Keuangan Emiten yang Getol Kembangkan Energi Hijau Masih Tumbuh Lambat

Emiten seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) masih mencatatkan perlambatan kenaikan pendapatan dan laba untuk kejar target kapasitas pembangkit geotermal terpasang.

30 Jul 2025 15:06 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Upaya meningkatkan investasi di sektor energi baru dan terbarukan berkonsekuensi pada perlambatan pertumbuhan keuangan perusahaan terbuka yang mengerjakannya. Namun, dukungan pemerintah dan kepercayaan investor akan meningkatkan harga saham perusahaan tersebut dalam jangka panjang.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan panas bumi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), masih mencatatkan perlambatan kenaikan pendapatan dan laba. Pada semester pertama 2025, PGEO mencatatkan pendapatan sebesar 204,85 juta dollar AS atau hanya tumbuh 0,53 persen secara tahunan. Sementara itu, laba tahun berjalan yang didapat senilai 68,93 juta dollar AS atau turun 28,37 persen dibandingkan dengan periode sama pada 2024.

Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Yurizki Rio dalam siaran pers, Selasa (29/7/2025), mengungkapkan, tantangan geopolitik dan ekonomi global memengaruhi aspek pendanaan proyek dan biaya operasional. Namun, PGEO tetap mencatatkan kinerja operasional yang solid dengan peningkatan produksi energi pada triwulan kedua yang menaikkan pendapatan perusahaan.

”Net profit perusahaan masih tetap sehat dan EBITDA margin kami terjaga di atas 80 persen. Ini mencerminkan efisiensi dan profitabilitas dalam mengelola aset dan operasional,” ujarnya.

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 5 dan 6 kawasan Tompaso, Tomohon, Sulawesi Utara, Senin (25/4/2022). PLTP yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy ini mampu memproduksi listrik sebesar 40 Megawatt untuk memasok kebutuhan listrik di Sulawesi Utara dan Gorontalo. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 25-04-2022

Yurizki mengatakan, PGEO masih terus memperkuat kinerja bisnis panas bumi sebagai sumber energi terbarukan yang memiliki peran strategis dalam usaha Pemerintah Indonesia mendorong transisi energi. Perseroan mengejar target 1 gigawatt (GW) kapasitas terpasang yang dikelola mandiri didukung oleh sejumlah proyek kunci yang tengah digarap dalam 2-3 tahun ke depan.

Proyek yang tengah dikembangkan antara lain Hululais Unit 1 & 2 (110 megawatt/MW), proyek-proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW, serta eksplorasi Wilayah Kerja Panas Bumi Gunung Tiga yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Juni.

PGEO saat ini mengelola kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terdiri dari 727 MW yang dikelola mandiri dan 1.205 MW bersama mitra. Termasuk PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW yang baru beroperasi pada akhir Juni.

Analis MNC Sekuritas, Hijjah Marhama, menilai, pembangunan bisnis dan infrastruktur di industri energi baru dan terbarukan (EBT) memang semakin solid dan berkelanjutan. PGEO, sebagai pemimpin sektor geotermal yang menguasai 82 persen pasar, menurut dia, masih cukup solid kondisi fundamentalnya.

”PGEO sendiri masih menarik pertumbuhannya. Diproyeksikan laba sepanjang 2025 bisa mencapai 132 juta dollar AS-138 juta dollar AS dengan target fundamental ke level Rp 2.350. ROE (rasio imbal hasil untuk pemegang saham) diproyeksikan bertumbuh ke level 12-13 persen,” katanya kepada Kompas, Selasa (30/7/2025).

Tantangan jangka pendek

Hijjah mengatakan, tantangan dari bisnis EBT adalah waktu dan biaya. Dari sisi waktu terkait pembangunan dan pelaksanaannya bergantung sekali pada komponen impor seperti turbin dan sistem kontrol. Dalam pelaksanaannya juga belum ada regulasi atau UU terkait EBT.

Adapun biaya, menurut dia, masih akan memengaruhi kinerja perusahaan EBT seperti PGEO dalam waktu dekat sehingga laba belum besar karena masih membutuhkan biaya investasi yang tinggi. ”Setelah itu, juga harus membentuk permintaan di masyarakat jika biaya EBT tidak semurah dan seefisien batubara,” katanya.

Hal ini juga diutarakan Market Analyst BRI Danareksa Sekuritas Chory Ramdhani saat dihubungi secara terpisah. Ia melihat proyek EBT, seperti panas bumi dan PLTA, secara umum memerlukan modal besar di awal. Sementara itu, monetisasi arus kas dan laba baru terjadi setelah proyek beroperasi (COD).

<p>Energi Baru Terbarukan (EBT) Jenis EBT Tahun 2020, dan Target EBT Per Sumber Pembangkit Target Bauran Eenergi Nasional 2025 Infografik Kompas.id</p>

Perusahaan pengembang juga harus menghadapi beban depresiasi dan peningkatan bunga akibat akumulasi proyek baru yang menyebabkan naiknya depresiasi (aset tetap) dan biaya bunga, yang bisa menekan laba bersih di awal fase ekspansi.

”Rasio keuangan pun bisa sementara melemah. Jika ekspansi dibiayai utang, bisa berdampak ke leverage (jumlah utang dibandingkan dengan aset) serta ROE yang sementara menurun,” katanya.

Keuntungan jangka panjang

Kedua analis menilai, dalam jangka panjang, emiten yang mengembangkan EBT akan memberikan keuntungan bagi investor. Apalagi dengan prospek dukungan pemerintah yang panjang ke depannya.

Chory mengatakan, saham-saham yang bergerak di sektor EBT mendapatkan dukungan jangka panjang dari pemerintah yang menargetkan kapasitas pembangkit EBT mencapai 52 persen dari total 69,5 GW hingga 2034.

”Emiten yang adaptif terhadap EBT dan smart energy akan jadi pemenang jangka panjang. Secara nilai, saham-saham ini bukan untuk spekulasi jangka pendek, kecuali ada sentimen kuat,” katanya.

Tidak hanya PGEO, kelebihan ini juga bisa dimiliki perusahaan pemilik saham publik di Bursa Efek Indonesia lainnya seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Medco Energi International Tbk (MEDC) yang tengah gencar melakukan aksi korporasi untuk memperbesar bisnis EBT.

BREN, yang terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu, fokus bisnis di panas bumi dengan pangsa pasar nasional 38 persen dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Perusahaan itu merencanakan ekspansi kapasitas dengan target 118 MW hingga 2026, termasuk Salak Binary Project (sekitar 14,5 MW).

Quote

Emiten yang adaptif terhadap EBT dan smart energy akan jadi pemenang jangka panjang. Secara nilai, saham-saham ini bukan untuk spekulasi jangka pendek, kecuali ada sentimen kuat.

”BREN, melalui anak usahanya, Star Energy Geothermal, menjalin kemitraan dengan SLB untuk mempercepat pengembangan teknologi panas bumi tingkat lanjut. Kolaborasi ini menggabungkan keahlian Star Energy di bidang panas bumi dengan pengalaman puluhan tahun SLB dalam teknologi energi, dengan tujuan meningkatkan efisiensi ekonomi dan tingkat recovery dari proyek-proyek panas bumi,” tuturnya.

MEDC, meskipun masih aktif di migas dan tambang, mereka mulai memperkuat bisnis EBT untuk ikut mendukung target net zero emission 2060.

MEDC menyelesaikan akuisisi 24 persen kepemilikan di PSC Corridor dan telah merampungkan akuisisi senilai 425 juta dollar AS atas Fortuna International (Barbados), Inc. PSC Corridor berlokasi di Sumatera Selatan, merupakan salah satu blok gas paling produktif, dengan kontrak jangka panjang ke Indonesia dan Singapura.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto