Program WPS diciptakan pemrogram muda yang miskin. Sempat terpuruk di persaingan dengan Microsoft Word, kini perangkat lunak asal China itu dapat momentum bangkit.
16 Okt 2025 09:00 WIB · Internasional
Lebih dari 20 tahun lalu, Kingsoft hampir tersingkir dari industri perangkat lunak setelah kalah bersaing dengan Microsoft. Kini, perusahaan asal Zhuhai itu mendapat momentum besar untuk bangkit sebagai penantang dominasi Microsoft Word di China.
Koran China, People’s Daily edisi 24 November 2008, memuat laporan yang mengisahkan betapa Kingsoft diolok-olok warganet karena berani melawan Microsoft. ”Kingsoft itu konyol. Mereka bahkan membandingkan WPS dengan Microsoft Office dan mengklaim bahwa teknologi mereka lebih canggih daripada yang lain,” kata seorang warganet seperti dikutip koran tersebut.
Saat itu perseteruan Kingsoft dan Microsoft di China sudah berlangsung 20 tahun. Peranti lunak pengolahan dokumen besutan Kingsoft, Word Processing System (WPS) dianggap sudah kalah. Pemicu kekalahannya adalah Microsoft Office masuk China dengan versi bahasa Mandarin pada 1995.
Kini, 30 tahun kemudian, Kingsoft mulai bangkit. Pengembangan komputasi awan (cloud) dan kecerdasan buatan (AI) sejak beberapa tahun terakhir membuat kondisi finansial terus membaik, sejak setidaknya setahun terakhir.
Meski Kingsoft mulai bangkit, produk pengolahan dokumennya, WPS masih terpuruk di hadapan Microsoft Word. Momentum kebangkitan WPS baru datang pada Kamis (9/10/2025).
Untuk pertama kalinya, Kementerian Perdagangan China menggunakan format WPS. Sebelumnya, kementerian itu menggunakan format Microsoft Word. Kebijakan ini diluncurkan bersamaan dengan pengumuman China memperketat ekspor mineral tanah jarang. Pengetatan ini membuat Amerika Serikat dan Uni Eropa berang.
Bagi kalangan domestik China, langkah tersebut dianggap sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah mulai meninggalkan perangkat lunak asing untuk dokumen resmi. Menurut laporan Bloomberg, Senin (13/10/2025), saham Kingsoft Office melonjak hingga 18 persen di bursa Shanghai.
Hal ini membuatnya sebagai salah satu peraih kenaikan tertinggi dalam indeks CSI 300. Di Bursa Hong Kong, saham induk Kingsoft Corp juga naik tajam, 19 persen.
”Langkah ini diharapkan akan menetapkan WPS sebagai format resmi untuk komunikasi antarlembaga pemerintah di China, sekaligus mempercepat adopsinya di berbagai institusi publik dan sektor industri,” kata Shen Meng, Direktur Chanson & Co, perusahaan penasihat investasi dan keuangan independen yang berbasis di Beijing, China.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/11/20/d7e08848-82fd-4c22-b7b8-40f705a275d2.jpg)
WPS diciptakan pada 1988 oleh seorang pemrogram berusia 24 tahun bernama Qiu Bojun. Konon, ia mengurung diri di kamar hotel murah selama setahun untuk menulis kode WPS 1.0. ”Qiu Bojun menulis WPS 1.0 di komputer 386 saat menderita tiga serangan liver,” kata karyawan senior Kingsoft seperti dikutip koran People’s Daily pada 2011.
Ia mengungkapkan kemiskinan, ketekunan, dan kerja keras Qiu. Dari situ, lahirlah pengolah kata pertama buatan lokal China yang digunakan luas di kantor dan universitas.
Pada awal 1990-an, WPS menguasai pasar dalam negeri dengan pangsa sekitar 90 persen, menurut data lembaga riset industri teknologi China, EqualOcean. Namun, saat Windows 95 dan Microsoft Office masuk dengan dukungan bahasa Mandarin di 1995, Kingsoft kehilangan pengguna dengan cepat.
Kondisi Kingsoft kian merana karena maraknya pembajakan. Dalam laporan media teknologi Wired pada 2006 berjudul ”Piracy Zaps China’s Tech Industry,” lebih dari 90 persen salinan kamus Inggris–China milik Kingsoft yang beredar di masyarakat adalah versi bajakan. Pendapatan menurun drastis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/03/d866de8c-1d90-4c67-8a8d-93cbc848f394_jpg.jpg)
Kingsoft sempat menutup sebagian besar divisi pengembangannya dan hidup dari proyek kecil. Namun, Qiu berkeras menjaga tim riset. Meski terpuruk, ia tak mau api WPS padam.
Pada 1998, Kingsoft mencoba bangkit dengan proyek Pangu atau Pango Office. Proyek ini membangun sistem pengolah kata nasional China.
Menurut People’s Daily, proyek itu menghadapi kendala kompatibilitas dan sumber daya sehingga tak berhasil. Namun, gagasan itu menjadi awal kesadaran penting tentang kemandirian teknologi lokal.
Lahir di Provinsi Hunan pada 1964, Qiu lulus dari National University of Defense Technology. Ia bergabung dengan perusahaan rintisan Kingsoft pada 1988. Selama lebih dari 10 tahun, Qiu memimpin Kingsoft sebagai CEO.
Kecuali negara kita menyuruh kita mundur, kita tidak akan pernah gentar.
Ia membawa perusahaan itu melewati masa persaingan keras dengan Microsoft. ”Kecuali negara kita menyuruh kita mundur, kita tidak akan pernah gentar,” kata Qiu dalam laporan Pandaily pada 2019.
Qiu dikabarkan menjual mobil dan rumah untuk modal WPS97. Ia mundur dari posisi eksekutif pada 2011. Kepemimpinan Kingsoft diserahkan kepada generasi baru, salah satunya Lei Jun, yang kemudian menjadi CEO Xiaomi.
Menurut laporan Bloomberg, Qiu tidak lagi terlibat dalam operasional harian, tetapi tercatat sebagai anggota dewan di Beijing Kingsoft Office Software. Ia tetap dihormati di dunia teknologi sebagai simbol dedikasi dan kemandirian industri perangkat lunak China. Bagi generasi muda di China, namanya lekat sebagai ”Bapak WPS” atau ”Bapak Perangkat Lunak Cina”.
Pada 2010-an, Lei mendorong Kingsoft beralih ke layanan cloud dan AI. Unit Kingsoft Office resmi melantai di Bursa Shanghai (STAR Market) pada 2019. Periode ini menandai babak baru perusahaan.
Pendapatan Kingsoft Cloud, anak usaha Kingsoft yang mengelola layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan, melonjak tajam dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan laporan keuangan resmi perusahaan di situs ir.ksyun.com (Maret 2025), pendapatan kuartal IV-2024 mencapai 2,23 miliar yuan, naik 29,6 persen dibanding tahun sebelumnya.
Bagian layanan AI cloud tumbuh lebih dari 500 persen secara tahunan. Kini, layanan itu menyumbang sekitar sepertiga pendapatan cloud publik.
Pada kuartal I-2025, bisnis AI masih menjadi pendorong utama, dengan total nilai tagihan meningkat 228 persen secara tahunan. Hal ini menandai keberhasilan strategi Kingsoft mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam ekosistem awannya.
”Integrasi AI adalah langkah alami bagi WPS. Kami ingin menjadikan AI bukan hanya alat bantu pengetikan, tetapi asisten produktif untuk setiap pekerja,” kata CEO Kingsoft, Zhang Qingyuan, seperti dikutip media bursa saham China, The Star Market Daily, Agustus 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/91feb9f6-39e3-4f5c-aa88-ad147c52c0ed_jpg.jpg)
Dalam situs resminya, WPS menyebutkan memiliki sekitar 600 juta pengguna aktif bulanan. WPS 365 dirancang agar kompatibel dengan sistem pemerintahan dan korporasi China, sesuai dengan ritme dan kebutuhan lokal.
Sekarang namanya berubah menjadi Writer, Presentation, Spreadsheet. Kini WPS AI 3.0 telah digunakan di lebih dari 40 kementerian dan 200 perusahaan besar.
Adapun laporan Microsoft 365 Statistics 2025 menunjukkan suite Office 365 memiliki lebih dari 430 juta pelanggan berbayar secara global. Di China, Microsoft tetap memiliki basis pengguna besar melalui 21Vianet, mitra lokal yang mengelola versi Microsoft 365 dalam negeri. Namun, penggunaan Microsoft berpotensi tertekan dengan kebijakan Beijing yang semakin berpihak ke perangkat lunak lokal.
Kebangkitan Kingsoft adalah pembuktian dari semangat lama yang tak padam di tengah disrupsi. ”Di bawah tekanan Microsoft dan pembajakan, perangkat lunak Kingsoft memang menjalani kehidupan yang sangat keras. Yang membantu kami melewati masa-masa itu adalah kami masih yakin bahwa perusahaan perangkat lunak nasional yang baik memiliki peluang besar,” kata Lei yang sekarang sebagai ketua kehormatan Kingsoft itu.
Bagi banyak warga China, WPS bukan lagi alternatif murah Microsoft Word. Dari kekalahan, WPS menjadi simbol kedaulatan digital negara yang belajar bangkit di medan teknologi global.
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase