Rudal KHAN Tidak Mengubah  Wajah Diplomasi Indonesia

Dalam relasi internasional, kapabilitas militer Indonesia diproyeksikan untuk misi-misi perdamaian dan menjaga kedaulatan.

18 Agt 2025 08:00 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

Agak ”terasing” dari perhatian publik, salah satu media arus utama Singapura, Channel News Asia, menyoroti kehadiran KHAN di Tenggarong, Kalimantan Timur. CNA mengatakan, rudal berdaya jangkau 280 kilometer itu akan menjadi salah satu arsenal utama Yonarmed 18 TNI Angkatan Darat.

Merujuk laman Asian Military Review, kehadiran KHAN mendongkrak kapasitas pertahanan Indonesia, khususnya dalam serangan presisi jarak jauh. ”Kemampuannya untuk menyerang target di dalam ataupun di luar batas wilayah Nusantara menjadikannya aset yang tak ternilai,” tulis Stephen W Miller, mantan marinir Amerika Serikat yang menulis untuk laman itu.

Klaim tersebut tidak keliru. Laman resmi Roketsan, pabrikan Turki yang memproduksi KHAN, menyebutkan, rudal yang diangkut menggunakan truk delapan roda itu memiliki circular error probable (CEP) kurang dari 10 meter. Artinya, bila ada 10 rudal KHAN ditembakkan pada satu sasaran, 5 di antaranya akan jatuh pada median kurang dari 10 meter, dihitung dari titik pusat sasaran.

Menurut Roketsan, kemampuan itu dimiliki KHAN lantaran rudal sepanjang 7,1 meter tersebut dipandu oleh GPS, sistem navigasi GLONASS, serta inertial navigation system (INS). Dengan menggunakan truk berpenggerak 8 x 8, platform peluncuran KHAN milik Indonesia akan menjadi sangat mobile, mudah dikerahkan dalam waktu singkat.

Foto tangkapan layar dari laman resmi Roketsan. Tampak ilustrasi rudal KHAN diluncurkan dari truk berpenggerak 8x8.

Kehadiran KHAN membuat Indonesia menjadi pengguna pertama rudal balistik taktis di Asia Tenggara. Tentu, taji pertahanan modern Indonesia kian tajam. Sebelumnya, Indonesia telah mengadopsi rudal Yakhont dari Rusia.

Dua arsenal itu memiliki perbedaan mendasar. Yakhont adalah rudal jelajah antikapal berdaya jangkau hingga 300 kilometer. Rudal yang melesat dengan kecepatan 2,5 kecepatan suara tersebut mampu terbang rendah di atas permukaan laut dan mengikuti kontur muka bumi.

Yakhont juga diadopsi oleh India. Oleh New Delhi, Yakhont kemudian dikembangkan menjadi rudal jelajah Brahmos. Selain India, Brahmos saat ini juga digunakan oleh Filipina. Di Asia Tenggara, negara lain yang turut tertarik untuk memiliki Brahmos adalah Vietnam dan Indonesia.

Berbeda dari Yakhont, KHAN mengarah ke sasaran dengan metode mengikuti lintasan balistik, membusur. Dengan didorong oleh roket, rudal itu menuju ke atmosfer. Setelah mesin roket tersebut berhenti bekerja, rudal akan kembali ke bumi untuk menuju target, mengikuti lintasan yang telah diprogram.

Perimbangan di kawasan

KHAN yang diakuisisi oleh Indonesia dikabarkan dilengkapi dengan hulu ledak konvensional. Meski demikian, sebagaimana dikutip CNA, analis pertahanan pada Janes, Ridzwan Rahmat, mengatakan, kehadiran rudal yang mampu melaju hingga lima kali kecepatan suara itu berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan regional sekaligus memicu perlombaan senjata.

Rudal balistik KHAN dapat diangkut dan diluncurkan menggunakan basis truk berpenggerak 8x8.

”Ini adalah rudal pertama dari jenisnya di kawasan, dan sampai sekarang, negara-negara (Asia Tenggara) menahan diri untuk tidak mengakuisisi rudal balistik taktis sebab jangkauan serta sifat senjatanya yang sulit ditangkis karena batas waktu intersepsinya yang sempit,” kata Ridzwan, sebagaimana dikutip CNA.

Situasi kawasan

Asumsi sejumlah pihak bahwa kehadiran KHAN akan memicu perlombaan senjata memang bisa dipahami. Meskipun dinilai stabil, kawasan Asia dan Pasifik masih diwarnai oleh sejumlah ketegangan.

Di Asia Tenggara, misalnya, sengketa wilayah masih menghantui kawasan Laut China Selatan. Baru-baru ini terjadi insiden Kapal Penjaga Pantai Filipina versus Kapal Penjaga Pantai dan Angkatan Laut China di perairan seputar beting Scarborough. Insiden itu bukan yang pertama kali terjadi.

Ketegangan di kawasan Laut China Selatan menjadi salah satu pemicu bagi Manila untuk memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) mereka. Bila dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan, modernisasi yang dilakukan Filipina sangat signifikan. Selain membeli sejumlah fregat baru, Manila juga memperkuat armada udara mereka dengan membeli sejumlah pesawat tempur, termasuk memperkuat postur pertahanan pantai mereka dengan mendatangkan Brahmos dari India.

In this handout photo provided by the Armed Forces of the Philippines, Public Affairs Office, Philippine Navy personnel aboard BRP Jose Rizal (FF150) simulate torpedo launcher operations to enhance crew readiness during a joint activity between the Philippines and Indian Navy at the South China Sea on Sunday, Aug. 3, 2025. (Armed Forces of the Philippines, Public Affairs Office via AP)

Bila merujuk pada laman resmi SIPRI, lembaga kajian konflik dan kontrol senjata yang berbasis di Swedia, posisi Filipina sebagai importir senjata berada tepat di atas Indonesia. Masing-masing berada di nomor 27 dan 28 dari total 40 importir senjata terbesar di dunia. Singapura berada di nomor 20 dan Thailand di nomor 40.

Hal yang menarik, bila dibandingkan dengan periode pengadaan pada 2015-2019 versus 2020-2024, Filipina mencatatkan peningkatan impor hingga sebesar 53 persen. Posisi itu berbeda dari situasi negara-negara Asia Tenggara lain yang justru mencatat pengurangan persentase impor.

SIPRI memberi catatan, peningkatan impor senjata oleh Filipina antara lain dipicu oleh meningkatnya ketegangan dengan China di Laut China Selatan. Bila disandingkan dengan isu Taiwan dan lahirnya AUKUS—pakta pertahanan antara Amerika Serikat, Australia, dan Inggris—catatan SIPRI kian menegaskan pendapat bahwa faktor China memberi pengaruh signifikan pada impor dan modernisasi senjata di kawasan Asia Pasifik.

Dalam konteks tarikan geopolitik kawasan, pengamat pertahanan dan ahli hubungan internasional, Connie Rahakundini, memahami kekhawatiran sejumlah pihak terkait kehadiran KHAN. Menurut dia, ada potensi kehadiran KHAN dapat memicu efek domino.

KRI RE Martdinata menembakkan rudal Exocet MM40 Block 3 dalam Operasi Laut Gabungan Pada Latihan Gabungan TNI di Perairan Laut Jawa, Situbondo, Senin (31/7/2023). Hadir dalam operasi tersebut Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, Menko Polhukam Mahfud MD, Ketua DPR RI Puan Maharani dan Ketua MPR Bambang Soesatyo. Dalam operasi gabungan tersebut dua unsur udara F-16 TNI AU dan empat KRI. Empat KRI kemudian berhasil menembakkan 4 rudal anti kapal permukaan. Sebagai target penembakan yaitu eks KRI Slamet Riyadi yang tidak dioperasionalkan TNI AL sejak Agustus 2019. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Bagaimanapun, kehadiran sistem canggih yang sulit diantisipasi serta memberi efek gentar itu bisa memicu dilema keamanan dan tarikan, baik di tingkat regional maupun internasional. Dengan situasi seperti itu, Indonesia, menurut Connie, perlu mengantisipasinya dengan mempertebal langkah diplomasi. Arahnya tentu untuk ”menenangkan” kawasan.

Posisi Indonesia

Menurut Connie, doktrin pertahanan nasional Indonesia tidak berubah, yaitu bersifat defensif aktif. Ia menambahkan, dalam relasi internasional, Indonesia tidak pernah memperlihatkan diri sebagai sosok yang mengancam.

”Oleh karena itu, Indonesia perlu menegaskan posisinya sebagai negara nonblok, bebas, dan tidak terikat pada aliansi keamanan tertentu,” katanya.

Meski demikian, perlu dipahami pula bahwa penting bagi Indonesia untuk menjaga sekaligus memastikan kedaulatan nasional dan mengantisipasi ancaman yang terus berkembang. Sejauh ini, postur pertahanan yang dimiliki Indonesia pun semata-mata diarahkan untuk pertahanan dan kedaulatan.

Bahkan, dalam relasi internasional, kapabilitas militer Indonesia diproyeksikan untuk misi-misi perdamaian. Sejauh ini, Indonesia konsisten dengan pilihan posisi tersebut. Dalam konteks itulah, baik di tingkat regional maupun global, modernisasi dan adopsi sistem senjata terbaru adalah keniscayaan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan