Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menemui Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Istana Wapres. Apa saja yang mereka bahas?
03 Apr 2026 20:24 WIB · Politik & Hukum
INSTAGRAM SEKRETARIAT KABINET
Untuk pertama kali, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memublikasikan pertemuan empat mata dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Melalui empat foto dan sebuah video, Teddy mendokumentasikan pertemuannya dengan Gibran di akun Instagram @sekretariat.kabinet. Keduanya tampak berbincang sambil membawa kertas, buku catatan, dan pulpen, hingga berpamitan sembari saling memberi hormat.
Sejumlah foto itu diunggah pada Jumat (3/4/2026) siang. Namun, dalam keterangan foto, Teddy menceritakan bahwa ia bertemu dengan Wapres di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (2/4/2026) malam, masih dalam nuansa bulan Syawal dan Lebaran 2026.
Meskipun demikian, Teddy mengakui, keduanya juga membahas berbagai isu aktual. Perbincangan pun berlangsung tidak sebentar, sekitar 1,5 jam. ”Dalam pertemuan selama kurang lebih 1,5 jam ini dibahas juga berbagai perkembangan terkini di Tanah Air,” ungkapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/03/a20475c7c6c7e732bbf73eff49d2f0f0-IMG_8920.jpeg)
Kompas telah menghubungi Staf Khusus Wapres, Tina Talisa, untuk mengonfirmasi pertemuan tersebut. Namun, hingga Jumat malam, Tina tidak menjawab pertanyaan yang disampaikan melalui pesan singkat daring.
Pertemuan antara Seskab dan Wapres berlangsung sehari setelah Presiden Prabowo Subianto kembali dari lawatan ke Jepang dan Korea Selatan. Catatan Kompas, ini merupakan kali pertama keduanya bertemu secara empat mata.
Sebelumnya, Teddy dan Gibran hanya kerap bersama dalam berbagai agenda kabinet yang dipimpin Presiden dan dihadiri banyak menteri, misalnya sidang kabinet paripurna dan pelantikan pejabat di Istana Kepresidenan.
Teddy tengah menjalankan perannya sebagai penghubung politik. Teddy berpotensi besar datang untuk menemui Gibran untuk berdialog dan mengomunikasikan sejumlah isu yang dianggap krusial oleh Presiden.
Di luar Istana, Seskab dan Wapres kerap berada dalam satu momen saat Presiden hendak bertolak atau kembali dari luar negeri. Sebelum ataupun sesudah Presiden mengadakan lawatan ke luar negeri, Wapres selalu ikut mengantar atau menjemput di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sementara Teddy ada bersama Presiden dalam semua agenda, baik di luar maupun di dalam negeri.
Dari berbagai momen yang ditampilkan ke publik, menurut Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes, intensitas pertemuan antara Teddy dan Gibran yang diketahui publik sejalan dengan frekuensi bertemunya Gibran dengan Prabowo. Seskab cenderung lebih sering bertemu dan berada bersama Presiden ketimbang Wapres.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/14/996afce8-726d-4c25-9af2-2d97a18000f4.jpg)
Tingginya intensitas pertemuan antara Seskab dan Presiden, kata Arya, menunjukkan bahwa Teddy berperan besar dalam pemerintahan Prabowo. Selain memiliki akses langsung, ia juga dipercaya oleh Presiden dalam berbagai urusan, baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan, ia juga dikabarkan mendapatkan peran ibarat kiper yang menjaga dan menjaring semua informasi sebelum masuk ke Presiden.
Di tengah konteks itu, Arya melihat bahwa Seskab juga memainkan peran sebagai penghubung politik. Ia menjadi jembatan komunikasi mengenai banyak hal kepada elite partai politik, menteri, termasuk wapres.
Tidak bisa dimungkiri, dalam setiap pemerintahan, hubungan antara presiden dan wapres kerap naik-turun. Namun, selama lebih dari 15 bulan pemerintahan Prabowo-Gibran berlangsung, Wapres cenderung memiliki peran yang terbatas.
”Saat ini dalam banyak aktivitas, terutama dalam rapat-rapat terbatas strategis, Wapres tidak pernah terlihat. Wapres hanya ikut dalam sidang kabinet paripurna yang diikuti semua menteri. Ini tentu menjadi pemandangan yang dilihat oleh masyarakat tentang terbatasnya peran Wapres,” tutur Arya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/5a44526b0134dfca1366e3fd40e06baa-IMG_20241121_163150_225.jpg)
Oleh karena itu, ia menengarai bahwa Teddy tengah menjalankan perannya sebagai penghubung politik. Teddy berpotensi besar datang untuk menemui Gibran untuk berdialog dan mengomunikasikan sejumlah isu yang dianggap krusial oleh Presiden.
Dihubungi secara terpisah, dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, A Bakir Ihsan, mengatakan, tidak bisa dimungkiri bahwa pertemuan Seskab dengan Wapres secara empat mata tidak bisa dilepaskan dari keperluan Presiden. Seskab dinilai tengah menjadi penghubung politik yang langkahnya tetap berada di bawah kendali Presiden.
Menurut Bakir, hal itu terjadi karena Presiden tengah dihadapkan pada situasi yang tidak baik-baik saja, khususnya dalam konteks global yang berdampak signifikan terhadap kehidupan ekonomi nasional. Selama ini, Presiden cenderung merasa aman dengan dirinya. Selain memiliki relasi yang cukup bagus di tingkat global, ia juga memiliki kepiawaian dalam mengelola kehidupan nasional dengan merangkul banyak kekuatan dan mengontrol para menterinya.
”Namun, politik tidak hitam putih,” ujar Bakir.
Sejumlah peristiwa yang tidak terduga sebelumnya terjadi dengan berbagai dampak. Contohnya, perang di Timur Tengah yang mengakibatkan berbagai dampak bagi kehidupan nasional. Dengan begitu, Presiden harus berpikir ulang mengenai pengelolaan pemerintahannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/05/30/b7f721fc-4885-4e2f-b2df-6109b13845f3.jpg)
Di titik itu, menurut Bakir, Presiden menyadari pentingnya dukungan kolektif dengan membagi tugas. Hal itu kian terlihat ketika Presiden mengakui bahwa dirinya merupakan pemimpin yang terlalu teknis dalam mengarahkan para menteri atau micromanage dalam forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Jepang, akhir Maret lalu.
”Ini menjadi sinyal bahwa banyak kerja yang harus diselesaikan dengan cara membagi kepercayaan kepada orang-orang di sekelilingnya, termasuk Wapres yang selama ini (seolah) sekadar ada,” tutur Bakir.
Sekalipun pertemuan Seskab dan Wapres berlangsung tertutup dan hanya diketahui publik dari dokumentasinya, momentum yang baru pertama kali terjadi itu menunjukkan dinamika di lingkar inti pemerintahan. Di tengah kebutuhan menjaga stabilitas dan mengantisipasi berbagai dampak dinamika global, muncul sinyal adanya perluasan lingkar kepercayaan dari Presiden ke orang-orang di sekitarnya. Publik menanti apakah pertemuan itu akan diikuti dengan gebrakan baru dalam penataan pemerintahan.
Penulis:
Kurnia Yunita RahayuEditor:
Anita YossiharaPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar