BI tengah dihadapkan pada pilihan dilematis. Di tengah jalan, komitmennya sejak awal 2025 untuk mendukung momentum pertumbuhan lewat kebijakan moneter sedang diuji.
23 Apr 2025 13:01 WIB · Ekonomi
Ibarat maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Mungkin begitulah peribahasa yang kiranya dapat menggambarkan keterbatasan ruang bagi Bank Indonesia memangkas suku bunga di tengah tekanan nilai tukar rupiah.
Lembaran baru 2025 telah dibuka oleh Bank Indonesia (BI) dengan kebijakan moneter yang relatif mengendur. BI tak lagi memosisikan stabilitas di atas pertumbuhan, tetapi menyetarakan keduanya.
Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Januari 2025 memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan tingkat inflasi pada 2024 sebesar 1,57 persen atau berada di batas bawah target BI sebesar 1,5-3,5 persen.
Ke depan, laju inflasi pada 2025 dan 2026 juga diperkirakan masih tetap akan berada dalam sasaran target tersebut. Selain itu, kebijakan suku bunga juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik yang diperkirakan mampu mencapai 4,7-5,5 persen pada 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/53365420-b361-44e8-83ae-d429ab1d066e_jpg.jpg)
Hingga Maret 2025, stance kebijakan BI tak berubah. Sembari mendukung momentum pertumbuhan serta menjaga stabilitas, hasil RDG BI selama dua bulan berturut-turut masih mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam beberapa kesempatan menyebut, terjaganya inflasi telah membuka ruang pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Namun, BI masih menunggu momentum yang tepat di tengah dinamika global yang masih tidak pasti.
Apa yang disampaikan Gubernur BI memang tampak dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Selama tiga bulan beruntun, laju inflasi tahunan tidak sampai menyentuh ambang batas bawah target BI.
Pada Januari 2025, inflasi tahunan Indonesia tercatat 0,76 persen. Bahkan, pada Februari 2025, indeks harga konsumen mencatatkan deflasi tahunan sebesar 0,09 persen atau terendah selama 25 tahun terakhir. Pun demikian, inflasi tahunan pada Maret 2025 tercatat sebesar 1,03 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/08/764214c52d3ee5292586c7ea62a5d35f-Inflasi_Maret_2025.jpg)
Kendati demikian, sekadar laju inflasi yang konsisten rendah tidak cukup untuk membuka pintu bagi pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Engsel pintu itu terganjal oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung tertekan.
Puncaknya, rupiah ditutup Rp 16.943 per dollar AS pada perdagangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) 9 April 2025. Bahkan, ketika pasar spot domestik libur 11 hari dalam rangka Lebaran, rupiah sempat menembus Rp 17.348 per dollar AS dalam perdagangan kontrak berjangka valas (NDF) 1 bulan pada 7 April.
Meski tidak dalam seketika dengan persentase pelemahan tajam layaknya krisis moneter 1998, posisi rupiah tersebut telah mencatatkan rekor baru sepanjang sejarah. Saat krisis 1998 melanda, rupiah berada di level Rp 16.900 per dollar AS pada 17 Juni 1998, bahkan Rp 17.000 per dollar AS pada 22 Januari 1998.
Sebagian besar pelemahan rupiah itu memang disebabkan oleh faktor ketidakpastian global. Penguatan indeks dollar AS (DXY) semenjak terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS telah membuat mata uang beberapa negara tiarap. DXY sempat mencapai level 109,96 pada Januari 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/25/bd4be205-35e0-4d17-bf9f-b3608b9095d2_png.png)
Namun, belakangan, penurunan indeks dollar AS tidak membuat rupiah serta-merta menguat. Meski DXY turun hingga berada di bawah level 100, nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir tidak bergeming di level Rp 16.800 per dollar AS.
Di sisi lain, memanasnya hubungan AS-China yang saling berbalas tarif telah berisiko memicu perang dagang. Ketidakpastian ini mengakibatkan pasar keuangan global terguncang lantaran para investor mengalihkan investasinya ke aset safe haven.
Alhasil, arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang sehingga mendorong depresiasi nilai tukar. Sejak awal tahun hingga 16 April 2025, aliran modal asing tercatat keluar dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp 35,17 triliun sehingga turut menekan nilai tukar rupiah.
Rupiah terhadap dollar AS melemah 4,91 persen. Kinerja tersebut lebih buruk dibandingkan dengan beberapa mata uang negara berkembang di kawasan (peers) lainnya, seperti baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan rupee India justru menguat terhadap dollar AS sejak awal tahun.
Keluarnya arus modal asing tersebut terdiri dari jual neto Rp 36,86 triliun di pasar saham dan jual neto Rp 7,94 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, aliran modal asing masih mengalir masuk di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 9,63 triliun.
Secara tahun kalender berjalan, rupiah terhadap dollar AS melemah 4,91 persen. Kinerja tersebut lebih buruk dibandingkan dengan beberapa mata uang negara berkembang di kawasan (peers) lainnya, seperti baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan rupee India justru menguat terhadap dollar AS sejak awal tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/9c2e7b78-651f-4b33-8966-42d5ad31ea15_png.png)
Berbagai perkembangan tersebut pada gilirannya turut menjadi pertimbangan bagi BI dalam memutuskan suku bunga kebijakan. Masih tetap terbuka tiga kemungkinan bagi BI, antara menahan suku bunga acuan, menurunkannya, atau bahkan mengereknya naik.
Rendahnya tingkat inflasi memang membuka ruang pemangkasan suku bunga lebih lanjut, tetapi rupiah dalam kondisi tertekan. Meski sesuai dengan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemotongan suku bunga acuan berisiko memicu modal asing keluar, dan depresiasi rupiah semakin dalam.
Sebaliknya, BI bisa juga mengembalikan tingkat suku bunga acuannya seperti akhir 2024, dengan menaikkannya kembali 25 bps menjadi 6 persen. Keputusan ini memang dapat menarik modal asing masuk dan membawa apresiasi nilai tukar, tetapi juga berisiko membuat daya beli masyarakat semakin tertekan dengan tingkat inflasi yang rendah.
Selain itu, kenaikan suku bunga 25 bps juga pernah dilakukan oleh BI pada April 2024. Kala itu, nilai tukar rupiah tertekan hingga menembus titik psikologis baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni di atas Rp 16.000 per dollar AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/17/42b88efb-28b1-4adf-b638-444c4180d94c_jpg.jpg)
Secara tahun kalender berjalan, posisi rupiah pada April 2024 menjelang RDG BI telah melemah 5,18 persen menjadi Rp 16.240 per dollar AS. Sementara itu, laju inflasi tahunan pada Maret 2024 mencapai 3,05 persen atau berada dalam target sasaran BI.
Sebagai langkah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan antisipasi dari memburuknya risiko global, BI mengerek suku bunga acuannya naik sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen. Langkah ini juga diambil untuk memastikan inflasi tetap terjaga dalam sasaran 1,5-3,5 persen.
Optimalisasi operasi moneter dengan intervensi pasar dapat ditempuh. Posisi cadangan devisa saat ini pun jauh lebih memadai ketimbang tahun lalu saat BI terpaksa menaikkan suku bunga acuannya.
Alih-alih menaikkan atau menurunkan, terbuka pula opsi bagi BI untuk sementara ini menahan suku bunga acuannya pada level 5,75 persen. Meski rupiah tertekan, laju inflasi menunjukkan tren perlambatan, bahkan saat Ramadhan dan mendekati Idul Fitri 2025, yang menandai pelemahan daya beli.
Sembari menunggu tensi ketidakpastian mereda, optimalisasi operasi moneter dengan intervensi pasar dapat ditempuh. Posisi cadangan devisa saat ini pun jauh lebih memadai ketimbang tahun lalu saat BI terpaksa menaikkan suku bunga acuannya.
Per Maret 2025, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat 157,1 miliar dollar AS atau 2,6 miliar dollar AS dibandingkan dengan akhir Februari 2025. Sementara itu, pada Maret 2024, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat 140,4 miliar dollar AS atau turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 144 miliar dollar AS.
Pada akhirnya, semua keputusan ada di tangan BI. Setiap pilihan memiliki konsekuensi dan risikonya tersendiri. Komitmen BI sejak awal tahun untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi kali ini pun diuji. Dan, mari kita lihat seberapa jauh uluran tangan BI mampu merengkuh perekonomian?
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji