Ketimpangan Aksesibilitas Transportasi, Warga Enggan Beralih dari Kendaraan Pribadi

Ketimpangan aksesibilitas transportasi jadi alasan warga enggan beralih dari kendaraan pribadi. Target pengguna 60 persen warga Jakarta beralih ke angkutan publik terancam.

16 Nov 2024 20:51 WIB · Metro

Oleh Rhama Purna Jati

JAKARTA, KOMPAS — Aksesibilitas transportasi antara Jakarta dan daerah penunjang yang belum berimbang menjadi salah satu penyebab warga enggan beralih dari kendaraan pribadi. Transportasi publik belum menjadi pilihan utama masyarakat. Untuk itulah dibutuhkan komitmen, koordinasi, dan sinkronisasi antarpemangku kepentingan untuk mengatasi permasalahan transportasi publik. 

Hal ini mengemuka dalam diskusi publik yang digelar Forum Diskusi Transportasi Jakarta dengan mengangkat tema ”Angkot #4: Mengulik Masa Depan Transportasi Jakarta”, di Jakarta, Sabtu (16/11/2024). Acara itu dihadiri para pegiat transportasi.

Diskusi publik yang mengangkat tema ”Mengulik Masa Depan Transportasi Jakarta”, Minggu (16/11/2024).

Ketua Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta Yusa Cahya Permana mengatakan, saat ini jumlah warga Jakarta yang menggunakan transportasi publik baru mencapai 18 persen dari jumlah 3 juta pergerakan.

Angka ini tentu masih jauh dari target pemerintah di mana pengguna transportasi publik mencapai 60 persen pada 2030. Menurut Yusa, ada beberapa faktor yang membuat warga enggan berpindah dari kendaraan pribadi, yakni sulitnya aksesibilitas warga memperoleh transportasi umum. 

”Untuk bisa mendapatkan transportasi umum, warga harus berjalan kaki dulu dari rumahnya. Adapun dengan menggunakan kendaraan pribadi, mereka sudah bisa mendapatkannya dari depan rumah,” katanya.

Belum lagi, mereka masih dihantui risiko waktu tunggu yang lama atau waktu operasi yang tidak tepat. Apalagi mereka harus berpindah moda. 

Kondisi kepadatan kendaraan di sekitar kawasan wisata Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (16/9/2024). Kawasan Puncak diserbu warga yang berlibur seiring Hari Libur Nasional Maulid Nabi Muhammad SAW. Hari libur nasional yang jatuh berdekatan dengan hari libur akhir pekan berdampak pada kepadatan ini karena banyak warga yang memilih Puncak sebagai tujuan wisata. Kepadatan ini sempat menimbulkan macet total selama 12 jam di kawasan Puncak pada Minggu (15/9/2024). Kemacetan tersebut berangsur terurai pada Senin (16/9/2024) siang, setelah diberlakukan arus satu arah menuju Jakarta. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 16/9/2024

”Situasi ini tentu akan membuat pengguna moda semakin stres. Hal inilah yang membuat masih banyak warga yang enggan beralih,” kata Yusa. 

Kondisi ini diperparah dengan belum selarasnya komitmen antarpemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas transportasi yang memadai. Yusa mencontohkan Jakarta yang mengalokasikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk penguatan transportasi. Berbeda dengan beberapa daerah penyokong yang hanya menyediakan dana kurang dari itu. ”Bahkan, ada yang mengalokasikan dana 2 persen dari APBD. Ini tentu akan menciptakan ketimpangan,” ucap Yusa. 

Pekerja melihat bor yang menyambungkan Stasiun MRT Kota dan Stasiun MRT Glodok di kawasan proyek MRT fase 2A CP 203 di kawasan Glodok, Taman Sari, Jakarta, Kamis (11/7/2024). Progres pembangunan MRT fase 2A CP 203 yang menghubungkan Stasiun MRT Glodok sampai Stasiun MRT Kota mencapai 57,89 persen per 25 Juni 2024. Progres CP 203 kini dalam tahap pengerjaan pembongkaran mesin bor terowongan di Glodok, pembangunan tangga, tangki air, waterproofing, lantai atap, serta persiapan struktur lantai dasar dan kolom di Stasiun Kota. Sementara itu, proyek fase 2A CP 201 yang menyambungkan Stasiun MRT Thamrin dan Stasiun MRT Monas mencapai 78,50 persen. Sedangkan progres fase 2A CP 202 yang menghubungkan Stasiun MRT Harmoni sampai Stasiun MRT Mangga Besar mencapai 32,22 persen. Fase 2A MRT Jakarta dengan sepanjang 5,8 kilometer akan memiliki tujuh stasiun bawah tanah. Pengerjaannya ditargetkan selesai pada 2027 untuk segmen Bundaran HI sampai Harmoni. Sementara segmen Harmoni sampai Kota ditargetkan selesai pada 2029. Pengerjaan MRT Fase 2A ini dibangun dengan biaya sekitar Rp 25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 11-07-2024

Karena itu, ujar Yusa, perlu ada komitmen, koordinasi, dan sinkronisasi antarpemangku kepentingan untuk menyelesaikan masalah ini. ”Jangan lagi berpikir hanya warga Jakarta, tetapi harus dikembangkan untuk kawasan aglomerasi,” ucapnya.

Direktur Operasi dan Keselamatan PT Transportasi Jakarta Daud Joseph berpendapat, warga akan sulit untuk berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum selama angkutan umum belum menyentuh kawasan tempat tinggalnya. Untuk itu, saat ini Trans Jakarta terus mengembangkan cakupannya di wilayah sekitar Jakarta, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Untuk di Jakarta, cakupan angkutan umum sudah cukup besar, yakni mencapai 90,5 persen. Hanya saja ini tidak setara dengan daerah-daerah lain. Karena itu, peta greater Jakarta harus diaplikasikan dalam pengembangan transportasi utamanya Trans Jakarta.

”Ini bukan saja terkait memperluas bisnis Trans Jakarta, melainkan bagaimana caranya semua warga mendapatkan akses transportasi yang setara,” kata Daud.

Hal ini juga sangat berkaitan dengan komitmen pemerintah daerah. Untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misalnya, tetap berkomitmen untuk mengalokasikan kewajiban pelayanan publik sebesar 2,5 persen dari APBD ke Trans Jakarta.

Kebijakan ini berpengaruh terhadap kenaikan jumlah penumpang yang cukup signifikan. Sampai Oktober 2024, jumlah penumpang yang mengakses Trans Jakarta mencapai 322 juta orang. 

Dengan pengembangan Trans Jakarta ke wilayah penyanggah, diharapkan jumlah penumpang yang bisa mengakses Trans Jakarta mencapai 432 juta pelanggan per tahun yang artinya dalam satu hari jumlah pelanggan yang terlayani mencapai 1,5 juta orang.

Quote

Regulasi yang tepat termasuk sokongan dana dari investor sangat diperlukan.

Antrean pengunjung terlihat di Halte IRTI Monas, Minggu (14/4/2024). Mereka berlomba memasuki bus untuk bisa menempati tempat duduk terbaik guna menikmati suasana kota Jakarta.

Untuk itu, komitmen pemerintah daerah penyanggah juga diperlukan. ”Jika pemda mau mengalokasikan 2,5 persen  saja dari APBD untuk kewajiban pelayanan publik, saya yakin akses transportasi untuk warga bisa terpenuhi,” kata Daud.

Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta Yulham Ferdiansyah Roestam mengatakan, orang Asia, termasuk Indonesia, rata-rata menghabiskan waktu di jalan sekitar 6 jam per hari. Padahal, waktu sepanjang itu bisa digunakan untuk mengembangkan diri.

Untuk mengikis waktu yang terbuang itu, pengembangan kota berbasis transit sangat dibutuhkan. ”Pola pembangunan ini sudah diterapkan di sejumlah negara modern di dunia. Indonesia baru menerapkan konsep ini 10 tahun belakangan,” katanya. 

Pola ini memungkinkan warga untuk beraktivitas dalam radius 800 meter atau hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit di jalan. 

Namun, untuk menerapkan konsep ini, butuh investasi yang tidak sedikit. ”Regulasi yang tepat termasuk sokongan dana dari investor sangat diperlukan,” ucapnya. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra