Prestasi Rajiah Sallsabillah di NEOM IFSC Masters 2024 menambah kilau perjalanannya sepanjang tahun ini sekaligus menambah kilap prestasi panjat tebing.
17 Nov 2024 13:25 WIB · Olahraga
Setelah menyentuh tombol finis dan menyadari dialah yang menggapainya lebih dulu, Rajiah Sallsabillah mengusap kedua tangan ke wajah. Selepas turun dari puncak dinding panjat, Rajiah bersujud sebagai tanda syukur karena memenangi NEOM IFSC Masters 2024.
Pada partai final di Neom Beach Games Mountain Village, Arab Saudi, Rabu (13/11/2024), atlet yang kerap disapa Billah ini beradu kecepatan dengan wakil Polandia, Aleksandra Kalucka. Mereka sempat berimbang pada awal perlombaan, tetapi kemudian Kalucka tertahan karena nyaris terpeleset.
Sementara itu, Billah terus melaju tanpa terganggu sampai akhirnya menyentuh tombol finis lebih dulu. Pemanjat asal Tangerang, Banten, ini mencatatkan waktu 7,13 detik, sedangkan lawannya sesama atlet Olimpian ini finis dalam waktu 7,90 detik. Billah pun keluar sebagai juara.
”Saya sangat bersemangat bisa berkompetisi di sini lagi, seperti tahun lalu. Saya ingin berterima kasih kepada rekan setim saya yang telah mendukung, juga kepada Bu Yenny (Wahid, Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia), yang datang langsung ke sini. Saya sangat menikmati perlombaan ini,” tutur Billah saat diwawancara Federasi Panjat Tebing Internasional (IFSC) selepas final.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/c595ac6f-86c7-49c3-b950-9e5c6be5d03e_png.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/13/c18e3b15-fd1e-4331-a3e2-9d9ba536d8e2_jpeg.jpg)
Billah tampil konsisten sejak babak kualifikasi. Meski belum mampu menyamai atau melampaui catatan waktu terbaiknya, 6,22 detik, Billah terus melaju nyaris tanpa kesalahan. Dia mampu menjaga ketenangan dan fokus sehingga tidak pernah terpeleset.
Dengan keberhasilan di NEOM IFSC Masters 2024, Billah mempertahankan prestasi pada edisi sebelumnya. Tak hanya itu, pemanjat 25 tahun ini juga melengkapi perjalanannya sepanjang tahun ini yang cukup cerah. Dia pun menutup dengan manis kiprah panjat tebing di panggung internasional.
Sepanjang 2024, Billah tampil apik dengan memulainya lewat raihan perak dan perunggu dalam seri kualifikasi Olimpiade di Budapest dan Shanghai. Keberhasilan itu pula yang membawanya mendapatkan tiket ke Olimpiade Paris 2024.
Di Paris, Billah tak berhasil membawa pulang medali. Namun, dia menjadi pemanjat putri Indonesia yang melangkah paling jauh dengan menembus semifinal. Wakil Indonesia lainnya, Desak Made Rita Kusuma Dewi, terhenti di perempat final.
Tidak hanya itu, Billah juga berkali-kali menajamkan catatan waktu pribadinya menjadi 6,58 detik, 6,54 detik, dan 6,41 detik. Sebulan kemudian, Billah kembali menajamkannya di PON hingga mencapai 0,19 detik menjadi 6,22 detik.
Setelah Olimpiade, Billah meraih medali emas PON yang merupakan prestasi tertinggi pertamanya di ajang tersebut. Dia melanjutkannya dengan meraih medali perak di seri Piala Dunia di Seoul, Korea Selatan, serta meraih emas dan perunggu di IFSC 4 Speed Madrid di Spanyol.
Konsistensi Billah mempersembahkan medali ini turut membawa prestasi panjat tebing ”nyaring” di panggung internasional. Cabang ini selalu membawa pulang medali dari setiap kompetisi yang diikuti.
Dimulai dari medali perak di seri Piala Dunia Wujiang, China, lalu satu medali emas dan satu medali perak dari seri Kualifikasi Olimpiade di Shanghai, China. Panjat tebing juga menyumbang satu medali perak dan satu medali perunggu di seri kualifikasi Olimpiade di Budapest, Hongaria. Puncaknya ialah medali emas Olimpiade Paris 2024 oleh Veddriq Leonardo.
Di NEOM IFSC Masters yang merupakan turnamen terakhir yang diikuti tim panjat tebing Indonesia pada tahun ini, prestasi juga ditorehkan Desak Made Rita Kusuma Dewi. Setelah sempat menjadi pemanjat tercepat pada babak kualifikasi dengan 6,72 detik, Desak membawa pulang medali perunggu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/f2110885-7d40-4cb3-ad32-32fdd7556363_png.jpg)
Pada semifinal, Desak sebenarnya sempat unggul saat beradu kecepatan dengan Aleksandra Kalucka. Namun, pemanjat asal Bali ini terpeleset dan sulit untuk mengejar Kalucka yang terus melaju. Alhasil, kesempatan menyamai atau bahkan melebihi prestasinya pada edisi 2023 ketika meraih medali perak pun gagal terpenuhi.
Namun, Desak membalasnya di laga perebutan tempat ketiga atau small final melawan Jimin Jeong dari Korea. Pemanjat berusia 23 tahun ini menang dengan keunggulan tipis 0,06 detik setelah finis dalam waktu 6,72 detik.
Sementara itu, tidak ada medali yang dipersembahkan pemanjat putra. Padahal, pada edisi sebelumnya, Indonesia membawa pulang medali emas lewat Veddriq Leonardo dan perunggu dari Rahmad Adi Mulyono.
Dua pemanjat putra, Veddriq Leonardo dan Kiromal Katibin, sebenarnya mampu mengawali perlombaan dengan gemilang. Mereka berhasil memuncaki daftar peringkat kualifikasi. Veddriq, dengan catatan waktu terbaik 5,14 detik, dan Kiromal (5,17 detik) menjadi dua pemanjat tercepat dari total 23 atlet yang berpartisipasi.
Pemanjat putra lain yang berlomba di NEOM, Aspar Jaelolo, juga melaju ke putaran final setelah menempati peringkat ke-16. Pemanjat veteran yang berencana pensiun selepas dari NEOM ini menorehkan catatan waktu terbaik 5,58 detik.
Namun, karena peringkat kualifikasi tersebut, Veddriq dan Aspar harus bertemu pada babak 16 besar. Langkah Veddriq terhenti saat awal perlombaan, lalu langkahnya sempat tertahan ketika mencoba mengejar Aspar. Veddriq mencatatkan waktu 6,48 detik, sedangkan Aspar 5,79 detik.
Langkah Aspar hanya sampai perempat final setelah terjatuh atau fall saat beradu kecepatan dengan wakil Jepang, Jun Yasukawa. Kiromal Katibin juga terhenti pada babak yang sama setelah kalah cepat dari Kostiantyn Pavlenko (Ukraina).
Kiromal, yang sempat terpeselet, harus puas finis dengan waktu 6,78 detik. Adapun Pavlenko melaju ke semifinal setelah mencatatkan waktu 5,66 detik.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .