Agam Berger, sandera Israel yang dibebaskan dari Gaza, mengaku leluasa menjalankan ibadah Yahudi selama disandera. Ia diberi buku-buku doa Yahudi oleh penyanderanya.
26 Feb 2025 19:38 WIB · Internasional
TEL AVIV, RABU — Agam Berger (20), salah satu sandera Israel yang telah dibebaskan dari Jalur Gaza, menuturkan bahwa keimanan telah membuatnya mampu bertahan selama hampir 16 bulan disandera di Jalur Gaza. Ia memanfaatkan beberapa perlengkapan yang tersedia, termasuk buku-buku doa Yahudi yang diberikan oleh para penyandera, untuk menjalankan ibadah Yahudi.
Penuturan seputar kisahnya berada dalam sandera di Jalur Gaza diceritakan Berger dalam wawancara dengan radio Israel, Reshet Bet, Selasa (25/2/2025). Berger adalah perempuan anggota militer Israel dengan tugas sebagai pengintai.
Ia dan beberapa perempuan tentara pengintai lainnya ditangkap Hamas dan faksi-faksi perlawanan Palestina lainnya, yang menyerang Israel selatan, 7 Oktober 2023. Mereka diculik dari sebuah markas militer di Israel selatan. Berger dibebaskan, Januari 2025, dalam kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza antara Hamas dan Israel.
Wawancara Berger merupakan wawancara pertama korban sandera yang dibebaskan dalam gencatan senjata saat ini dengan media. Kepada radio Reshet Bet, Berger menuturkan, dia dipindahkan secara terus-menerus ke berbagai lokasi dalam 16 bulan terakhir di Gaza. Dia diamankan di bangunan apartemen, dan terowongan, bersama perempuan sandera lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/26/ed9cc4c41f13c96977a254dd230dcc31-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_HOSTAGE_127134027.jpg)
Berger mengatakan, kondisi tempat penyanderaan beragam, tergantung dari lokasi penyanderaan dan siapa penjaga sandera. ”Kami diberi makan dan berada dalam kondisi yang sebagian besar oke ketika Anda tahu apa saja yang bisa terjadi,” tuturnya. ”Namun, ketika Anda memikirkan lagi hal itu, kondisinya tidak layak untuk manusia.”
Sejumlah sandera lainnya menuturkan, melalui keterangan yang disampaikan oleh keluarga masing-masing bahwa mereka kelaparan, diborgol, dan disiksa.
Bergel menuturkan, kondisi dirinya memburuk setelah dua serbuan militer Israel untuk membebaskan sandera pada awal 2024. Akibat serbuan itu, para penyandera semakin waswas.
Hamas telah membebaskan 25 sandera yang masih hidup dan empat jenazah sandera yang meninggal. Mereka dibebaskan dalam kesepakatan gencatan senjata tahap pertama, yang berlangsung selama 42 hari sejak 19 Januari 2025.
Menurut keluarga Berger, selama berada dalam sandera, Berger selalu berupaya menjalankan ibadah Yahudi. Berger menuturkan kepada radio Reshet Bet bahwa pada Januari 2025 ia dan rekannya sesama sandera diberi dua buku doa-doa Yahudi oleh penyandera. Selain itu, mereka juga diberi beberapa pernik yang ditinggalkan oleh tentara Israel, seperti koran Israel dan peta militer.
Berger mengaku tetap menjalankan ibadah Yahudi selama berada di tangan penyandera. Dia bersama teman-temannya mendapat buku doa Yahudi dan berbagai perlengkapan ibadah dari penyandera.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/26/05eedb51d525181696effbc81d81b563-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_HOSTAGE_127132810.jpg)
Berger merayakan hari raya Hanukah—hari raya Yahudi yang dirayakan selama delapan hari berturut-turut untuk memperingati penahbisan kembali Bait Suci di Jerusalem pada abad ke-2 SM—pada Desember 2023 di dalam terowongan bersama empat sandera lainnya. Dia meminta lilin sembahyang dan menorah—lambang agama Yahudi berbentuk tempat lilin bercabang tujuh atau sembilan—kepada penyandera untuk beribadah selama delapan hari.
Berger menuturkan, perlengkapan-perlengkapan itu disediakan oleh penyandera.
Semangatnya runtuh saat ia tahu sejumlah kalangan di pemerintahan Israel tidak mau memberikan konsesi untuk membebaskan para sandera. Sepertinya nyawa kami tidak ada harganya. (Agam Berger)
Berger mengikuti pergantian tanggal melalui satu arloji yang diberikan kepada salah satu rekan sesama sandera. Arloji itu diminta lagi, beberapa bulan sebelum sang sandera rekannya dibebaskan. Saat ini, sang rekan sandera itu mengaku kesulitan mengikuti hari-hari libur Yahudi tanpa berita dari Israel.
Dalam sebagian besar waktu penyanderaan, Berger mendapat makan dua kali sehari, berupa roti dan nasi. Melalui akses terbatas pada berita yang didapat, Berger mengetahui perkembangan perang, termasuk perdebatan di Israel tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membebaskan para sandera.
Berger mengaku semangatnya runtuh saat ia tahu sejumlah kalangan di pemerintahan Israel tidak mau memberikan konsesi untuk membebaskan para sandera. ”Sepertinya nyawa kami tidak ada harganya,” ujar Berger.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/26/589048e5b07003dc821b938288956a9a-Israel_Palestinians_127258449.jpg)
Malam menjelang dirinya dibebaskan, Berger diberi tahu bahwa dirinya akan dibebaskan, keesokan harinya. Semalaman ia tidak bisa tidur. Keesokan harinya, beberapa perempuan Palestina memberinya pakaian seragam militer warna hijau. Ia juga diberi tahu akan diminta naik ke atas panggung dalam upacara pelepasan sebelum dibebaskan melalui staf Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Berger juga mengaku didesak untuk menuliskan ucapan terima kasih kepada para penyandera. ”Saya hanya berupaya menerka (apa yang dimaksud dengan) semua itu dan (dalam hati) saya hanya bilang, ’Saya tidak mau ambil pusing. Saya akan pulang hari ini’,” ujarnya.
Saat akan dibebaskan, Berger tidak diperbolehkan membawa pulang perlengkapan yang diperoleh selama disandera. Ia meninggalkan buku-buku catatan penuh dengan gambar-gambar sketsa yang dibuatnya bersama rekan sesama sandera, kartu-kartu yang dia tulisi dengan tanggal-tanggal ulang tahun kerabatnya, dan buku doanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/26/edd1ab0b37cea3b0bed06c48cfa0551d-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_HOSTAGE_127134135.jpg)
Secara terpisah, utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengatakan, Selasa (25/2/2025), perwakilan Israel siap merundingkan gencatan senjata tahap kedua dengan Hamas. Berbicara di depan Komite Yahudi Amerika, Witkoff mengatakan, sudah dicapai kemajuan perundingan.
”Perundingan akan berlangsung di kota Doha atau Kairo. Perundingan akan difasilitasi Mesir atau Qatar,” kata Witkoff.
Mediasi Mesir, Qatar, dan AS menghasilkan gencatan senjata tahap pertama yang berlaku selama 42 hari sejak 19 Januari 2025. Perjanjian tersebut akan berakhir pada 1 Maret 2025.
Para perunding mengaku berhasil mendorong Israel membebaskan 600 tahanan Palestina yang mestinya dibebaskan, Sabtu pekan lalu, sebagai pertukaran dengan enam sandera dan empat jenazah sandera Israel.
PM Israel Benjamin Netanyahu menunda pembebasan tahanan karena adanya upacara penyerahan sandera oleh Hamas yang dianggapnya mempermalukan sandera.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/23/26de3234d918721f5b2db3b8edabc9d1-wires_photo_39_.jpg)
Witkoff mengatakan, fokus perundingan Hamas-Israel adalah kembali pada upaya gencatan senjata tahap kedua dan penambahan jumlah sandera yang mungkin dibebaskan saat ini.
”Saya mungkin akan bergabung dalam perundingan hari Minggu (2/3/2025) jika semua berjalan sesuai rencana,” kata Witkoff.
Ia juga menyatakan optimistis upaya menggandeng Arab Saudi dalam normalisasi hubungan dengan Israel. Jika terwujud, kata Witkoff, hal itu menjadi capaian paling penting dalam diplomasi Zionis.
Pada periode pertama pemerintahan Presiden Donald Trump, AS mendorong Kesepakatan Abraham (Abraham Accord) yang berhasil menormalisasi hubungan tiga negara Arab (Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko) dengan Israel. Sudan juga menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Capaian itu merupakan keberhasilan diplomatik pertama bagi Israel dalam beberapa puluh tahun terakhir. Witkoff menambahkan, tidak tertutup kemungkinan membuka hubungan diplomatik dengan Suriah dan Lebanon yang beberapa waktu terakhir kehilangan dukungan Iran, sekutu mereka. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan Santosa, Muhammad Samsul HadiEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan