Putri Kusuma Wardani dan kawan-kawan harus menanti lebih lama lagi untuk mengakhiri dahaga emas beregu putri di SEA Games. Tuan rumah kembali juara.
10 Des 2025 16:40 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
PATHUM THANI, KOMPAS — Tim bulu tangkis putri Indonesia terpaksa menanti lebih lama lagi untuk merengkuh medali emas di SEA Games. Tidak seperti 18 tahun lalu, takdir baik tak menghampiri Putri Kusuma Wardani dan kawan-kawan di ”tanah impian” Thailand.
Gymnasium 4 Universitas Thammasat Kampus Rangsit, Pathum Thani, langsung riuh ketika kok pukulan ganda putri Thailand, Ornnicha Jongsathapornparn/Jhenica Sudjaipraparat, tak mampu diantisipasi wakil Indonesia Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Rabu (10/12/2025). Pukulan terakhir itu memastikan kemenangan tuan rumah atas Febriana/Trias 21-18, 21-19 sekaligus kemenangan 3-1 pada final beregu putri.
Hasil itu menegaskan bahwa Indonesia kesulitan mengimbangi Thailand yang tak terputus meraih emas sejak SEA Games edisi 2011, kecuali ketika nomor beregu tak dipertandingkan pada SEA Games Myanmar 2013. Penantian gelar untuk tim putri pun berlanjut.
Padahal, tim putri ”Merah Putih” punya ikatan istimewa dengan Thailand yang bagai ”tanah impian”. Gelar terakhir tim putri di SEA Games direngkuh pada 2007 saat pesta olahraga itu berlangsung di Thailand. Bertahun-tahun sebelumnya, tepatnya pada edisi 1985 dan 1995, Indonesia juga mampu berjaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/e9c7c50d8f213a891e5239266c8d8cfc-FAK_9090.jpg)
”Kami cukup sedih tidak bisa menyumbang poin untuk Indonesia. Tapi, banyak pelajaran yang kami ambil, terutama bahwa memang turnamen beregu dan perorangan itu sangat beda dari segi mental dan nonteknis,” kata Febriana.
Febriana/Trias dan ganda putri pertama, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum, sebenarnya jadi tumpuan karena tuan rumah di atas kertas lebih diunggulkan di sektor tunggal putri. Thailand memiliki tiga tunggal putri yang masuk ranking 12 besar dunia, yaitu Pornpawee Chochuwong (6), Ratchanok Intanon (8), dan Supanida Katethong (12).
Untuk itu, salah satu skenario agar Indonesia bisa kembali meraih juara adalah mencuri setidaknya satu kemenangan di tunggal dan dua sisanya di ganda. Skenario itu mulanya berjalan setelah Putri Kusuma Wardani yang jadi tunggal putri pertama berhasil menaklukkan Pronpawee Chochuwong, 21-8, 13-21, 21-16.
Putri mampu bangkit setelah dua kali tertinggal. Namun, sebelum ke pertandingan, Putri mengingat bahwa kemenangannya terakhir dan satu-satunya dalam sembilan pertemuan sebelumnya berhasil diraih setelah tertinggal delapan angka pada gim pertama. Pertemuan itu terjadi di perempat final Kejuaraan Piala Sudirman 2025, Mei lalu.
Setelah Putri menyumbang poin seperti di Piala Sudirman, ganda putri Rachel/Febi justru takluk dalam laga ketat melawan Benyapa Aimsaard/Supissara Pwesampran, 18-21, 21-11, 18-21. Begitu pula tunggal kedua, Gregoria Mariska Tunjung, yang tak berkutik melawan Ratchanok Intanon dengan kekalahan 21-7, 21-15.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/11d6bc9541caddaa00c7d60326a225fc-YGA_7667.jpg)
Febriana mengatakan, tidak ada beban berlebih ketika bermain dalam kondisi tim tertinggal atau sebagai ganda putri yang diunggulkan. Problemnya justru ada pada ketidakmampuan mengatasi ketegangan dan mencari jalan keluar saat lawan menyulitkan.
”Lawannya itu memang diri sendiri. Bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri, terutama saat posisi tertekan, tegang, atau tertinggal. Pada saat unggul pun, tidak kendor meskipun itu cuma satu poin. Dari awal memang harus dipersiapkan sebaik mungkin, persiapan mentalnya,” ujar Febriana.
Senada dengan Febriana, pelatih ganda putri Karel Mainaky mengatakan, persiapan mental sebelum pertandingan sangat diperlukan. Apalagi, anak-anak asuhannya itu gagal unggul karena tegang sehingga tidak bisa menerapkan pola permainan yang diinstruksikan.
Meski begitu, kata Karel, para pemain ganda putri harus bisa bangkit saat berlaga di nomor perseorangan. ”Kalau di individu, seharusnya mereka bisa bermain sedikit lepas. Saya berharap bisa mencapai yang terbaik, kalau bisa final sesama Indonesia,” ujar Karel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/8b787132e2d335fa5c78f5e9b2db7981-20251201_H14_KID_Bulu_Tangkis_mumed.png)
Sementara itu, dengan kekalahan di final, Indonesia memperpanjang penantian untuk kembali meraih gelar beregu putri di SEA Games. Sudah 18 tahun dan tujuh edisi SEA Games, Indonesia mengalami paceklik gelar dari sektor putri. Sebaliknya, Thailand begitu mendominasi.
Situasi ini berbeda ketika Indonesia berjaya, misalnya, di 2007. Tak hanya beregu putri, Indonesia bahkan menyapu bersih emas dari tujuh nomor yang dipertandingkan.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah dari Pathum Thani, ThailandEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto