengizinkan segelintir kapal berlayar dari negara-negara yang dianggap bersahabat, seperti China dan Pakistan.
Kantor berita Fars memberitakan, parlemen Iran pada pekan ini menyetujui undang-undang untuk mengenakan tarif tol terhadap kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz dengan aman. Walau ada negara yang mengaku tidak mendapat pungutan, satu kapal dilaporkan membayar 2 juta dolar AS untuk hak transit, menurut Lloyd’s List.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
Melihat situasi saat ini, kapal-kapal lain telah mengalihkan jalur pelayaran ke Terusan Suez. Walau biaya pengiriman naik 30-70 persen, ada pula yang memilih jalur mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika Selatan, seperti dari Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd. Alhasil, The New York Times memberitakan, lalu lintas di Afrika Selatan meningkat.
Sementara itu, pengiriman minyak dari Arab Saudi beralih ke jalur Laut Merah. Namun, upaya ini juga tidak dijamin sukses. Perusahaan pelayaran sempat menangguhkan operasi di perairan ini akibat serangan Houthi di Yaman pada akhir tahun 2023.
Meski pelayaran akhirnya berlanjut, lalu lintas masih di bawah level sebelum tahun 2023. Ditambah lagi, Houthi sudah mengumumkan resmi terlibat dalam perang untuk mendukung Iran, akhir Maret lalu. Ancaman terhadap keselamatan pelayaran di laut itu semakin tinggi.
”Masih ada banyak kekhawatiran tentang keberlanjutan gencatan senjata atau de-eskalasi konflik, dan itu adalah sesuatu yang telah kita pelajari dari serangan Houthi di Laut Merah. Situasinya sangat tidak menentu,” ujar Nick Marro, analis utama perdagangan global di Economist Intelligence Unit.
SV Anchan, Ketua Grup Safesea, sebuah perusahaan logistik asal AS, menyatakan, penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan pertanyaan jangka panjang tentang bagaimana industri pelayaran akan berbisnis di masa depan. Dari sudut pandang industri, masalah di selat telah melampaui isu akses semata.
”Munculnya ancaman asimetris, termasuk serangan pesawat nirawak, telah secara fundamental mengubah perhitungan risiko. Bahkan setelah selat dibuka penuh, situasi tetap akan membutuhkan periode stabilitas berkelanjutan agar bisa kembali mencapai level normal,” tutur Anchan.
Anchan menambahkan, pemilik kapal, penyewa kapal, dan perusahaan asuransi akan mencari konsistensi, jaminan keamanan yang kredibel, dan kerangka kerja risiko yang terstruktur. Jika tiga aspek ini tidak terpenuhi, belum tentu mereka mau kembali melakukan bisnis berskala besar.
Direktur Jenderal Chartered Institute of Export and International Trade, Marco Forgione, menyampaikan, pukulan kepercayaan terhadap industri pelayaran akan berlangsung lama. Industri memerlukan jaminan keamanan yang cukup besar karena Teheran mampu menghentikan pengiriman barang hanya dengan ancaman.
”Membangun kembali kepercayaan pengirim barang terhadap keamanan selat ini bisa memakan waktu bertahun-tahun,” kata Forgione.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/26/f6728477-d6bc-40e6-a0ee-30372c8f6f85_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/f63c9903-4b32-408c-baa0-b13048a859b0_jpg.jpg)
Untuk saat ini, asuransi telah menjadi elemen penting bagi industri pelayaran. Namun, premi untuk lambung kapal dan kargo melonjak hingga 300 persen. ”Perusahaan pelayaran hanya dapat menyerap kenaikan ini untuk jangka waktu tertentu,” lanjut Forgione.
Oscar Seikaly, CEO NSI Insurance Group, menegaskan, premi asuransi, khususnya terkait risiko perang, bisa kembali ke tarif normal apabila resolusi perdamaian tercapai secara permanen dengan jaminan keamanan 100 persen. ”Bukan sebagian atau 90 persen saja,” katanya.
Jaminan keamanan membutuhkan operasi pengawalan angkatan laut multinasional yang kredibel. Oleh sebab itu, jaminan itu berpotensi melibatkan kapal perang AL, patroli udara, dan kapal pembersih ranjau. Sejauh ini, Jerman, Perancis, dan Inggris sudah bersedia untuk menyediakan patroli keamanan di selat setelah perang usai.
Marro menambahkan, penutupan Selat Hormuz memberi pelajaran kepada industri untuk mendiversifikasi rute perdagangan, seperti yang terjadi saat pandemi Covid-19, perusahaan mencari pasokan lain dari China. ”Mengingat ketidakpastian geopolitik sekarang, langkah ini akan menjadi aspek penting dari manajemen risiko, bukan hanya respons sementara terhadap perang Iran,” katanya.
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul