Kirsty Coventry, Perempuan dan Orang Afrika Pertama yang Pimpin IOC

Terlepas dari kritik dan kontroversi dalam kariernya, Kirsty Coventry menembus batasan untuk menjadi Presiden Komite Olimpiade Internasional. Tantangan menantinya.

22 Mar 2025 08:51 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Selalu ada kali pertama untuk segala hal. Bagi Kirsty Coventry (41), perenang asal Zimbabwe, salah satu pengalaman kali pertamanya yang berharga adalah meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004. Medali dari nomor 200 meter gaya punggung putri itu merupakan emas pertamanya di ajang Olimpiade.

Saat itu, Coventry juga meraih medali perak untuk nomor 100 meter gaya punggung dan medali perunggu untuk 200 meter gaya ganti perseorangan. Prestasi itu berlanjut di Olimpiade Beijing 2008 ketika Coventry kembali meraih medali emas pada nomor 200 meter gaya punggung dan tiga medali perak untuk nomor 100 meter gaya punggung serta 200 dan 400 meter gaya ganti perseorangan.

Lebih dari dua dekade berlalu sejak prestasi tertinggi pertamanya itu, siapa sangka sentuhan ”emas” Coventry masih belum memudar di Yunani. Setelah juara di Athena, Coventry menang lagi di Pilos. Kali ini bukan dalam perlombaan sebagai atlet, tetapi dalam pemilihan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC).

”Yunani tampaknya menjadi jimat keberuntunganku,” kata Coventry.

Coventry terpilih sebagai Presiden ke-10 IOC dalam pemungutan suara tertutup pada sidang yang diadakan di Costa Navarino, Pilos, Yunani, Kamis (20/3/2025). Coventry menggantikan Thomas Bach yang akan lengser setelah menjabat sejak 2013.

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang baru terpilih, Kirsty Coventry, menghadiri konferensi pers pertama saat pertemuan IOC ke-144 di Costa Navarino, Yunani, Kamis (20/3/2025). Kirsty Coventry yang berasal dari Zimbabwe menjadi perempuan pertama dan berasal dari Afrika yang terpilih menjadi Presiden IOC.
Quote

Merupakan hasrat bagi saya untuk dapat menantang ’status quo’, mendobrak batasan.

Dalam pemungutan suara itu, Coventry memperoleh 49 suara dari total 97 suara yang diberikan. Jumlah itu sudah cukup bagi olimpian dalam lima edisi Olimpiade ini untuk memenangi pemungutan suara dalam satu putaran.

Dengan terpilihnya Coventry untuk masa jabatan delapan tahun, dia menjadi perempuan dan orang Afrika pertama yang memimpin IOC. Selama 130 tahun IOC berdiri, baru kali ini ada perempuan dan orang Afrika yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi. Coventry berhasil menembus batasan untuk kembali menorehkan pengalaman pertama baginya maupun bagi IOC.

Coventry mengatakan, keterpilihannya merupakan sinyal yang kuat bahwa IOC telah mendunia dan berkembang menjadi organisasi yang terbuka terhadap keberagaman. Dia pun memiliki dua tujuan utama, yakni mendobrak status quo dan membuat Olimpiade lebih mudah diakses serta relevan bagi generasi muda.

”Merupakan hasrat bagi saya untuk dapat menantang status quo, mendobrak batasan,” kata Coventry kepada laman resmi Olimpiade.

Menentang status quo dan mendobrak batasan tersebut, kata Coventry, akan memungkinkan para perempuan melihat masa depan. Hal itu pula yang akan membuat mereka percaya bahwa segala sesuatu mungkin terjadi.

Arsip foto menampilkan perenang Zimbabwe, Kirsty Coventry, setelah babak final gaya punggung 200 meter putri pada Olimpiade Beijing 2008.

”Kita punya perempuan-perempuan hebat pada generasi sebelumnya. Saya punya perempuan-perempuan hebat di sekitar saya sepanjang hidup saya yang sangat saya syukuri karena telah menunjukkan cara untuk tidak pernah menyerah pada impian,” ujarnya lagi.

Dalam proses pemungutan suara, Coventry sebagai satu-satunya kandidat perempuan itu mengalahkan Juan Antonio Samaranch Jr di posisi kedua. Samaranch Jr, kandidat dari Spanyol yang merupakan anak dari mantan Presiden IOC 1980-2001, Juan Antonio Samaranch, tersebut memperoleh 28 suara.

Adapun Sebastian Coe dari Inggris yang dianggap sebagai salah satu kandidat terdepan menjelang pemungutan suara berada di posisi ketiga dengan hanya delapan suara. Sisa suara diraih David Lappartient dari Perancis, Pangeran Feisal dari Jordania, Johan Eliasch dari Swedia, dan Morinari Watanabe dari Jepang.

Tantangan berat

Coventry, yang merupakan olimpian Zimbabwe tersukses dengan tujuh medali, akan mengawasi Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 sebagai Olimpiade pertamanya, dengan waktu kurang dari 11 bulan menjelang upacara pembukaan. Secara keseluruhan, dia akan menghadapi sejumlah tantangan berat dalam menjalankan tugasnya.

Apalagi, warisan kepemimpinan presiden sebelumnya memunculkan sejumlah problema, mulai dari kasus doping Rusia, pemberontakan di antara beberapa negara demokrasi Barat atas biaya penyelenggaraan Olimpiade, dan pandemi yang memaksa Olimpiade Tokyo diadakan tanpa penonton dan digelar setahun lebih lambat dari yang dijadwalkan.

Coventry memiliki masalah mendesak yang harus ditangani sejak awal. Olimpiade berikutnya, misalnya, akan berlangsung di Los Angeles pada tahun 2028, pada saat kepemimpinan Amerika Serikat di seluruh dunia sedang menjadi sorotan. Ada juga keputusan penting yang harus diambil tentang hak-hak atlet transjender serta tentang tantangan yang ditimbulkan oleh krisis iklim.

Coventry juga mewarisi tugas rumit untuk menjalin hubungan dengan federasi olahraga global dan sponsor sambil menjaga stabilitas keuangan IOC, yang sangat bergantung pada kesepakatan penyiaran dan sponsor bernilai miliaran dolar. ”IOC belum pernah menghadapi prospek geopolitik yang begitu bermasalah selama bertahun-tahun,” kata mantan Direktur Pemasaran IOC, Michael Payne

Arsip foto tanggal 27 Juli 2012 menampilkan perenang Kirsty Coventry sebagai pembawa bendera kontingen Zimbabwe pada defile atlet saat pesta pembukaan Olimpiade London 2012.

”Bagaimana IOC menavigasi dunia politik yang semakin terpecah-pecah, mempertahankan universalitas, dan bagaimana IOC terlibat dengan pasar pemasaran dan penyiaran yang berubah dengan cepat,” ucapnya.

Meski demikian, Coventry punya modal dan pengalaman berharga dalam karier organisasi. Ketika ditanya tentang harus berurusan dengan Presiden Trump dalam persiapan untuk Olimpiade Los Angeles, Coventry menyindir bahwa dia memiliki pengalaman puluhan tahun dalam menangani ”orang-orang sulit di posisi tinggi”.

Sosok berusia 41 tahun ini juga cepat tanggap ketika ditanya tentang apakah lebih banyak yang perlu dilakukan untuk melindungi olahraga putri setelah kontroversi tinju di Olimpiade Paris. ”Pendirian saya adalah bahwa kami akan melindungi kategori dan atlet putri. Saya ingin bekerja sama dengan federasi internasional. Dan kami akan melakukannya dengan membentuk satuan tugas yang akan melihat dan menganalisis semuanya,” ujarnya.

Coventry teruji dalam upaya menembus batasan, menghindari ”jebakan” dan bangkit ke puncak karier di Zimbabwe. Namun, kritik dan kontroversi juga tidak lepas dari perjalanan peraih tiga medali emas Kejuaraan Dunia Renang ini hingga sampai ke puncak posisi di IOC.

Salah satu kritik yang pernah ditujukan kepada Coventry adalah ketika dia menerima hadiah uang sebesar 100.000 dollar Amerika (sekitar Rp 1,65 miliar dengan kurs saat ini) di televisi pemerintah. Hal itu berlangsung saat warga Zimbabwe menderita kelaparan akibat hiperinflasi.

Kontroversi datang lebih banyak pada 2018 ketika Coventry menjabat sebagai Menteri Olahraga dalam kabinet Presiden Emmerson Mnangagwa. Pemerintahan Mnangagwa jadi sorotan karena kredensial demokrasinya sangat lemah.

Pemerintah Inggris, misalnya, termasuk di antara mereka yang mengeluarkan sanksi dalam upaya untuk mendorong Zimbabwe untuk menghormati prinsip-prinsip demokrasi. Sebab, kemenangan pemilihan Mnangagwa ditandai dengan penindasan terhadap hak-hak sipil dan politik.

Arsip foto tanggal 20 Januari 2020 menampilkan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach (kiri) dan Ketua Komisi Atlet IOC Kirsty Coventry dalam konferensi pers penutupan pertemuan dewan eksekutif IOC di markas IOC di Lausanne, Swiss.

Dalam kondisi itu, Coventry tidak menjauhkan diri dari Mnangagwa. Justru sebaliknya. Tahun lalu, mereka bahkan terlihat menari bersama di sebuah acara publik saat Zimbabwe mengatakan ingin mengajukan tawaran untuk tuan rumah Piala Dunia Kriket 2027.

Coventry juga menghadapi kritik tentang efektivitasnya sebagai menteri olahraga. Zimbabwe telah dilarang menjadi tuan rumah pertandingan tim nasional oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika sejak 2020 karena stadion yang tidak aman. Ini sesuatu yang belum diperbaiki Coventry.

Sementara itu, di Olimpiade Paris 2024, Zimbabwe mengirim delegasi yang terdiri atas 74 orang untuk sembilan atlet yang bertanding. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan soal efektivitas penggunaan uang pembayar pajak.

Terlepas dari itu, pertanyaan yang belum terjawab sekarang adalah apa yang terjadi selanjutnya. Apakah Coventry akan memberikan sedikit cahaya ke dalam organisasi dengan kemampuannya menembus batasan? Ataukah justru hanya melanjutkan legasi Bach? Apa pun yang terjadi, delapan tahun ke depan yang pertama kalinya bagi Coventry ini akan menarik dan penuh tantangan. (REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari