Kesederhanaan Paus Fransiskus dimulai dari sepatu hitam yang selalu dipakainya.
25 Apr 2025 11:11 WIB · Foto
Sebuah toko sepatu sederhana di Flores, di Buenos Aires bagian barat, bernama Muglia Shoes tetiba ramai didatangi warga dan wartawan. Kabar tentang meninggalnya Paus Fransiskus di usia 88 tahun mengejutkan dunia, tak terkecuali daerah ini, di mana seorang Jorge Mario Bergoglio lahir yang kemudian menjadi Paus Fransiskus.
Toko ini dibuka tahun 1945. Juan Jose Muglia, pendiri toko ini melayani Bergoglio yang saat itu berusia 20 tahun, seorang pastor Jesuit di Basilika San Jose de Flores yang terletak tak jauh dari toko sepatu Muglia. Sejak itu, Pastor itu selalu membeli sepatu yang sama, sepasang sepatu loafer bertali buatan tangan berwarna hitam. Sepatu ini kuat dan tahan dipakai bertahun-tahun, juga nyaman dipakai.
”Ayah saya, kakek saya, mereka bercerita kepada saya tentang bagaimana Pastor Jorge datang dari gereja di sekitar sudut untuk membeli sepatu ini. Sepatu itu adalah sepatu yang disukainya, ia memakainya sepanjang waktu,” kata Muglia, 52 tahun, kepada The Associated Press pada hari Kamis 24 April 2025 sambil mengangkat sepasang sepatu loafer bertali buatan tangan.
Ketika Muglia mengambil alih setelah ayahnya meninggal, ia menambahkan poster Elvis Presley, sepeda motor Harley Davidson, dan piringan putar vinil untuk memberi kesan hipster pada toko sepatu itu.
Rak-rak sepatu itu kini memajang mode baru, seperti sepatu bot runcing dan sepatu kulit paten yang cerah.
Namun, sebagian besar toko itu tetap sama, termasuk dinding berpanel kayu pinus, rak-rak dari lantai hingga langit-langit berisi kotak sepatu berwarna krem, dan tentu saja, sepatu loafer kulit hitam dengan sol yang kuat dan antiselip yang dibeli berulang kali oleh Paus Fransiskus, yang menginspirasi para pastor Katolik setempat untuk melakukan hal yang sama.
Ketika Fransiskus menjadi paus pada tahun 2013, Muglia mengatakan bahwa ia menawarkan untuk mengantar Paus ke St Peter dengan sepasang sepatu baru favoritnya. Namun, ia ingat Fransiskus mengatakan bahwa kakinya menjadi terlalu bengkak di usia tuanya dan ia perlu menemukan sepatu yang lebih pas yang dapat diandalkannya di Roma.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/25/d703a581-9014-4d6d-bdf9-c1f3f1380300_jpg.jpg)
Sandal Kepausan biasanya terbuat dari bahan beludru merah atau sutra yang bertaburkan jalinan emas dengan tanda salib di tengahnya. Biasanya sandal ini digunakan untuk kegiatan di dalam ruangan. Warna merah sengaja dipilih untuk mewakili darah para martir Katolik yang ditumpahkan selama berabad-abad mengikuti jejak Kristus.
Sementara sepatu luar ruangan yang biasanya digunakan Paus terbuat dari kulit Maroko berwarna merah.
Penggunaan sepatu merah ini kemudian dihentikan pada masa kepemimpinan Paus Fransiskus. Ia lebih suka menggunakan sepatu berwarna hitam dibandingkan dengan warna merah yang menunjukkan status kepausannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/25/064aae9f-ff33-425c-83f0-62ff46d7ff9b_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/25/3a0d6a0f-5440-472a-bd81-60c37f02338c_jpg.jpg)
Uskup Agung Jakarta Kardinal Suharyo dalam konferensi pers pers di Katedral Jakarta, Rabu (4/9/2024), menyampaikan kesannya akan Paus. ”Saya sengaja memperhatikan sepatunya (Paus Fransiskus). Saya, kan, dekat ya melihat sepatunya. Biasanya, Bapa Suci itu memakai sepatu merah atau putih, tetapi kemarin saya lihat sepatunya itu hitam dan sudah lekuk-lekuk. Itu tandanya sudah lama dipakai. Itu bukan sekadar kebetulan. Itu adalah pilihan untuk tetap hidup sederhana,” tutur Kardinal Suharyo seperti ditulis Kompas.
Dalam sejarah kepausan, Paus Fransiskus banyak perubahan dibandingkan dengan para pendahulunya. Sepatu adalah salah satunya. Ia mengubah tradisi ”mewah” yang telah berlangsung berabad-abad menjadi lebih sederhana. Paus memulai ”karya” kepausannya dari sepatu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/25/1e19a169-dcf1-46e1-9827-a6599577a860_jpg.jpg)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .