Masyarakat berlari sekuat tenaga menghindari sapuan banjir bandang atau ”galodo” di Kota Padang Panjang, Sumbar. Mereka mengungsi ke bukit ataupun ke mushalla.
29 Nov 2025 18:17 WIB · Nasional
KOMPAS/YOLA SASTRA
Pendi (44) tak menyangka kepulangannya ke Sumatera Barat berakhir trauma. Ia mesti berkejaran dengan waktu menyelamatkan diri dari banjir bandang. Terlambat beberapa detik, mungkin saja warga Pekanbaru itu tak selamat dari bencana.
”Saat terdengar gemuruh dari sungai di belakang kedai, saya langsung lari sekencang-kencangnya, tanpa melihat ke belakang. Saya sampai terjatuh-jatuh, lutut luka,” kata Pendi, penyintas galodo Padang Panjang di posko pengungsian di Kantor Lurah Silaing Bawah, Sabtu (29/11/2025).
Banjir bandang melanda jalan nasional Padang-Bukittinggi tepatnya di jembatan kembar di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kamis (27/11/2025) siang. Sebelumnya, hujan lebat dan angin kencang melanda Padang Panjang dan sekitarnya selama sepekan.
Sedikitnya, tujuh orang meninggal dan puluhan orang belum ditemukan. Selain itu, Sabtu siang, tim SAR gabungan mengevakuasi sejumlah jenazah yang kini masih dalam tahap identifikasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/a6feadef6dd7c2e9a6f856df98786b69-DSC04360.JPG)
Pendi merupakan satu dari sejumlah pengendara yang selamat dalam bencana banjir bandang tersebut. Sesaat sebelum kejadian, ia berteduh di salah satu warung di sekitar lokasi.
Selain rumah warga, di sekitar jembatan kembar itu terdapat banyak warung dan mushala. Lokasi tersebut biasanya menjadi tempat istirahat (rest area) ataupun berteduh pengendara saat hujan ketika melewati kawasan Lembah Anai.
Menurut Pendi, ia berangkat dari Pekanbaru hendak menuju kampungnya di Padang Pariaman, Kamis subuh. Ayah tiga anak itu hendak mengantarkan sepeda motor Vario 160 untuk adiknya di kampung demi keperluan antarjemput orangtuanya.
Sekitar pukul 11.00, Pendi berhenti di sekitar jembatan kembar di perbatasan antara Padang Panjang dan Tanah Tadar itu. Ia melihat bendera merah yang dipasang sebagai simbol lalu lintas arah ke Padang terhambat oleh longsor dan pohon tumbang.
”Saat itu hujan lebat. Orang ramai di lokasi. Mungkin ada 30 pengendara berhenti di sana. Ada belasan sepeda motor dan 10 mobil berhenti di lokasi,” kata Pendi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/3321c92a1d10df6db652f7cf0dfc6d92-DSC04400.JPG)
Setengah jam kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah sungai kecil di belakang kedai. Orang-orang di lokasi berhamburan. Pendi juga berlari sekuat tenaga meninggalkan sepeda motor bekas yang ia beli beberapa hari lalu seharga Rp 17,8 juta.
”Motor saya tinggal di kedai. Kalau dicoba juga menghidupkan motor, tidak selamat saya mungkin,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit pakaian ini.
Setelah sampai di ujung jembatan kembar arah ke Padang (hilir sungai), Pendi baru berani menengok ke belakang. Ia melihat lumpur, batu, dan kayu menutupi badan jalan dari gapura perbatasan hingga ke ujung jembatan.
Dalam kondisi basah kuyup, Pendi terus berjalan ke arah Padang bersama delapan pengendara lainnya. Mereka kemudian bertemu warga setempat yang juga terisolasi. Bersama-sama mereka menginap di mushala kecil tanpa listrik dan penerangan hingga dievakuasi tim SAR pada Jumat (28/11/2025) pagi.
”Saya akan kembali ke Pekanbaru. Tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke Padang Pariaman. Lagi pula sepeda motor yang akan diantar sudah hilang entah ke mana,” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/29/341b4e26-3222-4431-991a-9ac2fe8d6151_jpg.jpg)
Kejadian menegangkan dialami pula oleh Bujang (53) dan belasan anggota keluarganya. Warga RT 020 di sekitar jembatan kembar itu berkejaran dengan waktu lari ke atas bukit untuk menyelamatkan diri dari galodo.
Bujang menuturkan, sekitar pukul 10.00 hari Kamis, ia berlima dengan istri dan tiga anaknya mengungsi karena rumahnya sangat dekat dengan sungai. Ayah empat anak itu khawatir banjir bandang datang sehingga mereka pindah sementara ke rumah putri sulungnya di posisi yang lebih tinggi.
Sekitar pukul 11.30, kata Bujang, terdengar bunyi gemuruh dari arah sungai. Dari jendela dapur, tampak rimba di hulu runtuh ke dalam sungai. Ia bersama sebelas anggota keluarganya, termasuk cucu dan menantu, bergegas lari ke atas bukit.
”Kami lari hingga 1 km atas bukit, tidak pernah menengok lagi ke belakang. Hingga kami turun Jumat pagi,” kata Bujang.
Di bukit, keluarga Bujang bertemu tetangga lainnya hingga total jumlah pengungsi 16 orang. Mereka bermalam di sebuah pondok kecil di tengah ladang berdingin-dingin tanpa selimut di bawah guyuran hujan. Saking kecilnya pondok itu, mereka tak dapat merebahkan badan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/93417ddc5cf2257c5827914d7801bc7b-20251129_145611.jpg)
Saat kembali turun Jumat pagi, Bujang dan keluarga mendapati rumah mereka lenyap tak bersisa hingga ke tanah-tanahnya. Begitu pula rumah para tetangga. Sementara itu, dapur rumah anaknya hancur diserempet banjir bandang.
Meski harta benda lenyap, Bujang bersyukur ia dan anggota keluarganya selamat. Malangnya, banyak sanak saudara dan tetangganya yang belum jelas kabarnya. ”Tetangga kami lima orang ditemukan meninggal,” katanya.
Situasi yang lebih buruk dialami oleh warga dan pengendara lainnya yang berada di sekitar jembatan kembar. Mereka tak sempat menyelamatkan diri seperti Pendi dan Bujang beserta keluarga. Pihak keluarga masih menunggu proses pencarian korban oleh tim SAR gabungan.
Emron Datuak Bijo (42), warga Kelurahan Lamposi Sungai Durian, Kota Payakumbuh, masih menunggu kabar kondisi keponakannya, Angger (25), di sekitar jembatan kembar sejak Kamis malam. Sang keponakan tak dapat dihubungi hingga kini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/29/8053eaa7-8dae-43ef-a315-876125b39d63.jpg)
Menurut Emron, Angger terakhir berkomunikasi dengan orangtuanya Kamis pagi. Posisi terakhir mahasiswa semester akhir Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Padang itu berada di sekitar jembatan kembar.
”Pada video sebelum kejadian yang beredar di media sosial, saya lihat mobilnya terparkir dan dia (Angger) berdiri di sudut mushala,” kata Emron. Kini mushalla yang dimaksud berdiri miring diselimuti lumpur.
Emron menjelaskan, keponakannya Kamis pagi itu dalam perjalanan dari Payakumbuh ke Padang. Bersamanya, diperkirakan ada tiga orang lain yang jadi penumpang. Sampai kini, mobil Angger juga belum ditemukan.
Sementara itu, Suheri (53), warga Silaing Bawah, mengatakan, ayah, ibu, dua adiknya, keponakan, dan adik iparnya belum ditemukan. Rumah orangtuanya dan warung-warung milik adiknya yang berada persis di sekitar gapura, titik terparah galodo, lenyap tak bersisa.
”Saya pantau di sini, saudara memantau di Padang (RS Bhayangkara), belum ada kabarnya,” kata Suheri, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk semen. Adapun Suheri selamat dari bencana karena sedang di Bukittinggi mengantar semen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/29/43d529ec-dbb0-41d7-b09d-b68dd313642c.jpg)
Menurut Suheri, kejadian ini tak disangka. Sebab, banjir bandang datang dari sungai kecil yang berhulu di Pasar Padang Panjang. Warga justru khawatir bencana datang dari sungai sebelahnya yang lebih besar dan berhulu di dua gunung, Marapi dan Singgalang.
Kedua anak sungai itu menyatu di bawah jembatan kembar menjadi Sungai Batang Anai. Saat bencana galodo tahun lalu, air bah datang dari sungai yang lebih besar, sedangkan sungai kecil tidak menjadi ancaman meski debit air meningkat.
Suheri menyebut, Rabu (26/11/2025) malam, sirine dari early warning system (EWS) yang dipasang di sungai lebih besar berbunyi. Warga segera mengungsi ke kantor lurah. Paginya, karena mengira situasi kondusif, warga kembali ke rumah. Justru itu jadi mula petaka. Galodo datang dari sungai yang tak disangka-sangka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/29/582b067d-6eb2-47e5-9386-f518323acde1_jpg.jpg)
Sekretaris Kelurahan Silaing Bawah Nurmiati Amin di Padang Panjang, Sabtu, mengatakan, ada 36 warga RT 020 yang bermukim di sekitar jembatan itu dilaporkan hilang oleh ketua RT setempat dan masyarakat. ”Mereka belum ditemukan dan belum dapat dihubungi,” kata Nurmiati.
Nurmiati menjelaskan, ada 25 rumah yang hanyut dan 5 rusak berat akibat banjir bandang di RT 020 yang berada di sekitar jembatan kembar di jalan nasional Padang-Bukittinggi itu. Adapun secara keseluruhan, ada 202 jiwa yang bermukim di RT 20.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, hingga Jumat (28/11/2025) malam, total ada 7 korban jiwa dan 3 orang luka-luka dalam banjir bandang di Padang Panjang. Tidak semuanya korban jiwa itu warga Padang Panjang.
Jumlah korban pun berkemungkinan lebih banyak daripada data korban dari laporan resmi. Di tengah ketidakpastian, masyarakat menunggu anggota keluarganya kembali pulang.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase