Literasi yang dipraktikkan minus numerasi membuat gerakan literasi timpang. Literasi tetap harus dipandang sebagai istilah umum yang menaungi literasi dan numerasi.
21 Des 2024 10:00 WIB · Opini
Numerasi dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN) kurang mendapat perhatian. Walaupun di dalam ”literasi” sebagai gerakan, termaktub pula numerasi, tetapi yang mendominasi tetap saja literasinya. Akibatnya, GLN terasa timpang. Sebagai ”saudara perempuan kecil” dari literasi, numerasi pun cenderung diabaikan.
Berbagai kegiatan literasi, seperti lokakarya (workshop), bimbingan teknis (bimtek), seminar, perbincangan, dan bedah buku, selalu dilabeli ”literasi”. Demikian pula gerakan-gerakan dalam pemberdayaan pada bidang baca tulis, selalu bermerek ”literasi” atau ”pustaka”. Nama-nama komunitas juga jarang sekali menggunakan ”kata literasi dan numerasi”, lebih-lebih numerasi saja.
Setiap gerakan literasi selalu menyasar aspek baca tulisnya. Hal ini terjadi karena literasi sangat ”strategis”. Kompetensi apa pun bisa masuk. Siapa pun bisa melakukan praktik literasi, yang dasarnya ialah modus mendapat pengetahuan melalui aktivitas membaca.
Sebaliknya, numerasi yang tidak bisa bebas dari bayang-bayang matematika, bidang yang sulit bagi sebagian besar orang; dipandang hanya bisa dipraktikkan oleh mereka yang pintar berhitung. Monster matematika dalam numerasi tetap menjadi bayangan hitam. Orang ingin bebas dari rasa cemas dan ketakutan terhadap matematika. Literasi pun dipraktikkan minus numerasi.
Memang, materi-materi numerasi bersentuhan dengan materi-materi matematika, yakni angka, bilangan, dan operasi-operasinya. Para pakar numerasi tidak jemu menegaskan bahwa numerasi sama sekali bukan matematika. Hal ini benar. Meski demikian, pengetahuan atau keterampilan dasar numerasi tetap saja matematika.
Cara yang paling masuk akal dalam membangun numerasi ialah kembali kepada esensinya, yaitu matematika. Di sini ada batasannya tersendiri. Numerasi dibatasi sebagai keterampilan dan sikap matematika dalam kehidupan sehari-hari. Numerasi adalah aplikasi operasi aritmatika, aljabar, geometri dalam kehidupan. Di sini perhitungan-perhitungan atau operasi-operasi matematika tetap dibutuhkan.
Melihat matematika sebagai esensinya, pembangunan budaya numerasi tidak bisa diklaimkan pada literasi. Menggunakan terminologi literasi sebagai istilah umum yang menjangkau ”literasi” dan ”numerasi” di dalamnya, tetap bisa. Yang keliru jika numerasi pada akhirnya diabaikan dalam gerakan literasi, sebagaimana yang telah terjadi selama ini.
Adanya pandangan bahwa matematika itu sulit dan walaupun dalam kehidupan sehari-hari matematika selalu hadir, orang memilih untuk tidak belajar dan berlatih matematika. Sementara ini, keterampilan matematika yang mereka miliki dipandang sudah cukup untuk kehidupan sehari-hari, seperti melakukan transaksi jual beli atau menaikkan dan menurunkan suhu ruangan pada mesin pendingin yang terpasang. Untuk perhitungan yang lebih ”sulit”, mereka bisa menggunakan bantuan mesin hitung.
Literasi tetap harus dipandang sebagai istilah umum yang menaungi literasi sendiri dan numerasi. Dengan ini, gerakan literasi utuh, menyangkut baik literasi maupun numerasi. Lokakarya, seminar, dan bimtek literasi harus selalu menyasar bagian numerasinya.
Yang keliru jika numerasi pada akhirnya diabaikan dalam gerakan literasi, sebagaimana yang telah terjadi selama ini.
Untuk hal ini, pendekatan numerasi mungkin sedikit berbeda atau lebih khusus ketimbang literasi. Instruktur numerasi hanyalah mereka yang belajar matematika secara formal dan profesional. Para ahli matematika atau kelompok masyarakat yang gemar bidang ini dilibatkan dalam pembangunan budaya numerasi.
Inti kegiatan numerasi yaitu belajar matematika untuk kebutuhan hidup di dunia nyata. Misalnya, besaran angka yang tertera di meteran listrik dapat digunakan untuk memperkirakan lagi berapa hari harus mengisi token.
Kaitan erat atau kompetensi dasar matematika pada numerasi seseorang tidak bisa ditampik. Artinya, tidak ada jalan lain dalam meningkatkan numerasi tanpa melalui jalan matematika. Hal ini juga telah dibuktikan oleh berbagai tes numerasi yang saat ini bisa diakses secara daring, baik yang gratis maupun yang berbayar, sangat identik dengan soal-soal matematika. Hanya sedikit diberi karakter numerasinya, yakni berupa matematika naratif.
Meski demikian, rumus-rumus operasi matematika tetap berlaku. Artinya, matematika merupakan ilmu dasar dalam membangun keterampilan dan sikap numerasi.
Di tengah minimnya pelatihan-pelatihan numerasi, sungguh berbanding terbalik dengan gebyar literasi; amat dibutuhkan pendekatan-pendekatan numerasi. Yang mendesak ialah melakukan pelatihan-pelatihan khusus yang menyasar numerasi masyarakat. Harus dapat dibedakan secara kuat: antara literasi dan numerasi.
Pendekatan dalam peningkatan numerasi yang dapat dikembangkan yaitu pendekatan matematika. Dalam pelatihan-pelatihan numerasi yang disasar ialah keterampilan berhitung. Maka, yang paling berkompeten sebagai instruktur dengan pendekatan ini yaitu guru matematika atau kelompok masyarakat yang mencintai matematika.
Materi pelatihan numerasi berkaitan dengan wawasan matematika dan keterampilan matematika: berhitung. Wawasan matematika membantu peserta pelatihan untuk merumuskan peran penting matematika dalam kehidupan manusia.
Wawasan matematika juga berhubungan erat dengan berpikir atau bernalar dan berkomunikasi secara kuantitatif. Prinsip-prinsip operasi matematika juga sangat bermanfaat dalam membangun keterampilan berpikir kritis dan berpikir berbasis data (angka).
Yang mendesak adalah melakukan pelatihan-pelatihan khusus yang menyasar numerasi masyarakat.
Meski demikian, numerasi tetap membangun batas yang jelas antara dirinya dan matematika (induk semangnya). Berpikir berbasis data merupakan transformasi kualitas ke dalam bilangan atau angka yang melibatkan perangkat abstrak seperti indikator, kategori, rentangan, konstanta, perbandingan, himpunan, ruang, dan lain-lain.
Keterampilan matematika adalah kecepatan dan ketepatan dalam menyelesaikan berbagai perhitungan atau operasi matematika. Dalam pelatihan numerasi, hal ini harus mendapat porsi besar. Lewat materi ini, peserta mendapat pengalaman bersama dalam melatih keterampilan matematikanya. Maka, bentuk materinya yaitu kasus-kasus matematika yang kontekstual dengan kehidupan. Para peserta memecahkan kasus-kasus tersebut.
Salah satu cara dalam membangun numerasi yaitu memperbanyak kesempatan berlatih. Karena rendahnya kesadaran numerasi masyarakat, memandang matematikan sulit, kesempatan-kesempatan berlatih numerasi pun jarang. Pemecahan kasus dalam pelatihan numerasi mengisi kekosongan kesempatan berlatih bersama. Sama seperti meningkatkan kecepatan membaca, maka salah satu cara adalah dengan sesering mungkin berlatih numerasi.
Pada tingkatan selanjutnya, materi numerasi bisa untuk memupuk rasa kagum dan apresiasi terhadap bidang matematika. Hal ini bisa dicapai dengan menyimak berbagai materi matematika pada sumber-sumber digital, semisal konsep bilangan Fibonacci.
Di sekolah, sumber daya yang paling potensial dalam numerasi ialah guru matematika. Selama ini, mereka berperan cara formal dalam mengajarkan matematika dalam koridor kurikulum. Di tengah semarak dan masifnya GLS (Gerakan Literasi Sekolah), guru-guru matematika bergeming. Mereka belum terlibat dalam GLS, yang sejatinya mereka memiliki peran besar yang diharapkan, yakni numerasi.
Dalam rangka GLS, guru matematika di setiap sekolah dapat terpanggil untuk mengembangkan program khusus numerasi. Mereka mengambil fokus pada aplikasi materi-materi matematika di dalam pelajaran untuk kehidupan sehari-hari.
Dengan konsep numerasi ini, akan dapat membantu guru matematika dalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam belajar matematika karena mereka dicerahkan atau dibuka wawasannya bahwa matematika adalah materi pelajaran yang ada dalam kehidupan siswa.
Dengan pendekatan numerasi, kecemasan atau ketakutan siswa terhadap matematika, yang mana hanya merupakan mata pelajaran untuk siswa yang pintar semata, dapat diatasi. Tinggal sekarang disikapi dua kutub yang saling timbal balik: matematika untuk membangun keterampilan numerasi siswa atau numerasi sebagai jalan untuk memasuki dunia matematika. Matematika bukan lagi dunia yang mencemaskan.
I Wayan Artika, Dosen Universitas Pendidikan Ganesha; Pegiat Gerakan Literasi Akar Rumput pada Komunitas Desa Belajar Bali
Penulis:
I Wayan ArtikaEditor:
Yovita Arika