Penyintas banjir bandang di Agam sampai harus menyewa sendiri ekskavator guna mencari korban karena lambatnya penanganan. Ada pula warga yang membuat kuburan massal.
05 Des 2025 14:51 WIB · Lingkungan
KOMPAS/YOLA SASTRA
Erika Desra (32) berjalan di antara reruntuhan rumah yang bercampur lumpur dan pepohonan di Jorong Subarang Aia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia mengais puing-puing. Tangannya mencari berbagai benda yang masih dapat diselamatkan. Sejumlah benda ia temukan, mulai dari pakaian hingga mushaf Al Quran.
Barang-barang itu adalah peninggalan almarhumah ibunya, Ernita (58). Erik mengumpulkan barang-barang peninggalan almarhumah sebagai bentuk penghormatan kepada ibundanya.
”Kalau tidak dikumpulkan, nanti Ama (ibu) merasa kecewa, seakan-akan tidak dipedulikan. Itu yang terasa oleh saya,” kata Erik di Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Agam, Kamis (4/12/2025) siang.
Pakaian ibunya yang terkumpul, kata Erik, akan dicuci. Jika tidak terpakai oleh keluarga, pakaian itu bisa disedekahkan kepada orang lain supaya tetap bermanfaat.
Ernita tewas dalam bencana banjir bandang atau galodo yang menghantam 200 lebih rumah di sekitar Sungai Nanggang atau Alahan Anggang di Palembayan pada Kamis (27/11/2025) sore. Selain ibu, Erik juga kehilangan adik perempuan dan tiga keponakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/a1e4eebd-6794-4c15-92ce-76afc773857c.jpg)
Erik bercerita, saat kejadian, ia tengah memanen sawit di nagari tetangga, berjarak sekitar 6 kilometer di bagian hulu. Kamis sore, ia mendengar suara yang dikira bukit longsor. Beberapa detik berselang, terdengar bunyi gemuruh dari batu yang terguling beradu-adu.
Seketika Erik teringat rumah ibunya yang hanya berjarak 100 meter dari aliran Sungai Nanggang. Ia bergegas turun ke hilir hingga ke Jorong Koto Alam.
Dari jarak 160 meter, ia menyaksikan sungai dan areal persawahan di perbatasan dua jorong itu telah berubah jadi lautan lumpur dengan kayu-kayu dan batu-batu besar. Badannya seketika lemas.
”Saya lihat rumah Ama sudah tidak ada. Atap saja yang tampak dari kejauhan. Ingin rasanya saya berenang di lumpur ini. Ama saya pasti ada di sana,” kata Erik, anak ketiga dari lima bersaudara.
Semalaman di Koto Alam, Erik yang terjebak di luar bersama semendanya, Afrizal (35), dan sepupunya, Gafur, tak juga bisa menjangkau Subarang Aia yang terisolasi. Hujan masih turun dan lumpur galodo masih basah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/05/32b4c9c33867f750701ea9a0458f20b2-DSC05837.JPG)
Sementara itu, sanak saudaranya yang lain yang terisolasi, tanpa makanan dan listrik di seberang sungai, tak sanggup menengok kondisi rumah karena trauma.
Tak bisa berbuat apa-apa dari Koto Alam, Jumat (28/11/2025) subuh, Erik berjalan menyusuri jalan arah ke hilir sepanjang 7 kilometer hingga Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia. Mana tahu ibunya hanyut tersapu air bah.
Erik pun mengarungi lumpur di dua permukiman di bagian hilir. Setiap ada laporan penemuan jenazah dari warga, Erik bergegas melihatnya. Namun, tak ada sang ibu di antara para korban itu.
Jumat sore, Erik kembali ke Koto Alam, bertemu dengan Afrizal dan Gafur. Karena ada keluarga yang kelaparan dan butuh susu bayi di Subarang Aia, mereka berbagi tugas.
Semenda dan sepupunya nekat menyeberang mengantarkan logistik. Sementara Erik tetap di luar sembari mendengarkan informasi keberadaan ibunya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/2e636ef4-aa2e-4d3f-8ccf-a9795029cf35.jpg)
Erik yang masih terjebak di luar, Sabtu (29/11/2025) pagi, akhirnya nekat juga menyusul mengarungi lumpur setinggi dada untuk ke seberang. Dicari-carinya jalan yang mungkin dapat dilalui. Kadang terperosok, tapi bisa keluar lagi.
Sampai di rumah, Erik segera mencari ibunya. Ia mengangkat kayu-kayu yang menimpa reruntuhan rumah. Pencarian itu dibantu pula oleh sanak saudara dan pemuda setempat. Namun, Erik tak mampu lagi mengangkat kayu-kayu besar.
Tak mungkin menunggu bantuan luar yang tak kunjung datang, hingga Sabtu sore, Erik pun menyewa ekskavator yang terjebak di Subarang Aia. Sanak saudaranya beriur mengumpulkan Rp 1,75 juta untuk menyewa ekskavator seharian.
”Kalau menunggu bantuan dari luar datang, sampai kini mungkin Ama saya belum ditemukan,” kata ayah lima anak itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/5ca4761499bcd4493c12b370b86727d0-1000911959.jpg)
Pencarian dengan ekskavator dilakukan sejak Sabtu malam, tetapi kemudian dihentikan karena tidak ada penerangan. Penggalian reruntuhan dilanjutkan Minggu pagi. Baru pada pukul 11.00 WIB, jenazah Ernita ditemukan tertimbun di bawah reruntuhan rumah.
”Ama masih pakai mukena. Posisinya sedang sujud tertimbun lumpur. Mungkin tidak sempat lari saat shalat,” kata Erik.
Selain sang ibu, di puing-puing rumah yang dihantam galodo itu ditemukan jenazah adik perempuannya beserta anak dan anak abangnya. Satu anak abangnya ditemukan pula hanyut hingga permukiman di bagian hilir. Adapun abang sulungnya luka-luka dan dirawat di rumah sakit.
Erik merasa hatinya hancur melihat jasad ibunya. Air matanya terus berlinang. Walakin, di tengah duka, ada secuil kelegaan, jenazah sang ibu ditemukan, tubuhnya pun dalam keadaan utuh.
”Kalau jasad Ama tidak ditemukan, ke mana saya akan mengadu, kalau tidak ada makamnya. Teragak dengan beliau, ke mana akan saya tuju?” katanya.
Almarhumah Ernita kemudian dikuburkan di pemakaman keluarga di Subarang Aia, Minggu sore. Saat rindu sang ibu, Erik dan saudaranya punya tempat yang akan dituju.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/33129ef9-82c6-426f-a168-336f2686491a.jpg)
Di Subarang Aia, suasana sejak Kamis (27/11/2025) sore mencekam. Maswir (73), penyintas galodo, menyebut, ada hampir 30 rumah di sekitar Daerah Aliran Sungai Nanggang itu hanyut disapu air bah yang datang bagai ular mengamuk.
Saat kejadian, Maswir berada di ladang. Dari ladang, ia melihat air bah bergulung-gulung mengangkut kayu disertai gemuruh dari batu-batu yang beradu. Galodo menghantam setiap tikungan dan menyapu habis apa yang dilewati.
Seumur hidupnya, kata Maswir, baru sekarang terjadi bencana sedahsyat ini. Jenazah kemudian bergelimpangan pada Kamis malam dan Jumat pagi.
Di antara jenazah itu, ada enam anggota keluarga Maswir, termasuk dua adik iparnya. ”Istri saya, Yesnimar (65), sampai sekarang belum ditemukan. Rumah kami habis tak berbekas,” ucap Maswir, Kamis (4/12/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/05/0fb84384ca63a6cff5fdb86d2f54dae2-DSC05626_1.JPG)
Sakingnya banyaknya korban jiwa, warga di jorong yang berpenduduk sekitar 250 keluarga ini kewalahan, apalagi Subarang Aia terisolasi dan kekurangan pangan. Tak mungkin menunggu bantuan dari luar, sedangkan jenazah yang dikumpulkan berjejer di Surau Baitul Ikhlas kian membusuk.
Karena warga kehabisan tenaga dan waktu untuk menggali kubur satu per satu, tokoh masyarakat dan pemuda sepakat untuk menguburkan korban secara massal.
”Penguburan massal mulai dilakukan hari Jumat,” kata Maswir, yang enam sanak-saudaranya dikuburkan massal bersama satu jenazah lain. Adapun petugas dari luar baru masuk pada Sabtu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/05/793ed8026649470e0dc4148d8e02b617-DSC05644_1.JPG)
Wali Jorong Subarang Aia Irlan (37) menyebut, ada 22 korban jiwa yang dimakamkan secara massal di empat lokasi. Pada Jumat, ada dua kuburan massal masing-masing berisi tujuh jenazah serta Sabtu dan Minggu masing-masing berisi empat jenazah.
”Jenazah dikuburkan massal karena keluarga mereka di sini sudah tidak ada, siapa lagi yang akan menyelamatkan (jenazahnya),” ujar Irlan, Rabu.
Menurut Irlan, galodo yang melanda permukiman di Subarang Aia menyapu habis 27 rumah. Setidaknya ada 62 orang tersapu galodo. Dari jumlah itu, baru 35 korban jiwa yang ditemukan dan teridentifikasi, sisanya belum jelas keberadaannya.
Di tengah duka, penyintas galodo di Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, menyayangkan lambatnya respons pemerintah. Komentar pejabat yang menyepelekan pada awal-awal kejadian juga ia sesalkan.
Bahkan, lanjutnya, penanganan bencana pun berjalan lambat hingga kini. Masyarakat sampai melakukan caranya sendiri dalam menyikapi bencana, seperti menyewa ekskavator mandiri dan membuat kuburan massal.
Erik menuturkan, galodo yang melanda bagaikan mimpi saking dahsyatnya. ”Bagi saya, mungkin, hanya kiamat yang lebih hebat dari bencana ini. Berguncang bumi ini rasanya saat kejadian,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/c498d46c208d08b9eb51799245a2ef85-DSC06075.JPG)
Dilihat dari jumlah korban jiwa dan dampaknya, kata Erik, bencana yang terjadi mestinya jadi bencana nasional, apalagi penanganannya berjalan lambat. Hanya dua ekskavator yang bekerja di Subarang Aia dengan areal bencana sangat luas.
Sepekan setelah kejadian, Subarang Aia masih terisolasi, tanpa listrik dan sinyal, serta kekurangan bahan pangan, terutama beras. Untuk ke Subarang Aia, warga mesti berjalan kaki sejauh 500 meter melewati sela-sela lumpur dan bebatuan serta jembatan darurat.
Maswir mengungkapkan hal serupa. Sudah sepatutnya pemerintah menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional agar penanganan lebih cepat.
”Kalau tidak juga bencana nasional, apakah harus mati semua orang di nagari ini untuk disebut bencana nasional?” ujar Maswir, yang mulai putus asa mencari keberadaan istrinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/2b4e843be72fa4e8ee14a1f18e077d37-DSC05205.JPG)
Di Kecamatan Palembayan, Agam, setidaknya ada tiga nagari yang dilanda galodo dari Sungai Nanggang, yaitu Salareh Aia, Salareh Aia Timur, dan Tigo Koto Silungkang. Tiga lokasi terparah bencana meliputi Subarang Aia dan Kampung Tangah Timur-Barat di Salareh Aia Timur serta Kayu Pasak di Salareh Aia.
Agam merupakan daerah paling parah dan luas terdampak bencana hidrometeorologi di Sumbar. Selain Agam, ada 15 kabupaten/kota lain di Sumbar yang dilanda banjir, banjir bandang, dan longsor pada November lalu.
Berdasarkan data korban, Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Agam mencatat, hingga 2 Desember 2025 pukul 20.00 WIB, jumlah korban jiwa dalam banjir bandang dan longsor di Agam mencapai 139 orang dan korban hilang 86 orang.
Dari total korban jiwa dan korban hilang itu, korban terbanyak berasal dari banjir bandang di Palembayan dengan jumlah 115 korban jiwa dan 76 korban hilang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/a277f23eb9e3e0199dfc5da45a601381-1000911284.jpg)
Kemudian, di Malalak ada 12 korban jiwa dan 6 korban hilang, Tanjung Raya 9 korban hilang dan 3 korban hilang, Matur 1 korban jiwa, Palupuh 1 korban jiwa, Ampek Nagari 1 korban jiwa, dan Lubuk Basung 1 korban hilang.
Adapun di Sumbar, hingga 2 Desember pukul 21.00 WIB, ada 194 korban jiwa dan 116 korban hilang. Lebih dari separuh korban jiwa dan hilang berasal dari bencana di Agam.
Soal usulan status bencana nasional, Bupati Agam Benni Warlis mengatakan, ia mengembalikannya kepada pemerintah pusat. Presiden dan Wakil Presiden sudah berkunjung ke sejumlah lokasi bencana di Sumbar.
”Yang penting bagi kami, pemerintah pusat membantu penanganan bencana ini, apakah statusnya bencana nasional ataupun regional,” ujar Benni.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti