Kiamat Iklim Kian Dekat, Sepertiga Spesies Diprediksi Punah pada 2100

Jika emisi terus naik, skenario terburuk suhu global bakal naik hingga 5,4 derajat celsius dan hal itu bakal memusnahkan sepertiga spesies pada akhir abad ini.

09 Des 2024 07:59 WIB · Lingkungan

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Perubahan iklim menekan keanekaragaman hayati dan banyak bukti menunjukkan terjadinya peningkatan proporsi kepunahan global yang diamati sejak 1970. Jika tren kenaikan emisi masih terjadi seperti saat ini, skenario terburuk suhu global naik hingga 5,4 derajat celsius pada akhir abad ini dan hal itu bakal menyebabkan kepunahan sekitar sepertiga dari semua spesies di Bumi.

Ahli biologi di Universitas Connecticut, Mark Urban, telah menemukan bukti bahwa sepertiga dari semua spesies yang hidup saat ini dapat punah pada tahun 2100 jika emisi gas rumah kaca tidak dikurangi atau dihentikan. Dalam penelitiannya yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis (5/12/2024), Urban menganalisis 485 penelitian yang dilakukan selama 30 tahun terakhir tentang kemampuan spesies untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Emisi gas rumah kaca buatan manusia menyebabkan pemanasan atmosfer dan air laut, dan peningkatan suhu ini akan menyebabkan perubahan cuaca yang ekstrem. Selain menjadi lebih hangat, beberapa tempat diperkirakan akan menjadi lebih basah dan yang lainnya lebih kering.

Dunia akan mengalami lebih banyak bencana, seperti kekeringan, badai, dan topan, selain badai petir atau badai salju. Perubahan tersebut akan memberi tekanan pada spesies yang tidak dapat mengendalikan lingkungan mereka seperti yang dilakukan manusia sehingga membahayakan keberlangsungan hidup banyak spesies.

Risiko kepunahan spesies yang diprediksi berdasarkan wilayah.

Dalam penelitian baru ini, Urban menemukan 485 makalah yang melibatkan studi tentang suatu spesies dan kemampuannya untuk bertahan hidup dari perubahan lingkungannya. Ia kemudian membandingkan data ini dengan estimasi pemanasan global di masa mendatang dan menentukan perubahan seperti apa yang mungkin terjadi dan di area mana.

Urban kemudian membuat estimasi tentang kemungkinan kelangsungan hidup spesies tertentu berdasarkan tempat tinggalnya dan kemampuannya untuk bermigrasi atau beradaptasi.

”Saya menyintesis 485 studi dan lebih dari 5 juta proyeksi untuk menghasilkan penilaian global kuantitatif tentang kepunahan perubahan iklim. Dengan kepastian yang meningkat, meta-analisis ini menunjukkan bahwa kepunahan akan meningkat pesat jika suhu global melebihi 1,5 derajat celsius,” kata Urban.

Infografik-Emisi Karbon Global *** Local Caption *** Infografik-RISET-Emisi Karbon Global

Tergantung emisi

Menurut Urban, tingkat kepunahan spesies di Bumi sangat bergantung pada skenario emisi global. Pada suhu global saat ini, di mana suhu sudah mencapai 1,3 derajat celsius di atas rata-rata praindustri, sebanyak 1,6 persen spesies diproyeksikan punah.

Risiko kepunahan spesies diproyeksikan meningkat menjadi 1,8 persen pada ambang batas kenaikan suhu 1,5 derajat celsius, sebagaimana dianjurkan oleh Persetujuan Paris (Paris Agreement) 2015. Jika kenaikan suhu melebihi ambang batas ini, risiko kepunahan meningkat menjadi 2,7 persen pada suhu 2 derajat celsius.

Dengan komitmen pengurangan emisi internasional saat ini, suhu Bumi diprediksi akan tetap meningkat menjadi 2,7 derajat celsius pada akhir abad ini. Hal ini akan mengancam 1 dari 20 spesies.

Quote

Beberapa kasus kepunahan berantai dapat terjadi di mana hewan kecil punah dan kemudian hewan besar yang memakannya punah.

Namun, kegagalan menekan emisi akan meningkatkan suhu lebih tinggi lagi. Risiko kepunahan dengan cepat meningkat hingga 14,9 persen pada suhu 4,3 derajat celsius dan 29,7 persen pada suhu 5,4 derajat celsius.

”Amfibi, spesies dari ekosistem pegunungan, pulau, dan air tawar; dan spesies yang menghuni Amerika Selatan, Australia, dan Selandia Baru menghadapi ancaman terbesar,” ujar Urban.

Reintroduced Brush-tailed bettong or Woylie Bettongia penicillata living wild and free in the feral predator-proof exclosure, mallee woodland of Scotia Wildlife Sanctuary, western New South Wales, site of endangered species recovery projects conducted by the Australian Wildlife Conservancy. *** Local Caption *** Woylie, marsupial Australia yang langka. Hasil penelitian menunjukkan spesies woylie lebih terpengaruh cuaca ekstrem.

Dalam kajian ini, Urban mengevaluasi secara terpisah enam set faktor yang diharapkan memengaruhi estimasi risiko kepunahan. Faktor yang menjelaskan varians terbesar dalam prediksi risiko kepunahan adalah geografi (14,5 persen), tipe ekosistem (12,9 persen), pendekatan pemodelan (11,6 persen), dan tingkat ancaman (11,2 persen).

Ia mencatat bahwa beberapa kasus kepunahan berantai dapat terjadi di mana hewan kecil punah dan kemudian hewan besar yang memakannya punah. Ia juga mencatat bahwa beberapa kelompok atau jenis spesies memiliki risiko yang jauh lebih tinggi daripada yang lain, seperti amfibi.

Selain membatasi gas rumah kaca, menentukan spesies mana yang harus dilindungi terlebih dahulu akan sangat penting untuk melestarikan keanekaragaman hayati sampai perubahan iklim antropogenik dihentikan dan dibalik.

(A) Anomali suhu daratan dan lautan global dalam derajat celsius relatif terhadap rata-rata tahun 1850–1900 dari NOAA. (B) Setiap titik menunjukkan kepunahan dan perkiraan tahunnya dari IUCN. Kepunahan yang sebagian disebabkan oleh perubahan iklim disorot dengan warna jingga.  Gambar menunjukkan (1) burung pemakan madu Kaua’i Akialoa yang telah punah, (4) tanaman Golden Fuchsia, (14) siput darat Pachnodus velutinus, dan (15) tikus Bramble Cay Melomys. (C) Seiring berjalannya waktu, proporsi kepunahan dengan kontribusi perubahan iklim per dekade meningkat.

Kehidupan laut

Penelitian terpisah menunjukkan bahwa kehidupan di lautan termasuk yang paling terancam. Riset yang dilaporkan Daniel G Boyce dari Dalhousie University, Kanada, dan tim di jurnal Nature Climate Change pada Agustus 2022 menemukan, sekitar 90 persen dari seluruh kehidupan laut di Bumi akan terancam punah pada tahun 2100 jika emisi gas rumah kaca tidak dikurangi.

Emisi gas rumah kaca meningkatkan suhu atmosfer dan perairan Bumi dengan menahan panas. Emisi karbon dioksida juga membuat air lebih asam, seperti minuman ringan berkarbonasi, menyebabkan kehidupan di lautan sulit bertahan.

Dalam penelitiannya, Boyce dan tim mengamati 25.000 spesies, termasuk ikan, bakteri, tumbuhan, dan protozoa, yang hidup di 100 meter teratas lautan dunia. Mereka menemukan bahwa dalam skenario terburuk, di mana emisi menyebabkan peningkatan suhu atmosfer global sebesar 3-5 derajat celsius, sekitar 90 persen dari semua kehidupan laut akan punah.

Mereka juga menemukan bahwa jika emisi dipotong hingga batas yang digariskan oleh Persetujuan Paris, yang akan menjaga peningkatan suhu global di bawah 2 derajat celsius, risiko kepunahan akan berkurang sekitar 98 persen.

Fenomena pemutihan karang turut terjadi pada sebagian terumbu karang di dekat Pulau Menjangan Kecil, Kecamatan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (16/4/2024). Pemutihan karang merupakan proses perubahan warna pada karang menjadi putih antara lain karena pemanasan suhu air laut di tengah berlangsungnya perubahan iklim. Pemutihan karang terjadi secara global dan menjadi salah satu ancaman serius terhadap kelestarian lingkungan laut.

Para peneliti juga menemukan bahwa predator puncak yang lebih besar lebih berisiko daripada predator yang lebih kecil, seperti halnya spesies ikan di daerah tempat mereka banyak ditangkap oleh manusia. Di sisi lain, mereka yang berisiko paling rendah termasuk spesies kecil yang berumur pendek.

Menurut Boyce, ancaman kepunahan massal yang diprediksi di akhir abad ini mirip dengan yang pernah terjadi dalam epos Bumi, yang juga pernah mengalami kepunahan besar 252 juta tahun yang lalu. Upaya kepunahan massal spesies ini hanya bisa dicegah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca segera.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan