Kurasi menjadi kunci. Dengan begitu, ikhtiar festival jazz untuk menghibur pengunjung tidak kehilangan semangat ”nge-jazz”-nya.
10 Agt 2025 07:32 WIB · Musik
Awal Juli lalu jagat media sosial dihebohkan dengan polemik ”Festival Jazz yang Enggak Nge-Jazz” yang dilontarkan musisi jazz kenamaan Indonesia. Kehebohan itu tak menggoyahkan perhelatan Jazz Gunung yang kini memasuki tahun ke-17. Festival ini mengombinasikan berbagai elemen genre musik dengan dominasi proporsi jazz, menjadi poros tengah di antara tarikan kutub jazz. Kuncinya ada di kurasi yang berlandaskan pada konsep dan argumen yang kuat.
Suara gitar Badrus Zeman meraung-raung di tengah kesunyian sore di Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (26/7/2025). Dia tidak sedang tampil di festival rock atau konser musik cadas khas bandnya, Lhorju’. Badrus justru sedang unjuk gigi di festival musik jazz, BRI Jazz Gunung Series 2.
Cukup mengejutkan, apalagi lagu-lagu Lhorju’ menggunakan lirik berbahasa Madura yang tak semua orang tahu. Badrus pun terkejut bandnya bisa lolos kurasi dan sambil tertawa merasa tidak tahu diri tampil di festival jazz.
Lagunya juga mengusung tema yang tak lazim seperti kehidupan nelayan Madura. Di ”Abhantal Ombak”, misalnya, penonton diajak ke laut yang penuh tantangan dan menyelami perjuangan keras nelayan.
Meski identik dengan rock, Lhorju’ masuk kategori world music karena menggabungkan alat musik tradisional dan modern menjadi satu. ”Terus, bagaimana saya mengeja bahasa ibu saya sendiri gitu,” ujar pria kelahiran Sumenep, Madura, 34 tahun yang lalu tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/803ea4465efec527017b819ce1c3118e-20250728_PDS03.JPG)
Pascapolemik ”Festival Jazz yang Enggak Nge-Jazz”, komposisi penampil Jazz Gunung tak lepas dari pergunjingan. Selain Lhorju’ yang bukan bergenre jazz, ada juga bintang pop asal Malang, Jatim, Salmantyo Ashrizky Priadi atau yang populer dengan nama panggung Sal Priadi. Sal menjadi penampil utama.
Kehadiran Sal Priadi pun menjadi pertanyaan dan dianggap hanya sebagai daya tarik agar orang menonton festival ini. Anggapan itu dibaca oleh Sal. Dia berusaha tampil dengan nuansa jazz. ”Saya enggak bilang jazz, tetapi nuansanya-lah kurang lebih bisa dibilang ke arah sana gitu, jazz,” ujarnya.
Sal menepati janjinya. Dia menutup BRI Jazz Gunung Series 2 dengan pertunjukan musik konseptual nan atraktif layaknya drama musikal. Meski bergenre pop, dia juga memberikan improvisasi khas musik jazz.
Sal membawakan sepuluh lagu, menggandeng dua penyanyi latar. Ada untungnya Sal memiliki lagu unik dan lucu sehingga terasa penuh improvisasi. Belum lagi pembawaannya yang ceria. Di bawah kilau sinar lampu panggung, Sal berlarian menguasai panggung sederhana dengan latar belakang susunan instalasi bambu menjulang ke atas.
Selain Lhorju’ dan Sal, praktis tak ada masalah karena penampil lain bergenre jazz. Natasya Elvira tampil bersama musisi jazz yang digembleng melalui Bromo Jazz Camp. Rouge dari Perancis membawakan tujuh lagu. Salah satu lagu dari mereka, ”Louves”, yang berarti serigala, menggambarkan kehidupan di hutan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/7af12169d4f0d4435518e5f734d1e3fa-20250728_PDS07.JPG)
Tohpati Ethnomission dan Bintang Indrianto Trio membawakan lagu-lagu jazz instrumental. Penampilan Tohpati memperlihatkan keanekaragaman budaya Indonesia yang tergambarkan dalam lagu-lagu seperti ”Janger”, ”Barong”, dan ”Reog”. Mereka menunjukkan bahwa jazz juga bisa dibawakan dengan menggunakan alat musik tradisional.
Sementara Bintang menampilkan delapan lagu instrumental dengan permainan bas yang penuh improvisasi. Dia menggabungkan elemen musik dari genre lain seperti rock dan funk khas fusion jazz yang cukup memberikan kehangatan di sore yang mulai mendingin.
Bintang Indrianto yang menjadi kurator dalam festival ini menegaskan, garis merah dari jazz adalah improvisasi. ”Jazz sama dengan improvisasi. Sama dengan itu bisa dibaca bisa improvisasi, harus improvisasi, silakan improvisasi, enggak ada yang melarang jangan improvisasi,” jelasnya.
Dalam proses pengurasian bersama Dewa Budjana dan Bagas Indyatmono selaku Direktur Jazz Gunung Indonesia, Bintang menjalankan prinsip ”Leica” yang merupakan akronim dari legend, emerging atau established, international, community atau collaboration, dan anchor.
Prinsip ini sudah ada sejak awal festival Jazz Gunung didirikan oleh Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan almarhum Djaduk Ferianto. Leica, yang merupakan merek kamera, digunakan karena Sigit yang berprofesi bankir menjalani hobi fotografi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/77c94a301f86a1eba22ec93dc019d4ee-20250728_PDS04.JPG)
”Saya, Mas Bagas, dan Mas Budjana tuh meneruskan kerjaannya Mas Djaduk almarhum, Pak Butet Kartaredjasa, dan Pak Sigit Pramono,” ujar Bintang.
Ketiganya sepakat menggunakan tema jazz karena Djaduk beranggapan bahwa jazz Indonesia tidak ada. Ketiga pendiri tersebut sangat menyukai musik jazz. Oleh karena itu, mereka sepakat Jazz Gunung harus tetap menampilkan jazz secara dominan meski didampingi musik etnis maupun pop.
Mengacu pada prinsip Leica, maka Jazz Gunung pernah mengundang musisi jazz legendaris seperti Bubi Chen. Aspek emerging mengacu pada musik etnik yang harus dipertahankan. Oleh karena itu, Lhorju’ yang mengusung konsep world music masih bisa masuk di festival ini.
Musisi internasional juga diundang sebagai bentuk kerja sama dengan kebudayaan dari negara lain. Perhelatan Jazz Gunung sejauh ini sudah bekerja sama dengan kedutaan Jerman, Belanda, dan Perancis. Mereka sangat senang melihat musik etnik yang tampil di Jazz Gunung agar bisa mengenal kebudayaan Indonesia.
Sementara aspek community atau collaboration mengacu pada upaya mengembangkan komunitas jazz yang ada di daerah, seperti Malang, Surabaya, dan Surakarta. Jazz Gunung memantau komunitas jazz di berbagai daerah dan membuka kemungkinan untuk mengembangkannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/08/7965133ba0fa9847bdb53dd0ff26eb18-20250807_PDS03.JPG)
Musisi yang tengah populer masuk pada kategori anchor. Itu sebabnya Sal Priadi bisa tampil di festival ini. Begitu juga BRI Jazz Gunung Series 1, diisi bintang utama grup musik RAN yang bergenre R&B. Jazz Gunung pernah mengundang Vina Panduwinata untuk tampil pada pukul 17.00, bukan di pengujung acara.
Keberadaan musisi yang populer, baik jazz maupun pop, sangat berpengaruh terhadap animo masyarakat yang rela datang ke tempat yang jauh dari perkotaan demi menyaksikan Jazz Gunung. Bagas menyebut, jumlah pengunjung selama delapan hari penyelenggaraan BRI Jazz Gunung Series 1 dan 2 mencapai 14.030 pengunjung.
Series 1 berlangsung pada 19-20 Juli, sedangkan series 2 pada 25-26 Juli. Untuk mendukung festival ini, penyelenggara festival dan sponsor bekerja sama dengan porsi masing-masing 50 persen. Adapun tempat duduk panggung amfiteater terbuka Jiwa Jawa Resort Bromo berkapasitas 2.500 penonton.
Bagas Indyatmono menegaskan, Jazz Gunung tidak akan terpengaruh dengan polemik ”Festival Jazz yang Enggak Nge-Jazz” yang berkembang di media sosial. Polemik ini sempat memicu Dewa Budjana ikut berkomentar di Instagram.
Jazz Gunung tidak akan pernah mengubah konsep festival ini karena bisa mempertanggungjawabkan proses kurasi yang dilakukan. ”Jadi, apa pun yang terjadi, Jazz Gunung memang akan tetap seperti ini karena memang kita sudah bisa mempertahankan konsep kurasi itu sejak awal,” ujar Bagas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/b46f556bd949787eef680f872a74b949-20250728_PDS06.JPG)
Dalam dua tahun ini, Jazz Gunung mengembangkan Jazz Camp. Dari program ini, peserta dididik untuk melihat audiens musik jazz di Indonesia. Mereka secara langsung melihat di lapangan bahwa audiens dari luar negeri mencari musik etnik yang tidak ada di negaranya.
Jazz Camp juga menjadi salah satu kanal untuk menelurkan musisi-musisi jazz baru. Tak hanya mendapat pelatihan musik, para peserta juga mendapat kesempatan tampil satu panggung dengan Natasya Elvira di BRI Jazz Gunung Series 2, Sabtu (26/7/2025). Program ini dipimpin oleh basis muda Kevin Yosua, didampingi mentor Sri Hanuraga (pianis), Hansen Arief (drumer), Alfado Jacob (gitaris), dan Monita Tahalea (vokalis).
Mereka tampil bergantian memainkan swing jazz yang mengentak. Di lagu terakhir, Natasya tampil bersama dua vokalis hasil didikan Jazz Camp, Febi dan Calista. Ketiganya membawakan lagu ”Bye Bye Blackbird” karya Ray Henderson dan Mort Dixon, diiringi para mentor.
Perasaan bangga ditunjukkan Calista (29), asal Sidoarjo, Jawa Timur. Bagi Calista yang sebelumnya lebih banyak tampil di sekolah musik Jazz Centrum, Surabaya, Jatim, ini adalah pengalaman berharga. Apalagi, suaminya, David (32), yang pemain drum juga lolos Jazz Camp.
Kevin menuturkan, Jazz Camp diselenggarakan sejak tahun lalu. Sebelum tampil di Bromo, peserta harus terlebih dulu mengikuti Jazz Camp di Surakarta, Jawa Tengah. Setelah dikurasi, peserta boleh mengikuti Jazz Camp Bromo. Mereka ada yang sudah berpengalaman tampil di kelab jazz, ada juga yang baru terjun ke musik jazz.
Jazz Camp, lanjut Kevin, merupakan bagian dari proses regenerasi jazz di Indonesia. Para peserta pun mendapat tempat untuk tampil dan dikenal publik secara luas. Di Jazz Camp, peserta juga diberi pengetahuan untuk berkarya, mencari tempat untuk tampil, dan membangun komunitas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/30/c91e5927f57612b111643211c361d93b-20250730_PDS01.jpeg)
Setelah BRI Jazz Gunung Series 1 dan 2 berakhir, festival ini dilanjutkan dengan BRI Jazz Gunung Series 3 di Ijen, Banyuwangi, Jatim, pada Sabtu (9/8/2025). Jazz Gunung Ijen sudah diselenggarakan sejak 2018, yang sebelumnya digelar dalam skala lebih kecil dengan nama Ijen Summer Jazz selama dua tahun sebelumnya.
Selain perhelatan Jazz Gunung, perhelatan jazz lain yang bisa dibilang bersetia merawat semangat jazz di antaranya Ubud Village Jazz Festival di Bali, Ngayogjazz di Yogyakarta, juga Legato Jazz Camp yang kemudian diadopsi oleh Jazz Gunung.
Seperti dalam Jazz Gunung, kurasi menjadi kunci sehingga mampu menjadi poros tengah. Dengan begitu, ikhtiar festival jazz untuk menghibur pengunjung tidak kehilangan semangat ”nge-jazz”-nya.
Penulis:
Prayogi Dwi SulistyoEditor:
Moh. Hilmi Faiq, Sarie Febriane, Dwi AS SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul