Potret kota Kherson, sebuah kota di garis depan pertempuran Rusia dan Ukraina.
11 Nov 2025 10:29 WIB · Internasional
AP/Efrem Lukatsky
Tiga tahun lalu, pada 11 November 2022, orang-orang berbondong-bondong ke alun-alun utama kota pelabuhan di Ukraina selatan ini. Mereka mengibarkan bendera biru-kuning dan memeluk tentara yang telah membebaskan mereka, setelah berbulan-bulan di bawah kendali Rusia. Saat itu mereka percaya bahwa masa terburuk telah berakhir.
Kini, sebagian besar jalan di Kherson kosong. Tiga tahun setelah pembebasan dan mengakhiri pendudukan Rusia selama sembilan bulan kondisi kembali mencekam. Kota yang dulu dipenuhi kegembiraan di jalanan sekarang berubah wujud dengan kehidupan di balik tembok, atau bahkan di bawah tanah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/11/0cd698dd-2843-4bd7-b0ed-aadd4bf786de_jpg.jpg)
Rusia kembali menyerang dari seberang sungai dengan drone dan tembakan rudal. Jendela di gedung-gedung yang pecah dan halaman rumah yang kosong menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, mereka bertahan bersikeras bahwa kehidupan di kota yang sebagian besar kosong dan tertutup itu lebih mudah daripada hidup di bawah Rusia.
Demi menjaga rasa kehidupan normal, beberapa aktivitas, terutama untuk anak-anak, telah dipindahkan ke bawah tanah. Bekas ruang bawah tanah apartemen kini menjadi ruangan nyaman berkarpet dan dekorasi warna-warni.
Sekali seminggu, klub anak-anak berkumpul untuk bermain catur. Meja-meja kecil memenuhi ruangan saat anak-anak fokus pada langkah berikutnya. Sebagian tertawa dan berkeliaran bebas.
Kios bunga kecil milik Olha Komanytska, 55 tahun, tampak mencolok di tengah pusat kota Kherson yang hancur dilanda bom. Mawar merah dan putihnya berhamburan dari ember-ember tinggi di sudut jalan yang dulu selalu ramai pengunjung, tetapi kini hanya dikunjungi segelintir pelanggan.
”Hampir tidak ada yang membeli bunga,” katanya. Selama hampir 30 tahun, Komanytska dan suaminya menanam bunga di pedesaan Kherson. Kios itu adalah satu-satunya yang tersisa setelah rumah kaca mereka hancur.
Seperti banyak orang di Kherson, Komanytska telah mempelajari aturan baru untuk bertahan hidup di kota itu. Ia bisa mengenali setiap senjata dari bunyinya, baik artileri, roket, maupun bom. Tetapi, drone adalah ancaman yang menakutkan.
Ia sekarang tutup lebih awal dan berjalan pulang sambil menempel di dinding, terkadang bersembunyi di bawah pohon untuk menghindari ”mata” mereka. Satu-satunya saat wajahnya yang muram melembut menjadi senyuman adalah ketika ia mengenang pembebasan kota itu. ”Hari itu sungguh luar biasa,” kenangnya
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/11/49432aad-bf40-482c-8949-b2c951a19bf6_jpg.jpg)
Drone adalah ancaman nyata saat ini. Setiap hari, pekerja kota merentangkan lebih banyak jaring plastik yang dahulu hanya digunakan untuk pengerjaan konstruksi, sekarang digunakan untuk melindungi warga sipil dari pesawat tak berawak.
Di atas jaring, sebuah perisai tak terlihat melindungi Kherson. Sistem peperangan elektronik kota ini menggunakan sinyal radio untuk mendeteksi, mengganggu, atau melumpuhkan drone musuh. Max, seorang tentara berusia 28 tahun, adalah orang yang bertanggung jawab untuk hal ini.
Ia bertugas di Batalyon Perang Elektronik Marinir ke-310, yang bertanggung jawab atas perisai elektronik di Kherson dan wilayah sekitarnya. Ia telah bekerja di bidang perang elektronik selama dua setengah tahun. Cara kerjanya lebih mirip seorang programmer. Layar komputernya menampilkan peta dan pergerakan benda-benda di langit.
Max mengatakan, tugasnya adalah mendeteksi target dan memastikan mereka gagal dalam misi mereka. Saat ini drone digunakan untuk memburu warga sipil, merusak infrastruktur gedung maupun kendaraan, bahkan konvoi kemanusiaan. ”Saya pikir mereka hanya ingin menghancurkan kita sebagai sebuah bangsa, bukan hanya militernya, tapi semua orang agar kita tidak ada lagi,” tambahnya. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto