”Kiasu” agar Tak Jadi ”Madesu” (4)

Kultur kompetitif dan kerja keras menjadikan Singapura negeri yang unggul di kawasan regional. Sekalipun harus ditebus dengan tekanan mental yang memicu stres.

03 Des 2024 06:50 WIB · Kesehatan

Oleh Melati Wewangi, Insan Alfajri, Stefanus Ato, Sarie Febriane, Pandu Wiyoga

Takut tertinggal jauh, takut kalah, dan kompetitif akrab melekat pada kultur di Singapura. Tak hanya bagi warganya, tetapi juga termasuk menghinggapi sebagian perantau di sana. Ada yang memandangnya negatif, tetapi ada pula yang merasa termotivasi. Suka atau tidak, demikianlah iklim kompetitif yang terbentuk di negeri itu. 

Di Singapura, budaya untuk takut tertinggal jauh atau kalah dari lainnya dikenal dengan istilah kiasu. Bahkan, tokoh komik terkenal asal Singapura juga dijuluki Mr Kiasu, yang digambarkan sebagai seseorang yang kiasu banget dalam kehidupan sehari-harinya.  

Komik ini diterbitkan pada tahun 1990-an oleh seniman Singapura Johnny Lau. Kemudian dibuat serial sitkomnya pada tahun 2001. Bukan hanya mengulik sosok Mr Kiasu, tapi turut menampilkan realitas budaya kiasu di sekitarnya, seperti di dunia kerja, sosial, dan sistem pendidikan.  

Suasana kerja di kantor perusahaan teknologi Cisco di Singapura, Rabu (18/5/2022).

Realitasnya kiasu hampir ada dalam berbagai aspek kehidupan. Sama halnya seperti Mr Kiasu yang kompetitif, selalu berupaya di posisi unggul, hingga hal sederhana tak mau kelewatan promo makanan. Hal lain yang bisa dijumpai adalah tak mau kalah dalam memiliki barang bermerek, tak mau kalah dalam berbisnis, dan tak mau kalah berprestasi.

Iklim kompetitif ini kental dirasakan oleh sejumlah pelajar asal Indonesia di Singapura. Mereka beradaptasi dengan budaya kiasu di lingkungan mereka. Di awal mereka merasakan berat, seiring waktu mulai terbiasa dan belajar beradaptasi. 

Jemima, bukan nama sebenarnya, bernostalgia mengingat masa SMP-SMA di Singapura. Ini kali pertama dia sekolah asrama dan jauh dari keluarganya. Saat awal masuk sekolah, dia cukup kaget dengan materi-materi yang diberikan. Bukan matematika atau sains yang membuatnya pusing, melainkan pelajaran bahasa Inggris dan social studies.  

”Kaliber orang-orang di sana beda banget. Orang-orangnya sangat termotivasi dan hard-working. Jadi gampang banget untuk tidak mau kalah dengan lainnya,” ucapnya yang kini berkarier di Inggris. 

Di sekolahnya, siswa dituntut untuk rajin membaca dan menguasai banyak isu, serta harus menyelami sastra-sastra lama. Soal ujian yang diberikan lebih banyak dalam bentuk jawaban esai. Siswa dituntut untuk bisa memberikan argumentasi atau pandangannya terhadap suatu permasalahan.  

”Pas di Indonesia, aku lumayan confident bahasa Inggris-ku. Terus sampai sini, oh my God, aku ngerasa semua orang di sini (Singapura) tuh pinter-pinter. Aku mikir, ngapain aku di sini, grammar-ku waktu itu masih jelek banget,” selorohnya. 

Jumlah WNI yang Menjadi WN Singapura

Kesehatan mental 

Catatan nilai dari guru menjadi titik awal kerja keras Jemima. Ia pun terpacu untuk belajar lebih keras setiap saat demi mengejar ketinggalannya. Hari-harinya di SMP dan SMA dilalui dengan lebih intens belajar bersama teman-teman asramanya dari sejumlah negara. 

”Nah nangis itu sering, tapi nangisnya bareng teman-teman di asrama. Secara mental ini membantu banget karena sama-sama susah dan saling bantu,” katanya. 

Senada dengan Jemima, HER juga termotivasi untuk belajar keras pada materi yang dianggapnya sulit. Di sisi lain dia merasa capek karena harus belajar mati-matian. Dia merasa kerja kerasnya tidak sia-sia setelah melihat hasilnya baik. 

”Singapura itu sangat kompetitif. Ada istilah kiasu, orang-orang mau jadi yang terbaik. Itu kayak bikin tertekan juga,” kata HER. 

Aktivitas masyarakat di kawasan Fullerton Road, Kamis (12/9/2024), salah satu area yang ditetapkan seabagai zona rendah emisi atau low emission zone di Singapura.

Kiasu dominan dipandang negatif karena membuat sebagian merasa tertekan, stres, dan tidak bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya. Di sisi lain, mental kiasu menjadi bensin yang mendorong seseorang semakin giat belajar dan bekerja keras demi meraih tujuan yang diinginkan.  

Dikutip dari siaran pers laman Kementerian Kesehatan Singapura terkait temuan kondisi kesehatan mental dan kesejahteraan remaja di Singapura, yakni satu dari tiga anak muda berusia antara 15 dan 35 tahun di Singapura melaporkan gejala depresi, kecemasan, atau stres yang parah/sangat parah. 

Studi Kesehatan Mental Remaja Nasional (NYMHS) yang dirilis Institut Kesehatan Mental (IMH) mendorong upaya-upaya untuk meminimalkan dan mengatasi masalah kesehatan mental yang dilakukan pemerintah. Sejak Oktober 2023, pemerintah merilis Strategi Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Nasional. 

Pemerintah Singapura menyiapkan banyak dukungan kesehatan mental kepada kaum muda di sekolah, pengembangan di luar kelas, hingga menyediakan layanan kesehatan mental melalui Youth Community Outreach Teams (CREST-Youth) dan Youth Integrated Teams (YITs). Dengan harapan, kaum muda dapat segera tertangani sejak dini. Ke depan, tim tersebut akan diperluas jangkauannya.  

Pengunjung berfoto di dekat Patung Merlion di kawasan Taman Merlion, Singapura, Jumat (4/11/2022). Pada September 2022, patung yang menjadi ikon Negeri Singa tersebut genap berusia 50 tahun. Adapun lokasi patung Merlion saat pertama dibangun, pada 1972 yakni di mulut Singapore River.

Tak heran jika penanganan kesehatan mental menjadi perhatian khusus. .Jika melihat data Suicide Worldwide in 2019 yang dirilis oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021, Age-Standardized Suicide Rate (ASR) untuk Singapura adalah 9,6 kematian per 100.000 penduduk.

Angka itu lebih tinggi dari rata-rata ASR global, yakni 9,0 kematian per 100.000 penduduk. Sementara ASR untuk Indonesia sebesar 2,6 kematian per 100.000 penduduk.

Dituntut banyak 

Dengan sistem pendidikan yang kompetitif, orangtua menuntut anaknya harus begini-begitu mengikuti ekspektasi mereka. Dalam hal ini, tuntutan yang dimaksud adalah harus masuk sekolah terbaik, mendapatkan peringkat atas, dan bekerja di sektor yang membanggakan. Pokoknya harus menjadi orang mapan dan ”seseorang” di kemudian hari. 

TIR melihat orang-orang di Singapura juga pintar-pintar, tetapi terlihat seperti stres. Bahkan, beberapa temannya pun sudah didorong untuk mengikuti banyak les sejak kecil oleh orangtua. Di sana orang-orang belajar terbiasa stres. 

Pemandangan di depan Marina Bay Sands, Singapura, Sabtu (26/10/2024).

”Mereka belajar stres. Kalau bukan demi dirinya, ya demi orangtuanya. Aku cuma merasa kayak hidup lebih dari itu gitu, lho. Kayak beberapa orang bilang anak Singapura itu jadi kurang kreatif,” ucap TIR. 

Menurut dia, warga Singapura mempunyai sistem bagus yang sudah disiapkan. Ia mencontohkan pemerintah setempat membuat insentif bagi anak-anak yang sukses secara konvensional. Mereka yang pintar akan masuk sekolah yang bagus dan diberi beasiswa ke luar negeri. Tak heran mereka fokusnya pada belajar dan belajar.  

Potret kaum muda Singapura yang mendobrak standar ideal digambarkan dalam sebuah film dokumenter garapan Netflix berjudul Singapore Social. Dalam dokumenter ini tekanan sosial dan tuntutan keluarga tak menghalangi mereka untuk mengikuti rencananya.  

Beberapa tokoh dalam dokumenter tersebut berpendapat bahwa generasi lama sangat berpikiran tertutup tentang standar ideal karier anaknya. Mereka yang mendapatkan nilai bagus di sekolah akan menjadi sukses di kemudian hari. Namun, dalam prosesnya mereka mengabaikan kebahagiaan yang dirasakan anak-anaknya.  

Sebuah bus melintas di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Senin (28/10/2024). Sejumlah jebolan anak-anak Indonesia jebolan olimpiade sains kuliah di kampus ini.

Mereka tidak terpaku pada standar yang ditetapkan orangtua harus sekolah dan menjadi pegawai, tetapi justru mengambil risiko untuk menekuni bidang industri kreatif. Dalam hal ini, ada yang menekuni fashion design, penyanyi, model, dan sinematografi.  

Dokumenter Singapore Social menggambarkan tentang sektor industri kreatif di Singapura. Namun, dunia industri kreatif bukan berada di tiga besar pilar unggulan. Jika mengacu pada laporan World Intellectual Property Organization (WIPO) terkait Global Innovation Index (GII), Singapura berada di peringkat ke-4 dari 51 negara ekonomi berpendapatan tinggi. Posisi ini menunjukkan capaian Singapura yang naik empat tingkat dibandingkan tahun 2020.  

Dari tujuh bidang yang menjadi bagian dari GII, peringkat pertama dari Singapura adalah pilar institusi. Disusul oleh sumber daya manusia dan penelitian di peringkat ke-2. Selanjutnya pada peringkat ke-3 adalah kecanggihan bisnis. Singapura memiliki pilar terendah pada creative outputs, antara lain, desain industri menurut asal, film fitur nasional, ekspor jasa budaya dan kreatif, serta pasar hiburan dan media.  

Terlepas dari sisi gelapnya, kultur kiasu setidaknya membuat Singapura yang usianya baru 59 tahun sebagai negara itu mampu terhindar dari “madesu” alias masa depan suram.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Melati Wewangi, Insan Alfajri, Stefanus Ato, Sarie Febriane, Pandu Wiyoga
 | 

Editor:

Sarie Febriane, Andy Riza Hidayat