Kherson, Kehidupan di Bawah Jaring

Potret kota Kherson, sebuah kota di garis depan pertempuran Rusia dan Ukraina.

11 Nov 2025 10:29 WIB · Internasional

AP/Efrem Lukatsky

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Tiga tahun lalu, pada 11 November 2022, orang-orang berbondong-bondong ke alun-alun utama kota pelabuhan di Ukraina selatan ini. Mereka mengibarkan bendera biru-kuning dan memeluk tentara yang telah membebaskan mereka, setelah berbulan-bulan di bawah kendali Rusia. Saat itu mereka percaya bahwa masa terburuk telah berakhir.

Kini, sebagian besar jalan di Kherson kosong. Tiga tahun setelah pembebasan dan mengakhiri pendudukan Rusia selama sembilan bulan kondisi kembali mencekam. Kota yang dulu dipenuhi kegembiraan di jalanan sekarang berubah wujud dengan kehidupan di balik tembok, atau bahkan di bawah tanah.

Seorang penduduk Kherson mencium seorang tentara Ukraina yang membebaskan kota dari pasukan Rusia di Kherson, Ukraina, 13 November 2022.

Rusia kembali menyerang dari seberang sungai dengan drone dan tembakan rudal. Jendela di gedung-gedung yang pecah dan halaman rumah yang kosong menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, mereka bertahan bersikeras bahwa kehidupan di kota yang sebagian besar kosong dan tertutup itu lebih mudah daripada hidup di bawah Rusia.

Demi menjaga rasa kehidupan normal, beberapa aktivitas, terutama untuk anak-anak, telah dipindahkan ke bawah tanah. Bekas ruang bawah tanah apartemen kini menjadi ruangan nyaman berkarpet dan dekorasi warna-warni.

Sekali seminggu, klub anak-anak berkumpul untuk bermain catur. Meja-meja kecil memenuhi ruangan saat anak-anak fokus pada langkah berikutnya. Sebagian tertawa dan berkeliaran bebas.

Anak-anak berlatih di sekolah tinju di tempat penampungan bawah tanah di kota Kherson, Ukraina selatan, (2/11/2025).
Bangunan administrasi regional hancur setelah penembakan terus-menerus oleh Rusia di kota Kherson, Ukraina selatan, Minggu (2/11/2025).
Seorang anak laki-laki mengibarkan bendera nasional saat tentara Ukraina membebaskan kota dari pasukan Rusia di Kherson, Ukraina, 13 November 2022.
Anak-anak bermain catur di tempat penampungan bawah tanah di kota Kherson, Ukraina selatan, Minggu (2/11/2025).
Suasana penampungan bawah tanah di Kherson, Ukraina selatan, Minggu (2/11/2025).
Seorang anak laki-laki mengibarkan bendera nasional saat tentara Ukraina membebaskan kota dari pasukan Rusia di Kherson, Ukraina, 13 November 2022.
Bangunan yang hancur oleh penembakan Rusia, di alun-alun utama di kota Kherson, Ukraina selatan, Senin (3/11/2025).
Sebuah tanda bertuliskan Kherson dan bendera nasional Ukraina terlihat di jalan sepi menuju kota garis depan di Kherson, Ukraina selatan, Minggu (2/11/2025).

Penjual bunga

Kios bunga kecil milik Olha Komanytska, 55 tahun, tampak mencolok di tengah pusat kota Kherson yang hancur dilanda bom. Mawar merah dan putihnya berhamburan dari ember-ember tinggi di sudut jalan yang dulu selalu ramai pengunjung, tetapi kini hanya dikunjungi segelintir pelanggan.

”Hampir tidak ada yang membeli bunga,” katanya. Selama hampir 30 tahun, Komanytska dan suaminya menanam bunga di pedesaan Kherson. Kios itu adalah satu-satunya yang tersisa setelah rumah kaca mereka hancur. 

Seperti banyak orang di Kherson, Komanytska telah mempelajari aturan baru untuk bertahan hidup di kota itu. Ia bisa mengenali setiap senjata dari bunyinya, baik artileri, roket, maupun bom. Tetapi, drone adalah ancaman yang menakutkan. 

Ia sekarang tutup lebih awal dan berjalan pulang sambil menempel di dinding, terkadang bersembunyi di bawah pohon untuk menghindari ”mata” mereka. Satu-satunya saat wajahnya yang muram melembut menjadi senyuman adalah ketika ia mengenang pembebasan kota itu. ”Hari itu sungguh luar biasa,” kenangnya

Olha Komanytska, pemilik kios bunga kecil, membungkus karangan bunga mawar di kota garis depan Kherson, Ukraina Selatan, (2/11/2025).

Pertahanan langit

Drone adalah ancaman nyata saat ini. Setiap hari, pekerja kota merentangkan lebih banyak jaring plastik yang dahulu hanya digunakan untuk pengerjaan konstruksi, sekarang digunakan untuk melindungi warga sipil dari pesawat tak berawak.

Di atas jaring, sebuah perisai tak terlihat melindungi Kherson. Sistem peperangan elektronik kota ini menggunakan sinyal radio untuk mendeteksi, mengganggu, atau melumpuhkan drone musuh. Max, seorang tentara berusia 28 tahun, adalah orang yang bertanggung jawab untuk hal ini.

Ia bertugas di Batalyon Perang Elektronik Marinir ke-310, yang bertanggung jawab atas perisai elektronik di Kherson dan wilayah sekitarnya. Ia telah bekerja di bidang perang elektronik selama dua setengah tahun. Cara kerjanya lebih mirip seorang programmer. Layar komputernya menampilkan peta dan pergerakan benda-benda di langit. 

Seorang pengendara sepeda motor di bawah jaring ”antidrone” yang menutupi jalan di lingkungan perumahan di kota Kherson, Ukraina, Senin (3/11/2025).
Penduduk setempat berjalan di sepanjang jalan yang ditutupi dengan jaring ”antidrone” di kota garis depan Kherson, Ukraina, Senin (3/11/2025).
Seorang penduduk setempat berjalan di halaman yang ditutupi dengan jaring ”antidrone” di kota Kherson, Ukraina, Senin (3/11/2025).
Pekerja memasang jaring ”antidrone” di atas jalan di Kherson, Ukraina, Senin (3/11/2025).
Seorang penduduk lokal melintasi jalan yang ditutupi dengan jaring ”antidrone” di kota garis depan Kherson, Ukraina, Senin (3/11/2025).
Mobil melaju di jalan yang ditutupi dengan jaring ”antidrone” di Kherson, Ukraina, Senin (3/11/2025).
Antrean ”drone” jarak jauh An-196 Liutyi dari Resimen Sistem Udara Tanpa Awak ke-14 Ukraina sebelum lepas landas di lokasi yang dirahasiakan, Ukraina, Selasa (14/10/2025).
Tentara Rusia menyiapkan serangan pesawat drone FPV Molniya-2 untuk terbang menuju posisi Ukraina di lokasi yang dirahasiakan.
Seorang prajurit dari brigade bermotor ke-72 Ukraina menyiapkan ”drone” FPV di bengkel dekat garis depan di wilayah Kharkiv, Ukraina, Rabu (29/10/2025).

Max mengatakan, tugasnya adalah mendeteksi target dan memastikan mereka gagal dalam misi mereka. Saat ini drone digunakan untuk memburu warga sipil, merusak infrastruktur gedung maupun kendaraan, bahkan konvoi kemanusiaan. ”Saya pikir mereka hanya ingin menghancurkan kita sebagai sebuah bangsa, bukan hanya militernya, tapi semua orang agar kita tidak ada lagi,” tambahnya. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto