Haedar Nashir mengungkapkan, nilai-nilai luhur yang diwarisi Paus Fransiskus menjadi rujukan keteladanan bagi para pemimpin dunia.
22 Apr 2025 14:01 WIB · Politik & Hukum
YOGYAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Paus Fransiskus. Haedar berharap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan keluhuran sikap Paus Fransiskus dapat menjadi teladan bagi para pemimpin dunia.
Hal itu dikemukakan Haedar saat memberikan pernyataan kepada wartawan di kantor PP Muhammadiyah, di Yogyakarta, Selasa (22/4/2025). ”Kami, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan duka yang sangat mendalam atas wafatnya Paus Fransiskus,” ujarnya.
Paus Fransiskus wafat dalam usia 88 tahun di Vatikan pukul 07.35 waktu setempat. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma tersebut terpilih pada 13 Maret 2013.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/22/ebc75f6332d767c4a223ab5e83cd26cc-20250422eng02.jpeg)
Menurut Haedar, Paus Fransiskus adalah tokoh dunia, tokoh agama, dan tokoh kemanusiaan yang bersahaja, humanis, bahkan juga humoris. Haedar pernah bertemu langsung dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada 24 Februari 2024.
Saat itu, Haedar diundang Zayed Award for Human Fraternity sebagai salah satu penerima penghargaan tersebut. Haedar pun mengenang kesahajaan, keramahan, dan kehangatan Paus Fransiskus saat menyambut dirinya dan sejumlah tamu lain.
Lebih jauh, Haedar menyebut, Paus Fransiskus selalu peduli pada human fraternity atau persaudaraan kemanusiaan. Selain itu, Paus Fransiskus juga senantiasa menjunjung keadilan sosial dan nilai-nilai luhur kehidupan.
”Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran agama Katolik, tetapi juga nilai-nilai universal yang bisa menjadi rujukan dalam kehidupan kemanusiaan dari berbagai suku, golongan, agama, dan bangsa,” tutur Haedar.
Karena itu, Haedar pun berharap para tokoh bangsa dan tokoh dunia dapat meneladani nilai-nilai yang diwarisi Paus Fransiskus tersebut. Hal ini menjadi penting di tengah situasi dunia yang dihadapkan pada berbagai tantangan dalam relasi antarbangsa yang kerap diwarnai konflik, ketegangan, bahkan perang.
”Kita punya problem Palestina dan Israel, Rusia dan Ukraina, kekerasan, serta berbagai persoalan kemanusiaan lainnya. Paus Fransiskus menjadi rujukan untuk senantiasa menegakkan nilai-nilai perdamaian. Beliau selalu perhatian pada masalah perdamaian, selain pada persoalan kemanusiaan,” ucap Haedar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/1b750d5d-6548-4dc8-a0b1-5e9be3ffe121_png.png)
Perihal perdamaian bahkan menjadi pesan terakhir Paus Fransiskus yang disampaikan kepada publik saat Misa Paskah di Vatikan pada Minggu (20/4/2025) atau sehari sebelum wafat. Paus kala itu salah satunya menyerukan gencatan senjata di Gaza, Palestina.
”Saya mohon sekali lagi, untuk segera diwujudkan gencatan senjata di Jalur Gaza, pembebasan sandera, dan akses terhadap bantuan kemanusiaan,” kata Paus dalam pesannya yang dibacakan Uskup Agung Diego Ravelli, Kepala Liturgi Kepausan (Kompas, 21/4/2025).
Haedar pun mengungkapkan, pesan perdamaian di Palestina itu adalah jantung hati dan harapan semua tokoh dan warga bangsa-bangsa dunia, termasuk Indonesia.
”Karena itu, mudah-mudahan pesan luhur beliau didengar oleh tokoh-tokoh pemimpin Israel dan seluruh negara agar kita hentikan perang, hentikan genosida, dan hentikan agresi dalam segala bentuknya,” ujarnya.
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .