Penilaian publik yang mengapresiasi kinerja pemerintahan Jakarta menjadi energi bagi pasangan Pramono-Rano untuk terus meningkatkan pelayanan kepada warga.
23 Jun 2025 06:00 WIB · Metropolitan
Setelah melewati lebih dari 100 hari menjabat, kinerja gubernur dan wakil gubernur Jakarta mendapat apresiasi dari masyarakat. Meskipun demikian, warga Jakarta masih perlu lebih diyakinkan dengan kerja-kerja nyata.
Apresiasi publik terhadap kinerja Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno ini terekam dalam survei tatap muka yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 10-14 Juni 2025 di wilayah Jakarta.
Berdasarkan hasil survei tersebut, 64,5 persen responden warga Jakarta mengaku puas dengan kinerja Pramono, bahkan sebagian di antara mereka menyatakan sangat puas.
Meski demikian, apresiasi ini dibayangi oleh sikap sepertiga bagian responden lainnya (30,1 persen) yang justru menyatakan sebaliknya.
Jika dibedah berdasarkan status sosial ekonomi, tingkat kepuasan terhadap kinerja gubernur dan wakil gubernur Jakarta cukup merata, mulai dari kelompok masyarakat bawah, menengah, hingga masyarakat atas.
Meskipun demikian, terdapat kecenderungan meningkatnya sikap kritis seiring dengan makin tingginya kelas sosial ekonomi. Artinya, pemerintah provinsi masih perlu melakukan upaya ekstra untuk bisa merangkul dukungan kalangan elite Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/2457b670-7b8b-4495-8320-e35e4366b44f_png.png)
Menariknya, penilaian warga terhadap kinerja gubernur dan wakil gubernur Jakarta ini cukup beragam bilamana ditelaah berdasarkan usia dari responden.
Secara umum, memang mayoritas warga dari tiap kelompok usia memandang positif kinerja Pramono-Rano. Namun, proporsi warga yang menilai negatif kinerja keduanya cenderung lebih tinggi di kelompok usia gen Y di rentang 28-43 tahun.
Tingginya resistensi dari kelompok ini menandakan perlunya kerja-kerja nyata yang bisa meyakinkan mereka. Tentu, perasaan ketidakpuasan ini tidak muncul dalam ruang hampa.
Besar kemungkinan, tekanan ekonomi dan sosial yang dirasakan warga di rentang usia produktif ini menjadi akar dari sikap tersebut.
Hasil survei Financial Fitness Index 2024 di sejumlah kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, menangkap kekhawatiran generasi milenial terhadap tekanan biaya hidup, perubahan iklim, layanan kesehatan, dan kesulitan mendapat pekerjaan.
Ditelaah lebih lanjut, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja gubernur Jakarta ini lebih didorong oleh faktor ketokohan.
Dalam survei, terbaca bahwa faktor seperti sifat yang merakyat (5,7 persen) menjadi alasan yang paling menonjol dari apresiasi publik terhadap kinerja Pramono. Meski muncul juga sejumlah alasan terkait dengan aspek profesionalitas, seperti kinerja yang bagus (5,6 persen).
Fenomena serupa muncul dalam pandangan masyarakat terhadap kinerja Rano. Secara umum, sebagian besar (57,5 persen) warga Jakarta puas dengan kinerja Rano walaupun masih ada 32,9 persen dari publik Jakarta yang berpandangan sebaliknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/a98276a7-afb2-411d-afe8-12fea9e0bbc0_jpg.jpg)
Apresiasi masyarakat ini nyatanya juga berakar pada sosok Rano. Buktinya, 17,2 persen masyarakat melandaskan sentimen positifnya dari figur Rano yang dianggap populer.
Menariknya, sosok Rano ini juga dilihat sebagai representasi masyarakat Betawi. Hal ini tampak dari sejumlah alasan di balik kepuasan warga atas kinerja Rano, seperti sosoknya yang memiliki kepedulian dengan budaya Betawi.
Apresiasi atas kinerja gubernur dan wakil gubernur ini pun terkonversi menjadi citra positif untuk keduanya. Hasil survei menunjukkan, 88,4 persen publik Jakarta memandang positif citra dari Pramono. Sementara citra Rano dinilai positif oleh 89,5 persen responden Jakarta.
Meski sudah mendapat apresiasi yang cukup tinggi di mata masyarakat, ruang perbaikan bagi Pramono dan Rano ke depannya masih terbuka lebar. Hal ini salah satunya ditandai dengan masih tingginya perbedaan antara tingkat kepuasan dengan citra gubernur dan wakil gubernur.
Artinya, legitimasi politik yang bersumber dari pandangan positif publik masih belum sepenuhnya didukung oleh kepuasan atas kinerja.
Kesimpulan ini selaras dengan pendalaman pada variabel kekurangan gubernur dan wakil gubernur di mata masyarakat.
Berdasarkan hasil survei, 12,2 persen responden merasa Pramono masih kurang turun ke masyarakat. Lebih lanjut, sebagian dari masyarakat menyatakan masih belum melihat kinerja gubernur (7,1 persen) dan masih merasa banyak program yang belum terlaksana.
Selaras, keluhan serupa dilayangkan kepada Rano. Terdapat 10,3 persen dari responden survei menyatakan bahwa Rano masih perlu lebih banyak bersentuhan langsung dengan warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/e0c17b02-37ca-417e-9ba0-f9a26bc46078_png.png)
Tidak hanya itu, masih ada 6,1 persen responden lainnya yang menyampaikan bahwa kinerja wakil gubernur masih belum optimal.
Penilaian publik ini dapat menjadi energi tambahan bagi Pramono-Rano untuk terus meningkatkan pelayanan kepada publik Jakarta. Di satu sisi, pasangan ini terbukti mampu meraih apresiasi yang cukup tinggi di mata masyarakat.
Apresiasi ini perlu untuk dijadikan ”bahan bakar” bagi keduanya untuk terus membuktikan kinerja mereka, setidaknya selama lima tahun ke depan.
Namun, di sisi lain, dengan waktu yang masih singkat, wajar apabila masih banyak janji dan program pemerintah provinsi yang belum terlaksana dengan tuntas.
Agar dukungan masyarakat menguat, duet Pramono-Rano perlu berfokus pada penyelesaian persoalan menahun Jakarta, seperti banjir dan kemacetan. Tentunya sembari mendorong program-program menuju asa Jakarta kota global. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Rangga Eka SaktiEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .