Mandat ISF adalah melucuti Hamas. Hal itu membuat anggota ISF harus berhadapan dengan Hamas dan kelompok perjuangan lain yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
23 Des 2025 17:00 WIB · Internasional
AFP
GAZA, SELASA — Negara-negara yang mengirim pasukan stabilitasi internasional berpeluang mengkhianati Palestina. Di sisi lain, tidak mengirim pasukan bisa memperburuk relasi negara-negara itu dengan Amerika Serikat.
Hingga Senin (22/12/2025), Israel telah 875 kali melanggar gencatan senjata yang berlaku mulai 10 Oktober 2025. Israel 265 kali menembak ke arah warga sipil dan mengebom 421 kali. Rangkaian serangan itu menewaskan 411 warga Gaza dan melukai 1.112 lainnya. Korban tewas terakhir jadi sasaran Israel pada Minggu dan Senin.
Kondisi di Gaza menimbulkan dilema bagi negara-negara yang disebut AS telah setuju mengirim pasukan ke Gaza. Presiden AS Donald Trump mengklaim, 59 negara telah setuju mengirim pasukan ke Gaza. Negara itu antara lain Indonesia dan Pakistan.
Meski dimandatkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pasukan itu tidak disebut penjaga perdamaian. Sebutannya pasukan stabilitasi internasional (ISF). ”Tidak berkontribusi (pada ISF Gaza) bisa mengusik Trump,” kata peneliti Asia Selatan pada Atlantic Council, Michael Kugelman, seperti dikutip Reuters.
Sebagian negara yang diklaim AS setuju mengirim pasukan adalah negara yang belum mengakui Israel, sementara jika ikut ISF bisa dipandang mengakui Israel. Hal itu tidak lepas dari mandat ISF yang didasarkan pada rencana perdamaian dari Trump.
Mandat ISF adalah melucuti Hamas. Kondisi itu membuat anggota ISF harus berhadapan dengan Hamas dan kelompok perjuangan lain yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Bagi peneliti S Rajaratnam School of International Studies, Abdul Basit, kondisi itu bisa dianggap pengkhianatan kepada Palestina. Pelucutan dianggap mengutamakan kepentingan Israel dibandingkan kemerdekaan Palestina.
Basit mengatakan, bagi Pakistan, melaksanakan mandat pelucutan dapat disebut sebagai pengkhianatan lanjutan terhadap Palestina. Sejarah mencatat, pasukan Pakistan terlibat dalam perang Jordania melawan pejuang kemerdekaan Palestina dalam pengungsian pada September 1970.
Di bawah komando Brigadir Jenderal Zia-ul-Haq, Pakistan membantu tentara Jordania menewaskan hingga 25.000 warga Palestina yang mengungsi di Jordania. Serbuan itu berlangsung 11 hari. Mantan jenderal sekaligus Menteri Pertahanan Israel, Moshe Dayan, menyebut bahwa dalam peristiwa itu Jordania membunuh lebih banyak warga Palestina dibandingkan yang dibunuh Israel dalam 20 tahun.
Mantan analis CIA untuk wilayah Timur Tengah, Bruce Riedel, menyebut bahwa Zia-ul-Haq melaporkan setiap langkahnya kepada Raja Hussein dari Jordania. Zia yang merancang serangan terhadap kelompok Palestina yang disokong Suriah.
Guru Besar Emiritus University of Virginia, William B Quandt, pernah menulis bahwa pejuang Palestina jelas kalah telak dari gabungan Jordania-Pakistan. Pejuang Palestina hanya disokong beberapa tank Suriah, sementara pasukan darat Pakistan disokong artileri medan dan pesawat tempur Jordania.
Akibat peran dalam perang September 1970, Zia kerap dijuluki ”Pembantai Orang Palestina”. Banyak orang Pakistan berusaha menghapus kenangan kelam itu.
Kini, Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir berisiko mengulangi reputasi Zia. Munir dalam tekanan besar untuk mengirim pasukan ke Gaza. Asim dan Zia sama-sama mencitrakan diri sebagai jenderal pembela iman.
Pensiunan diplomat Pakistan, Ghulam Rasool Baluch, menyebut bergabung atau tidak dengan ISF adalah ujian moral bagi Pakistan. Dalam artikel di The Nation Pakistan edisi 23 Desember 2025, ia menulis bahwa Gaza saat ini merupakan salah satu bencana kemanusiaan terparah di abad ke-21.
Pertanyaan yang dihadapi Islamabad bukan hanya apakah akan mengerahkan pasukan. Pertanyaannya lainnya adalah apakah Pakistan dapat terlibat tanpa mengkompromikan prinsip dan apakah sikap abstain itu sendiri sekarang membawa biaya strategis dan moral?
Kelompok sayap kanan dan analis senior amat curiga pada ISF. Alih-alih menegakkan perdamaian, ISF malah akan membantu penjajahan Israel dengan cara melucuti kemampuan Palestina memperjuangkan kemerdekaan penuh.
Sementara pendukung keterlibatan Pakistan di ISF berkilah, Pakistan akan kehilangan kesempatan membangun Palestina kalau tidak ikut ISF. Ikut ISF berarti mencegah agresi lanjut militer Israel dan membantu proses pembangunan ulang Gaza serta aliran bantuan kemanusiaan.
Jika memilih untuk berpartisipasi, Pakistan itu harus melakukannya dengan batasan yang jelas dan syarat yang tegas. Jika memilih untuk tidak berpartisipasi, Pakistan harus menyadari bahwa penarikan diri dari arena diplomatik tidak menghentikan sejarah. Pakistan hanya memungkinkan pihak lain menulisnya. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji