Berbekal kemampuan khusus dan kesabaran yang panjang, guru-guru di sekolah luar biasa setia mendampingi anak-anak disabilitas.
25 Nov 2025 12:00 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Kompas/Vina Oktavia
Puluhan guru di Sekolah Luar Biasa atau SLB Negeri PKK Provinsi Lampung mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagian dari mereka yang memilih jalan sunyi ini adalah anak-anak muda, generasi milenial dan generasi Z.
Setiap pagi, Ichsan Ridwan (33) memasuki ruang kelas berisi dua murid yang tidak pernah bisa melihat wajahnya. Begitu pun Ridwan yang tidak pernah bisa menatap wajah anak didiknya. Hanya dari suara sang guru, muridnya akan tahu bahwa pelajaran sudah dimulai.
Pada Senin (24/11/2025) pagi, Ridwan memulai pelajaran dengan mengajak dua muridnya, Fathan Nurhafiz (8) dan Fania Z Kirana (11) mengaji. Pelajaran mengaji di sekolah itu merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Di hadapan mereka, lembaran Iqro braille terbuka. Tak ada satu pun tulisan di lembaran itu, hanya ada titik-titik timbul yang tersusun rapi.
Jemari dua anak itu lincah meraba titik-titik timbul dalam lembaran Iqro braille. Pandangan mereka tak mengarah ke buku. Ada yang menengadah, ada yang menatap ke depan. Keduanya lalu menyebutkan huruf-huruf hijaiyah yang tertulis dalam kode braille.
Ridwan mendengarkan dengan saksama suara murid-muridnya sambil meraba-raba Iqro Braille. Guru muda yang sudah 1,5 tahun terakhir mengajar di SLB itu lantas memberikan penjelasan tentang tanda baca pada huruf hijaiyah atau harakat.
Ridwan adalah satu-satunya guru penyandang disabilitas netra yang mengajar di sekolah itu. Dia diberi tanggung jawab menjadi guru kelas untuk SLB-A atau SLB tunenetra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/45e847634a6bb35f6f68925a071d26fc-DSC02960.JPG)
Menurut Ridwan, penyampaian pelajaran untuk anak-anak disabilitas netra harus dilakukan dengan bahasa verbal yang jelas dan membutuhkan alat peraga. Untuk mengenalkan huruf-huruf, misalnya, awalnya siswa dikenalkan dengan papan braille. Dari situlah anak-anak tunanetra belajar membaca huruf latin ataupun huruf hijaiyah lewat kode braille.
”Kemampuan menghafal anak-anak tunatera ini sangat baik, biasanya mereka sudah bisa menghafal kode braille dalam satu hari. Kalau sudah hafal, anak-anak mulai belajar mengeja,” kata Ridwan saat ditemui di ruang kelas. Ridwan hanya mengajar dua siswa yang duduk di kelas II dan VI SD.
Bagi Ridwan, tantangan terbesar yang ia hadapi sebagai guru untuk anak-anak disabilitas netra adalah mencari cara yang efektif agar anak-anak itu memahami materi pelajaran. Saat mengajari berbagai jenis hewan misalnya, Ridwan harus mencari alat peraga agar murid-muridnya bisa membayangkan bentuk hewan yang dia ceritakan.
”Anak-anak kan sulit membayangkan bentuk hewan jika hanya mendengar cerita, misalnya semut atau gajah. Karena itu, saya memberikan alat peraga kemudian mendeskripsikan bentuknya. Misalnya gajah itu badannya besar dan punya belalai, sedangkan semut ukurannya sangat kecil,” kata Ridwan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/4de74ffb53927393317e525198049339-DSC02958.JPG)
Ridwan merupakan lulusan sarjana pendidikan luar biasa dari Universitas Muhammadiyah Bandar Lampung. Dia memang ingin mengabdi sebagai guru. Sejak kuliah, Ridwan sudah aktif mengajar di sekolah SLB swasta yang ada di Bandar Lampung.
Setelah lulus kuliah, Ridwan lantas mendaftar sebagai guru di SLB Negeri PKK Lampung ketika Pemerintah Provinsi Lampung membuka pendaftaran untuk formasi guru kelas di SLB tersebut.
Ia lolos tes pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) pada 2024. Selain mendapat gaji dan tunjangan sertifikasi guru, Ridwan juga mendapat fasilitas rumah dinas di kompleks sekolah untuk mempermudah aktivitasnya mengajar.
Sementara itu, Anggraini (29) yang mengajar anak-anak SLB-B atau SLB tunarungu senang menjadi guru untuk anak-anak disabilitas tuli. Meski kelima muridnya tidak bisa mendengar suaranya, Anggraini selalu antusias menjelaskan materi pelajaran dengan bantuan papan tulis, video animasi, dan bahasa isyarat.
Hari itu, Anggraini mengajak anak didiknya menggambar lingkungan sekolah untuk menyambut peringatan Hari Guru pada 25 November 2025. Di papan tulis, guru muda itu menggambar sebuah gedung sekolah, sebuah tiang dengan bendera merah putih, dan pohon-pohon di halaman sekolah. Tulisan ”Selamat Hari Guru” dibubuhkan pada gambar itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/b55870c9b2815a49eefec7c1fb2ee021-DSC03006.JPG)
Tanpa suara, guru muda itu memberi instruksi agar para murid menggambar di kertas. Tangan Angraini sibuk bergerak, berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Kelima siswanya mengikuti perintah sang guru. Mereka menggambar di kertas, lalu mewarnai gambar sekolah yang sudah mereka buat. Anak-anak itu tersenyum bangga saat memamerkan gambar itu kepada Anggraini sembari berbicara dengan bahasa isyarat.
Anggraini adalah sarjana pendidikan luar biasa dari Universitas Sebelas Maret. Awalnya, dia mengaku kuliah di jurusan itu karena dorongan dari orangtuanya. Setelah terjun menjadi guru, Anggraini menikmati profesi yang dijalaninya.
Sebagai generasi Z, dia menyadari banyak peluang pekerjaan lain di lebih menjanjikan. Namun, ia akhirnya memilih menjadi guru karena ingin membantu pendidikan untuk anak-anak disabilitas.
”Saat mendaftar menjadi guru, sekolah ini juga sedang kekurangan guru dan ternyata jalan hidup ada di sini,” ucapnya.
Menurut dia, tantangan terbesar mengajar anak-anak disabilitas adalah mendampingi siswa sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Meski berada ada jenjang kelas yang sama, kemampuan anak-anak bisa berbeda-beda.
”Alhamdulillah sejauh ini pengalamannya menyenangkan karena setiap hari belajar hal-hal baru dari anak-anak,” kata Anggraini yang sudah lima tahun mengajar di sekolah itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/a0e88e9f1dd06371898bd221dce3c53e-DSC03010.JPG)
Hal serupa juga diungkapkan Safira Rahma Khairani (27), guru kelas yang megajar untuk anak-anak tunagrahita. Sebagai guru SLB-C, guru harus mempunyai kesabaran yang luar biasa agar bisa mendampingi anak-anak didiknya.
”Karakteristik dan tingkat kecerdasan mereka ini kan berbeda-beda. Jadi, kami memang harus sangat sabar mendampingi mereka belajar,” kata Safira.
Adapun Cici Juarini Hendrawati (57), yang sudah puluhan tahun mengajar anak-anak disabilitas, menuturkan, rasa bangga saat anak-anak didiknya bisa menguasai keterampilan tertentu tidak bisa ditukar dengan apa pun. Saat ini, sudah banyak muridnya yang sudah dewasa dan bisa bekerja di berbagai sektor informal.
”Murid-murid saya yang sudah lulus banyak yang sudah bekerja. Ada yang jadi desainer pakaian atau membuka usaha pencucian sepeda motor. Walaupun mereka anak-anak tunagrahita atau tunarungu, tetapi mereka bisa bekerja dengan ulet dan gigih,” kata Cici.
Kepala SLB PKK Provinsi Lampung Linda Kurniasari mengatakan, sekolah itu merupakan SLB negeri satu-satunya di Bandar Lampung. Saat ini, sedikitnya ada 227 siswa yang bersekolah di sana. Mereka dibagi menjadi 37 rombongan belajar karena setiap kelas hanya diisi maksimal oleh lima siswa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/4cf32d76b60748991ef717c046c9381c-DSC03066.JPG)
Karena itu, sekolah itu membutuhkan guru yang cukup banyak. Adapun jumlah guru yang mengajar sebanyak 40 orang, terdiri dari 37 guru kelas dan 3 guru mata pelajaran.
Tantangan terbesar mengajar di SLB adalah mendampingi anak-anak yang mempunyai kebutuhan berbeda dari anak-anak lain pada umumnya. Karena itulah ia sangat mengapresiasi guru-guru yang mau mengabdi untuk pendidikan anak-anak disabilitas.
”Mereka ini kan anak-anak istimewa, anak-anak surga. Kami yang mengabdi di sini tidak hanya mengajar, tetapi mendampingi murid-murid untuk mengetahui potensi terbaiknya,” katanya.
Karena itulah, sejak SMP, anak-anak sudah diarahkan untuk fokus belajar keterampilan tertentu, seperti tata boga, melukis, menjahit, hingga membuat ukiran kriya. Ada juga anak-anak yang diberikan keterampilan teknologi, menyanyi, hingga belajar tata rias. Semua itu dilakukan agar anak-anak mendapat bekal keterampilan untuk bisa bekerja setelah lulus SMA.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/1fe14be985b240973d8741a847dc41af-DSC03021.JPG)
Di semua tahapan itu, anak-anak disabilitas sangat membutuhkan pendampingan dari guru. Bagi anak-anak disabilitas, guru bagaikan lentera yang menuntun mereka memahami dunia.
Selama masih ada guru-guru yang setia mengajar di sekolah luar biasa, anak-anak disabilitas akan selalu punya harapan dan keberanian untuk menatap masa depan. Selamat Hari Guru!
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase