Kinerja Apik Ekspor Menyangga Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kementerian Perdagangan akan menjaga keberlanjutan kinerja apik ekspor di tengah perlambatan mesin utama ekonomi nasional, yakni konsumsi rumah tangga.

05 Nov 2024 20:10 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi - [email protected]

JAKARTA, KOMPAS — Kinerja ekspor triwulan III-2024 tumbuh apik di tengah melambatnya mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional, yakni konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu, pemerintah di era kepemimpinan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka berupaya menjaga keberlanjutan kinerja apik ekspor untuk menyangga pertumbuhan ekonomi nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (5/11/2024), merilis ekonomi Indonesia pada triwulan III-2024 tumbuh 4,95 persen secara tahunan. Mesin utama pertumbuhan ekonomi tersebut yakni konsumsi rumah tangga, hanya tumbuh 4,9 persen.

Adapun ekspor, pertumbuhannya pada triwulan III-2024 sebesar 9,09 persen secara tahunan. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 22,53 persen. Pertumbuhan ekspor tersebut jauh lebih baik dibandingkan pada triwulan I dan II tahun ini yang tumbuh masing-masing -3,91 persen dan 8,18 persen.

Quote

Ekspor Indonesia pada triwulan III-2024 tumbuh 9,09 persen secara tahunan. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto sebesar 22,53 persen.

Pelaksana tugas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, ekspor Indonesia pada triwulan III-2024 tumbuh signifikan. Pertumbuhannya didorong kenaikan nilai dan volume barang nonmigas.

”Beberapa komoditas utama yang menopang kinerja apik ekspor adalah bahan bakar mineral, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta.

Distribusi dan pertumbuhan PDB triwulan III-2024 menurut pengeluaran.

Sejak Mei 2020 hingga September 2024, neraca perdagangan Indonesia selalu surplus lantaran nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan nilai impor. Pada Januari-September 2024, misalnya, total suplus neraca perdangan Indonesia mencapai 21,98 miliar dollar AS.

Surplus perdagangan itu lebih rendah dibandingkan pada Januari-September 2023 yang sebesar 27,72 miliar dollar AS. Kendati surplus perdagangan terus turun, kinerja ekspor masih mampu menyangga pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah melempemnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Untuk itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berkomitmen menjaga kinerja ekspor melalui program Perluasan Pasar Ekspor dan Peningkatan Usaha Kecil Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi (UKM BISA) Ekspor. Bahkan, Kemendag menyelipkan satu program quick wins lagi, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengemukakan, dalam program Kerja Perluasan Pasar Ekspor, Kemendag menargetkan menyelesaikan tiga perundingan perdagangan bilateral dengan Kanada, Eurasia, dan Peru. Perundingan itu mencakup perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA CEPA), Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Eurasia (IEAEU FTA), dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Peru (IP CEPA).

Selain itu, Kemendag juga menargetkan percepatan penyelesaian perundingan perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU CEPA). ”Melalui perjanjian-perjanjian kerja sama itu, daya saing produk ekspor Indonesia dapat meningkat dan pasar ekspor Indonesia bisa semakin luas,” katanya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso

UKM BISA Ekspor

Adapun terkait program UKM BISA Ekspor, lanjut Budi, Kemendag menetapkan lima target. Pertama, pengembangan ekosistem UKM ekspor. Penguatan ekosistem UKM ekspor diperlukan guna mendorong kontribusi ekspor UKM menjadi lebih besar dan terukur.

Kedua, pembentukan dua pusat ekspor baru di luar Pulau Jawa. Melalui pusat-pusat ekspor di sejumlah daerah itu, para pelaku usaha dan industri diharapkan dapat menemukan pasar ekspor yang lebih luas.

”Kami juga menargetkan 600 UKM mendapatkan pelatihan ekspor dan 100 UKM bisa mengekspor. Selain itu, kami akan mengoptimalkan peran perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara untuk mempromosikan produk-produk UKM siap ekspor dengan target transaksi mencapai 55 juta dollar AS, baik melalui pameran maupun penjajakan kesepakatan dagang,” kata Budi.

Quote

Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah menyelesaikan bea masuk antidumping (BMAD) produk nilon dari China, Thailand, dan Taiwan, serta bea masuk tindakan pengaman (BMTP) pakaian jadi.

Budi menambahkan, Kemendag juga akan melindungi industri dan pasar domestik dari serbuan produk-produk impor melalui program Pengamanan Pasar Dalam Negeri. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah menyelesaikan bea masuk antidumping (BMAD) produk nilon dari China, Thailand, dan Taiwan, serta bea masuk tindakan pengaman (BMTP) pakaian jadi.

Kondisi UMKM Indonesia 2018


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aufrida Wismi Warastri