Ketika Tanah, Hutan, dan Lautan Tak Bisa Lagi Menyerap Emisi

Emisi gas rumah kaca yang kita lepaskan telah melebihi kemampuan tanah, hutan, dan lautan dalam menyerapnya, menyebabkan suhu Bumi terus memanas.

12 Mei 2025 14:18 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

Suhu global pada April 2025 tertahan pada titik tertinggi, memperpanjang rekor panas yang telah berlangsung sejak pertengahan 2023. Kecuali satu dari 22 bulan terakhir, suhu Bumi telah melampaui 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri, batas pemanasan yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Dalam buletin terbarunya, Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa, Copernicus menyatakan bahwa April 2025 menjadi bulan terpanas kedua dalam kumpulan data yang diambil dari miliaran pengukuran dari satelit, kapal, pesawat terbang, dan stasiun cuaca. Suhu rata-rata atmosfer pada April kali ini mencapai 1,51 derajat celsius lebih panas dibandingkan rata-rata tahun 1850-1900.

Suhu panas juga terukur di permukaan laut, rata-rata mencapai 20,89 derajat celsius. Ini menandai rekor terpanas kedua dalam sejarah pencatatan, hanya 0,15 derajat celsius di bawah bulan April 2024.

Quote

Sekarang tinggal empat tahun lagi. Kenyataannya adalah kita akan melampaui 1,5 derajat.

Lonjakan panas yang ekstrem di Bumi saat ini dimulai pada Juni 2023 saat El Nino mulai terjadi dan mencapai puncaknya pada Desember 2023 dan berakhir pada Mei 2024. Sekitar November 2024, tercatat La Nina yang kemudian meluruh pada awal tahun ini hingga kondisi ENSO netral. Sekalipun dalam kategori lemah, La Nina sebenarnya diharapkan bisa kembali mendinginkan suhu Bumi.

Anomali suhu udara permukaan pada bulan April 2025 dibandingkan dengan rata-rata bulan April untuk periode 1991–2020.

Nyatanya, suhu tetap bertahan di level tertinggi. ”Dan, kita tampaknya tertahan di sana (suhu tinggi). Apa yang menyebabkan (ini) tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, tetapi ini merupakan tanda yang sangat mengkhawatirkan,” kata Johan Rockstrom, Direktur Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim, merespons laporan terbaru Copernicus, seperti dilaporkan AFP pada Kamis (8/5/2025).

Dengan tren saat ini, banyak ilmuwan iklim khawatir bahwa kita tak bisa lagi menahan laju kenaikan suhu untuk tidak melebihi 1,5 derajat celsius secara permanen. Hanya dalam hitungan tahun, Bumi diperkirakan bakal melewati ambang batas berbahaya ini tanpa ada jalan kembali.

Sebuah studi besar oleh puluhan ilmuwan iklim terkemuka, yang belum ditinjau sejawat, baru-baru ini menyimpulkan bahwa pemanasan global (secara permanen) telah mencapai 1,36 derajat celsius pada 2024. Sementara itu, Copernicus memperkirakan angka saat ini sudah sebesar 1,39 derajat celsius dan memproyeksikan kenaikan suhu 1,5 derajat celsius dapat tercapai pada pertengahan tahun 2029 atau lebih cepat berdasarkan tren pemanasan selama 30 tahun terakhir.

”Sekarang tinggal empat tahun lagi. Kenyataannya adalah kita akan melampaui 1,5 derajat,” kata Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa yang mengelola Copernicus.

Gagal menyerap karbon

Pemanasan suhu yang berkepanjangan saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor alami siklus ENSO, tetapi terutama oleh perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca yang terus meningkat. Global Carbon Project memperkirakan aktivitas manusia melepaskan rekor tertinggi sebesar 10,2 gigaton karbon (GtC) pada tahun 2024.

Konsentrasi CO₂ di atmosfer tahun lalu meningkat pada tingkat tercepat yang pernah tercatat. Selama dekade terakhir, CO₂ di atmosfer meningkat rata-rata 2,4 bagian per juta (ppm) per tahun. Namun, tahun lalu, konsentrasi melonjak sebesar 3,5 ppm, mencapai 424 ppm di atmosfer. Konsentrasi ini setidaknya 50 persen lebih tinggi daripada periode pra-industri.

Selain karena kita terus membakar lebih banyak bahan bakar fosil, lonjakan emisi baru-baru ini ternyata juga disebabkan oleh menurunnya kemampuan penyerap karbon alami. Bumi sebenarnya memiliki cara alami untuk menangani karbon dioksida.

Tumbuhan, tanah, dan lautan adalah ”penyerap” karbon—semuanya menyerap karbon dari atmosfer dan menyimpannya. Issy Borley, peneliti Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation, dalam tulisannya bersama tim di The Conversation pada 8 Mei 2025 mengibaratkan tumbuhan, tanah, dan lautan ini seperti lubang pembuangan bak mandi. Sementera itu, emisi yang kita lepaskan adalah keran yang dinyalakan.

”Masalahnya adalah kita mengisi bak mandi dengan CO₂ jauh lebih cepat daripada penyerap karbon Bumi dapat menariknya keluar. Akibatnya, konsentrasi CO₂ di atmosfer meningkat. Konsentrasi CO₂ di atmosfer itu penting karena itulah yang sebenarnya memengaruhi iklim,” katanya.         

Seorang wanita menyemprotkan air dengan alat pertaniannya untuk mencegah kebakaran meluas di Uiseong, Korea Selatan, pada 24 Maret 2025. Pihak berwenang Korea Selatan mengerahkan puluhan helikopter, ribuan petugas pemadam kebakaran dan tentara untuk mengendalikan beberapa kebakaran hutan di tenggara, yang telah terbakar selama berhari-hari.

Setiap tahun, lautan, hutan, dan tanah menyerap sekitar setengah dari emisi yang dihasilkan manusia. Namun, angka ini bisa berubah seiring dengan perubahan sistem Bumi.

Misalnya, tanaman yang tumbuh lebih banyak pada tahun-tahun basah akan menyimpan lebih banyak karbon dalam strukturnya melalui fotosintesis dan pertumbuhan. Namun, perubahan iklim membuat kebakaran lebih intens dan lebih sering terjadi.

Saat pohon terbakar, mereka melepaskan karbon yang tersimpan kembali ke atmosfer. Emisi dari kebakaran hutan besar-besaran di Kanada pada tahun 2023 dan Amerika Selatan pada tahun 2024 kemungkinan berkontribusi terhadap lonjakan CO₂ di atmosfer.

Temuan awal oleh tim peneliti internasional yang dipimpin Piyu Ke dari Department of Earth System Science, Tsinghua University, menunjukkan jumlah karbon yang diserap oleh daratan telah menurun sementara. Hasil akhirnya, hutan, tanaman, dan tanah  hampir tidak menyerap karbon pada 2023.

Menurut Borley, kekeringan parah di belahan bumi utara pada tahun 2024 juga mengurangi kemampuan tanah dan kehidupan tanaman di planet ini untuk menyerap dan menyimpan CO₂.

Jadi, kemampuan penyerapan karbon bergantung pada kondisi lingkungan, yang sebagian besar berada di luar kendali kita. Saat perubahan iklim memburuk, kapasitas penyerapan karbon alami untuk mengurangi emisi kita kemungkinan akan berkurang.

Dalam analogi bak mandi, air keluar dari bak mandi melalui lubang pembuangan. Jika lubang pembuangan menyempit, lebih sedikit air yang bisa keluar dan bak mandi kita akan terisi lebih cepat.

Maka, tuas utama yang masih dapat kita kendalikan adalah keran di bak mandi, yaitu emisi yang kita hasilkan. Sekalipun banyak negara kini memangkas emisi mereka, itu belum cukup untuk memulai penurunan tajam dalam konsentrasi yang kita butuhkan.

Gambar tersebut menunjukkan jumlah kumulatif gelombang panas yang dihadapi sejak lahir oleh anak-anak yang lahir di Belgia pada tahun 2020 di bawah tiga skenario perubahan iklim, yang masing-masing mencapai 1,5°C (biru), 2,5°C (oranye), dan 3,5°C (merah) pemanasan global pada tahun 2100. Ambang batas paparan yang belum pernah terjadi sebelumnya (garis abu-abu putus-putus) sebagian besar telah terlampaui, yang menyiratkan bahwa anak-anak di lokasi ini akan menghadapi paparan gelombang panas seumur hidup yang belum pernah terjadi sebelumnya terlepas dari skenarionya.

 

Belajar dari pemulihan lubang ozon

Kita mungkin perlu belajar dengan keberhasilan dalam menambal kembali lubang ozon. Pada tahun 1980-an, lapisan ozon pelindung Bumi yang tipis—hanya 10 bagian per juta—digerogoti oleh klorofluorokarbon (CFC) dan bahan kimia lain dalam lemari es, AC, dan kaleng aerosol.

Para ilmuwan saat itu memperingatkan, membesarnya lubang ozon bakal menyebabkan sinar ultraviolet matahari lebih banyak mencapai ke permukaan Bumi, yang bisa menyebabkan kanker kulit dan efek kesehatan buruk lain.

Pada tahun 1989, negara-negara di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menandatangani Protokol Montreal untuk berkomitmen mengganti bahan kimia perusak ozon. Hasilnya, laporan di jurnal Nature pada Mei 2025 menunjukkan, lubang ozon mulai tertutup kembali dan diperkirakan bakal sepenuhnya pulih pada 2035.

Belajar dari kasus itu, kita bisa melihat bahwa ulah manusia yang menjadi penyebab lubang ozon, sekaligus juga manusia berhasil memulihkannya kembali. Dari praktik ini kita bisa melihat bahwa manusia memegang kunci penting dalam memecahkan masalah lingkungan. Itu hanya bisa jika terjadi komitmen bersama secara global.

Masalahnya, ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil jauh lebih tinggi daripada CFC. Kabar baiknya, sejumlah alternatif sumber energi bersih sudah tersedia. Tinggal apakah generasi saat ini, yang memegang tampuk kekuasaan politik dan ekonomi, berkomitmen untuk mewariskan Bumi yang masih layak huni bagi generasi penerus atau tidak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan