Kisah Sertu Rio Prasaja, Bertahan 2,5 Jam Tertimbun Longsor hingga Sedagu

Sudah empat hari anaknya yang berusia 1,5 tahun dan istrinya tertimbun lumpur material banjir bandang dan longsor yang melanda desa itu.

29 Nov 2025 09:54 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

Sersan Satu Rio Prasaja (42) tak kuasa membendung air mata ketika tim pencarian dan pertolongan akhirnya tiba di lokasi longsor dan banjir bandang di Desa Sibalanga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025). Sudah empat hari anaknya yang berusia 1,5 tahun dan istrinya tertimbun lumpur material banjir bandang dan longsor yang melanda desa itu.

Rio menangis mengisahkan bagaimana dia bertahan setelah tertimbun lumpur hingga setinggi dagu di tengah hujan dan gelap selama 2,5 jam. Ia akhirnya berhasil diselamatkan. Namun, dia kehilangan anak, istri, dan empat kerabatnya.

Rio melintas dari Jalan Tarutung-Sibolga pada Selasa (18/11/2025) malam. Dia bersama istri, anak, dan enam kerabatnya yang lain baru pulang dari Medan menuju tempat tugas di Kodim 0212/Tapanuli Selatan.

Mereka memilih jalur itu karena mendapat informasi Jalan Tarutung-Padang Sidimpuan tak bisa dilalui karena longsor.

Petugas gabungan mengevakuasi jenazah yang ditemukan di Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025). Desa itu sempat terisolasi empat hari pasca banjir bandang. Korban bisa dievakuasi setelah akses jalan bisa dibuka.

Saat tiba di Desa Sibalanga, mereka mendapat informasi kalau jalan di depan mereka telah tertimbun longsor. Rio dan keluarganya memilih singgah di sebuah warung. Longsor pertama pun menghantam desa itu pada Selasa menjelang tengah malam.

Longsor menghantam tiga rumah di atas warung tersebut. ”Saya mendengar ada teriakan minta tolong. Mereka menyebut ada warga yang tertimbun,” kata Rio.

Nalurinya sebagai anggota TNI membuatnya tergerak untuk membantu warga menangani longsor itu. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan melakukan pertolongan, mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan besok paginya.

Rio dan keluarganya memutuskan untuk tidur di warung tersebut dan melanjutkan perjalanan besok hari. Rio sempat mendengar lima kali suara gemuruh dari atas bukit. Dia lalu menggendong anaknya yang gelisah.

”Suara gemuruh yang lebih besar lalu terdengar lagi lalu diikuti lumpur yang langsung menghantam warung tempat kami istirahat. Anak saya terempas dari tangan saya dan terbawa lumpur,” kata Rio.

Setelah berhasil membuka akses jalan ke desa terisolasi, petugas gabungan melakukan operasi pencarian dan pertolongan di lokasi banjir bandang dan longsor di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten. Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025). Desa itu sudah empat hari terisolasi karena jalan putus. Hingga Jumat, sejumlah desa di Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan belum bisa diakses.

Anak, istri, dan empat kerabatnya yang lain hilang tertimbun lumpur. Rio juga tertimbun hingga setinggi dagu dengan posisi berdiri. Kedua tangannya juga terkubur, tetapi masih menyisakan telapak tangan yang terangkat di samping kepalanya.

Suasana saat itu gelap gulita dan hujan turun semakin lebat. Dia mendengar ada beberapa orang datang hendak memberi pertolongan.

Rio hanya bisa bersuara pelan. Darah mengucur ke wajahnya dari keningnya yang sobek. Orang-orang tidak mendengar suara Rio yang tertutup di antara reruntuhan rumah. “Saya memanggil meminta tolong, tetapi mereka awalnya tidak mendengar,” kata Rio.

Di saat-saat terakhir orang-orang hendak pergi, Rio menemukan senter di dekat tangannya. Dia menghidupan senter dan berteriak lebih keras. Warga dan petugas dari koramil dan polsek setempat langsung menemukan Rio.

Mereka mencoba menggali dengan cangkul, tetapi gagangnya sangat licin sehingga tak bisa digunakan. Di tengah risiko tertimbun longsor susulan, mereka mencoba menolong Rio dengan menggali tanah menggunakan tangan. Mereka menghentikan pendarahan dengan menumpukkan tanah di kening Rio.

Petugas gabungan berupaya membuka jalur yang tertimbun longsor di Jalan Tarutung-Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (27/11/2025). Sudah tiga hari kawasan Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga terputus setelah mengalami banjir bandang dan longsor.

”Saya tidak mengenal Rio. Namun, setelah saya melihat wajahnya, saya ingat dia adalah teman leting saya. Tapi sudah sangat lama tidak bertemu,” kata Sertu Suharmon, tentara di koramil setempat.  

Suharmon dan warga lainnya mulai menggali tanah sekitar pukul 02.00 WIB. Mereka kesulitan karena lumpur kembali lagi menutup. Mereka menggali lebih cepat dengan tangan. ”Kami hampir putus asa. Namun, kami kembali semangat melihat semangat bertahan hidup Rio. Dia ingin menolong anak dan istrinya,” kata Suharmon.

Quote

Setelah lebih dari 2,5 jam, mereka berhasil menggali lumpur hingga ke bawah pinggang. Suharmon menemukan sebuah tangan memegang kaki Rio di bawah lumpur.

Setelah lebih dari 2,5 jam, mereka berhasil menggali lumpur hingga ke bawah pinggang. Suharmon menemukan sebuah tangan memegang kaki Rio di bawah lumpur. Setelah Suharmon memberitahukan ada tangan yang memegang kaki Rio, tentara itu menangis histeris.

Mereka akhirnya bisa menarik Rio dari lumpur sekitar pukul 04.30. Mereka membawa Rio ke tempat pengungsian di sebuah gereja. Saat itu, semua warga desa sudah berkumpul di sana. Setelah empat hari, petugas gabungan berhasil menembus desa itu dan melakukan pencarian dan pertolongan.  

Empat hari menembus jalan

Dinda Hutabarat (25) dan empat adiknya menangis histeris saat tiba di depan rumahnya yang sudah roboh tertimbun lumpur di Desa Sibalanga. Dia mendapat kabar kalau ayah, ibu, dan seorang adiknya hilang dan diduga tertimbun longsor.

Sejak mendengar informasi itu, mereka berupaya menembus desa terisolasi itu. Namun, mereka tertahan selama berhari-hari karena Jalan Tarutung-Sibolga yang merupakan akses satu-satunya ke desa itu putus total. Banjir bandang dan longsor terjadi di puluhan lokasi mulai dari Kilometer 14 di Tapanuli Utara sampai Kilometer 62 di Kota Sibolga.

Dinda dan adik-adiknya berjalan kaki di beberapa titik agar bisa sampai ke rumahnya. Setelah empat hari, jalan akhirnya terbuka hingga ke Desa Sibalanga di Kilometer 38. ”Kami berharap ayah, ibu, dan adik kami bisa segera ditemukan,” kata Dinda.

Gubernur Sumut Bobby Nasution mengatakan, saat ini prioritas pemerintah adalah melakukan tindakan tanggap darurat, yakni pembukaan akses menuju lokasi bencana, penyelamatan dan evakuasi korban, serta memasok kebutuhan dasar ke lokasi bencana.

Perkampungan di Jalan Tarutung-Sibolga di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, rusak berat diterjang banjir bandang, Kamis (27/11/2025). Sudah tiga hari jalan utama menuju Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah itu lumpuh total karena tertimbun material banjir dan longsor di sepanjang 20 kilometer jalan.

Tiga jalan nasional menuju Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga sudah lima hari putus total hingga Sabtu (29/11/2025). Selain tiga jalur itu, tidak ada jalan lain yang bisa diakses kendaraan. ”Prioritas pemerintah saat ini adalah membuka akses jalan,” kata Bobby di Medan.

Hingga hari kelima, satu-satunya akses ke kawasan itu adalah lewat jalur udara. Helikopter TNI Angkatan Udara sudah bisa masuk ke Tapanuli Tengah setelah cuaca mulai cerah. Helikopter itu memasok bahan pokok seperti sarden kaleng, gula, mi instan, minyak goreng, popok, dan pembalut. Mereka telah memasok 2,2 ton bantuan.

Pembukaan akses jalan darat menuju pesisir barat itu juga terus dilakukan. Akses darat akan menjadi jalur utama untuk memasok kebutuhan dasar dan mengirim bantuan pencarian dan pertolongan. Di Sumut, sebanyak 12 kabupaten/kota mengalami bencana banjir bandang, banjir, dan longsor. Sebanyak 62 orang dilaporkan meninggal. Tanggap darurat bencana masih terus dilakukan.

Bencana banjir dan longsor melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Puluhan ribu keluarga terdampak bencana itu. Dana Kemanusiaan Kompas membuka dompet kemanusiaan untuk menampung bantuan pembaca yang hendak meringankan derita para korban. Dompet dibuka hingga tanggal 31 Desember 2025. Bantuan dapat ditransfer ke rekening Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas, Rekening BCA Cabang Gajah Mada, Jakarta, Nomor A/C 0123021433


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan