Foto dari Halmahera karya Yudha memenangi WPP 2025. Berikut kisah proses kreatifnya.
27 Mar 2025 18:18 WIB · Foto
Foto karya Mas Agung Wilis Yudha Baskoro (Yudha) berhasil menjadi pemenang di kategori foto tunggal World Press Photo (WPP) 2025 untuk kawasan Asia Pasifik dan Oseania. Di kategori ini, foto karya Yudha dipilih sebagai pemenang oleh dewan juri bersama dua lainnya, yaitu foto viral aksi peselancar Gabriel Medina di Olimpiade Paris 2024 karya fotografer Agence France-Presse (AFP), Jerome Brouillet, dan foto tentang penipuan adopsi di Korea Selatan karya fotografer Associated Press (AP), Jae C Hong.
Saat dihubungi lewat aplikasi percakapan whatsapp, Yudha menceritakan proses kreatifnya sehingga mampu menghasilkan foto jurnalistik yang kuat dan meraih penghargaan di ajang prestisius tersebut. Berikut proses kreatif yang diceritakan oleh Yudha.
Ide untuk pergi ke Halmahera, Maluku Tengah, untuk meliput dampak tambang dan pengolahan nikel adalah murni dari buah pemikiran Yudha. Ide itu ia dapatkan setelah beberapa kali ia meliput krisis lingkungan akibat tambang nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kawasan ini dikenal sebagai Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), yang merupakan pusat industri nikel terbesar di Indonesia dengan area seluas 3.000 hektar.
Niatnya untuk datang ke Halmahera semakin memuncak setelah melihat video penghadangan alat berat oleh masyarakat adat O Hongana Manyawang atau suku Tobelo Dalam. Dalam video ini dua warga masyarakat adat menghadang alat berat petambang nikel dengan menggunakan tombak.
Masayarakat adat O Hongana Manyawang hidup selalu berpindah. Mereka mencari makan dengan berburu dan meramu. Tak heran apabila ekspansi tambang nikel di Halmahera menimbulkan konflik antara masyarakat adat dan tambang nikel.
Menurut Yudha, selain video itu, satu hal lagi yang mendorong niatnya datang ke Halmahera adalah banjir bandang yang terjadi di Weda. Banjir bandang selama ini diketahui sebagai satu ciri adanya kerusakan lingkungan di suatu wilayah. ”Dua hal itu yang mendorong saya datang dan meliput di Weda dan Sagea,” ucap Yudha.
Dari pengalaman dan keinginannya itu, Yudha kemudian membuat rencana liputan, lalu mengajukannya ke China Global South Project (CGSP). Dalam rencana liputannya, ia fokus meliput kerusakan lingkungan, polusi udara di lingkar tambang, serta banjir dan masyarakat adat O Hongana di Halmahera Timur. ”Jadi bukan CGSP yang menugaskan saya, tapi saya yang mengajukan dan mereka menyetujuinya” jelas Yudha.
Sebelum berangkat menuju Halmahera Timur, ia sudah merencanakan apa saja yang akan difoto. Rencana awal di kepala Yudha ini belum lengkap karena dirinya belum tahu di mana dan kapan akan memotret. Sesampainya di lokasi, ia langsung berkeliling untuk mencocokkan idenya dengan kondisi lingkungan yang dihadapinya. Aktivitas pravisual ini sangat membantunya dalam proses eksekusi foto.
Semua proses pemotretan dilakukan di ruang publik, jalan umum, dan desa sehingga tidak perlu izin khusus. Izin hanya diperlukan saat meliput dan meminta data ke Puskesmas Lelilef. Narasumber di kampung dan desa juga didekati secara kekeluargaan saja.
Baginya, foto yang dipilih oleh juri itu bagaikan peristiwa yang jatuh dari langit. Momen itu didapatkannya saat berjalan di keramaian lalu lintas karena pergantian shift kerja. Sisa mendung setelah hujan dan asap pekat yang membubung dari cerobong pabrik menambah kuat foto yang menceritakan soal polusi udara ini. Cahaya violet yang mendominasi tempat duduk membuat suasana di dalam mobil itu jadi makin terlihat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/9e762e59918738915303f90e549d7dae-Tangkapan_Layar_2025_03_27_pukul_13.43.01.png)
Yudha berharap foto yang didapatkan dan diapresiasi oleh WPP ini bisa meningkatkan kesadaran kita, khususnya masyarakat Indonesia, dan jika memungkinkan, masyarakat dunia, terhadap isu yang diangkat—seperti krisis lingkungan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat akibat tambang nikel di Halmahera. Kesadaran dapat membawa dampak positif bagi masyarakat, terutama bagi teman-teman di Halmahera, khususnya di Weda dan Sagea. Tak hanya bagi warga umum, tetapi juga bagi para pekerja tambang di sana.
Dengan adanya perhatian global, semoga kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat dapat diambil serta ada dukungan nyata bagi komunitas yang terdampak oleh isu yang disuarakan melalui foto ini.
”Dulu, zaman sekolah SD, bayangan saya soal Halmahera itu ijo royo-royo. Tapi, pas datang ke sana, banjir kalau hujan, penuh debu kalau panas,” kata Yudha.
Penulis:
Demitrius Wisnu WidiantoroEditor:
Yuniadhi Agung