Bukan hanya faktor musiman, rupiah juga menghadapi tekanan dari gejolak eksternal. Risikonya, rupiah akan menembus Rp 17.000 saat pasar dibuka seusai Lebaran.
21 Mar 2026 10:50 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Libur Lebaran telah tiba. Gedung-gedung perkantoran sepi ditinggalkan pekerja yang mudik pulang kampung. Begitu pula dengan pasar keuangan yang dijadwalkan tutup selama sepekan dan baru akan dibuka kembali pada 25 Maret 2026.
Bagi masyarakat, libur Lebaran menjadi momentum untuk merajut kembali atau mempererat tali silaturahmi dengan sanak saudara. Namun, bagi pasar keuangan domestik, libur Lebaran justru menyimpan tantangan tersendiri.
Selama periode libur Lebaran, seluruh kegiatan operasional di pasar keuangan domestik turut diliburkan. Sejalan dengan itu, kegiatan operasi moneter di pasar keuangan domestik oleh Bank Indonesia (BI) juga ditiadakan.
Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, nilai tukar rupiah cenderung melemah begitu pasar kembali dibuka. Setelah pasar keuangan domestik libur selama 28 Maret-7 April, rupiah terdepresiasi hingga 1,57 persen ke level Rp 16.849 per dolar AS pada 8 April 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/0672a1a47f95e71c19cf357fc894d134-FAK_5579.jpg)
Kondisi serupa juga terjadi tahun lalu saat pasar tutup selama 8-16 April 2024. Saat perdagangan kembali dibuka pada 17 April 2024, rupiah ditutup di level Rp 16.176 per dolar AS atau melemah sebesar 1,9 persen dibandingkan dengan penutupan terakhir sebelum libur Lebaran 2024.
Melalui keterangan resminya, BI telah menetapkan jadwal libur kegiatan operasional pada periode hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah, yakni selama 18-24 Maret 2026. Hal ini mengacu pada ketentuan pemerintah mengenai Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
Selama periode tersebut, BI meniadakan seluruh kegiatan transaksi operasi moneter rupiah dan valuta asing (valas). Operasi moneter akan kembali berjalan normal ketika pasar kembali dibuka, yakni pada Rabu (25/3/2026).
Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), kurs rupiah pada 17 Maret 2026 atau perdagangan terakhir sebelum libur berada di level Rp 16.982 per dolar AS.
Lantas, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, akankah nilai tukar rupiah melemah saat pasar kembali dibuka nanti?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/99973d30139f954ee69c7dd2d6fa0f5e-20260309_H01_ADI_Harga_minyak_2026_mumed.png)
Tahun ini, tekanan yang dihadapi rupiah lebih berat. Bukan hanya faktor musiman, gejolak eksternal akibat perang di Timur Tengah turut membawa tekanan tambahan bagi nilai tukar. Dengan kata lain, rupiah berisiko melemah lebih dalam dari sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, pola tersebut mengindikasikan adanya risiko pelemahan rupiah setelah libur panjang Lebaran tahun ini. Bahkan, nilai tukar rupiah saat ini cenderung lebih rentan daripada pola musiman biasanya.
”Penyebabnya bukan semata faktor libur, melainkan karena ketika pasar domestik berhenti, tekanan global tetap berjalan dan tahun ini tekanannya sedang berat,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan dapat menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Level ini pun dapat menjadi normal baru apabila lonjakan harga minyak terus bertahan, arus modal asing terus keluar, dan arah kebijakan The Fed tetap berhati-hati.
Pada saat yang sama, sentimen terhadap mata uang Asia memburuk akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Dengan kondisi seperti ini, rupiah cenderung akan tertekan hingga di atas level Rp 17.000 per dolar AS saat pasar kembali dibuka.
Meski demikian, Josua belum melihat level Rp 17.000 per dolar AS tersebut sebagai titik keseimbangan baru yang akan bertahan lama. Berdasarkan baseline skenario 2026, rupiah rata-rata akan berada di sekitar Rp 16.755 per dolar AS dengan posisi pada akhir tahun sekitar Rp 16.708 per dolar AS.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan dapat menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Level ini pun dapat menjadi normal baru apabila lonjakan harga minyak terus bertahan, arus modal asing terus keluar, dan arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), tetap berhati-hati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/e28e59469bcfeb962503279420f3fb30-20260217PRI10HR.jpg)
Menurut Josua, pelemahan nilai tukar tersebut akan memukul sektor riil, terutama dari sisi kenaikan biaya. Dalam hal ini, perusahaan yang bergantung dengan impor dan utang dalam dolar AS akan menghadapi tekanan ongkos produksi, modal kerja, serta laba apabila tidak menyesuaikan harga.
Terdapat beberapa sektor yang cenderung sensitif dengan perkembangan tersebut, mulai dari transportasi, manufaktur, farmasi, makanan minuman, kimia, alat berat, hingga konstruksi. Ujungnya, masyarakat berisiko ikut menanggung beban ini.
”Rumah tangga pun bisa ikut merasakan tekanan lewat kenaikan harga barang impor, ongkos angkut, dan pada akhirnya harga pangan jika biaya pupuk dan distribusi ikut naik,” ujar Josua.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman berpendapat, risiko pelemahan rupiah setelah Lebaran 2026 cukup tinggi seiring dengan tekanan eksternal dan liburnya pasar keuangan domestik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/0ab91106f831e1a2c143ad4cf440ae38-20260302AGS_24.jpg)
Apalagi, sebelum libur Lebaran, posisi nilai tukar rupiah telah menembus level Rp 16.900 per dolar AS. Dengan titik awal yang tidak ideal ini, rupiah berisiko menguji level Rp 17.000 per dolar AS yang mencerminkan tekanan pasar akibat faktor eksternal dan kekhawatiran fiskal domestik.
”Dampaknya ke sektor riil cukup signifikan, terutama bagi industri berbasis impor dan energi yang menghadapi kenaikan biaya produksi. Tekanan juga menjalar ke sektor logistik dan transportasi, serta berpotensi menekan daya beli melalui imported inflation. Akibatnya, konsumsi non-esensial cenderung melemah,” tuturnya.
Di lain pihak, BI merespons berbagai risiko tersebut dengan tetap mempertahankan suku bunga BI Rate di level 4,75 persen pada Maret 2026. Selain itu, BI juga berkomitmen menempuh intervensi melalui operasi moneter di pasar keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Stabilitas rupiah sangat bergantung pada sinergi kebijakan moneter dan kredibilitas fiskal, bukan hanya intervensi BI semata.
Menurut Rizal, langkah stabilisasi yang akan ditempuh oleh BI tersebut memiliki biaya. Hal ini tecermin dari penurunan cadangan devisa. Dengan kata lain, intervensi tidak bisa menjadi satu-satunya instrumen bagi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
”Stabilitas rupiah sangat bergantung pada sinergi kebijakan moneter dan kredibilitas fiskal, bukan hanya intervensi BI semata,” ujarnya.
Apabila berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, cadangan devisa selalu turun setelah periode libur Lebaran. Per akhir April 2025, cadangan devisa tercatat sebesar 152,5 miliar dolar AS atau turun 4,6 miliar dolar AS dibandingkan Maret 2025. Pada periode yang sama, cadangan devisa per April 2024 turun 4,2 miliar dolar AS menjadi 136,2 miliar dolar AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/577f4fa038d9de9ef224b9f6ca5c770b-FAK_5393.jpg)
Dihubungi secara terpisah, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpendapat, tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya berasal dari eksternal seiring dengan menguatnya dolar AS akibat tensi geopolitik global.
Dari sisi domestik, pengelolaan anggaran oleh pemerintah pun turut memicu sentimen terhadap investor asing. Sentimen ini merujuk kepada rencana efisiensi anggaran pemerintah, kecuali bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, serta belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista).
”Kebijakan tersebut kemungkinan akan membuat di dalam negeri bergejolak dan ini akan membuat rupiah melemah,” katanya.
Sejak perang di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran pecah pada 28 Februari 2026, investor asing di pasar keuangan domestik hingga 12 Maret 2026 telah mencatatkan jual neto Rp 12,5 triliun. Keluarnya investasi asing itu terutama di pasar saham dan pasar surat berharga negara (SBN).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/17/25f4f91f9348370b328d56ac1cee2216-Screenshot_2026_03_17_150647.png)
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menyampaikan, BI akan senantiasa menjaga stabilitas rupiah sepanjang libur Lebaran 2026 untuk mengantisipasi gejolak pasar global yang meningkat akibat konflik Timur Tengah.
”Memang pasar domestik tutup, tetapi pasar di luar negeri itu tidak tutup. Nah, ini yang kami terus berjaga-jaga 24 jam. Kami terus memantau pasar, yang dalam hal ini kami lihat melalui pasar NDF (non-deliverable forward),” katanya dalam konferensi pers daring, Selasa (17/3/2026).
Selanjutnya, BI juga akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal terhadap kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah. Langkah ini termasuk penyesuaian kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Terbaru, BI juga akan memperkuat kebijakan transaksi pasar valas dengan menerapkan penyesuaian batas atas (threshold) tunai beli valas terhadap rupiah. Kebijakan ini akan mulai diterapkan pada April 2026.
Beberapa penyesuaian itu meliputi pembatasan pembelian tunai valas rupiah, dari 100.000 dolar AS per pelaku per bulan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan; serta penjualan DNDF (domestic non-deliverable forward) dan jual-beli swap, dari 5 juta dolar AS per transaksi menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Kebijakan ini diklaim bukan untuk membatasi transaksi pembelian valas, melainkan untuk memperkuat kewajiban penyertaan dokumen underlying. Dengan kata lain, pembelian tunai valas di atas 50.000 dolar AS dapat dilakukan dengan syarat wajib menyertakan dokumen underlying.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra