Setelah gagal ke Piala Asia 2026, ”Garuda Pertiwi” perlu dukungan, termasuk diberi wadah berkompetisi. Jika tidak, Indonesia berpotensi tertinggal, bahkan di ASEAN.
06 Jul 2025 17:48 WIB · Olahraga
Selepas laga kontra Taiwan, para pemain timnas sepak bola putri Indonesia berjalan mendekati tribune timur Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten. Di sana, mereka diberi dukungan oleh suporter. Di sana pula, mereka membentangkan spanduk bertuliskan, ”Pak Erick, kapan Liga 1 Putri digelar?”
Minggu (5/7/2025) itu jadi malam kelabu bagi timnas sepak bola putri. Shafira Ika dan kawan-kawan kalah 1-2 dari Taiwan pada laga terakhir Grup D kualifikasi Piala Asia 2026.
Kekalahan memastikan ”Garuda Pertiwi” gagal ke Piala Asia setelah finis pada peringkat ketiga klasemen dengan tiga poin dari tiga laga. Tiket ke turnamen tersebut jadi milik Taiwan sebagai juara grup dengan sembilan poin.
Spanduk, yang sempat dibentangkan oleh pemain sebelum akhirnya direbut petugas tanpa alasan jelas, menambah muram dan sedih suasana. Dari pertanyaan di spanduk, tergambar tuntutan, keputusasaan, dan harapan sekaligus soal sepak bola putri di Tanah Air.
Pertanyaan di spanduk itu sebenarnya bukan pertanyaan yang pertama kali diajukan. Bukan pula pertanyaan sulit.
Toh, Ketua Umum Erick Thohir, orang yang dituju dalam pertanyaan itu, sudah menjawabnya dalam beberapa kesempatan. Jawabannya adalah liga sepak bola putri digelar 2027. ”Eh sabar, saya bilang. Ini, kan, sebelum Liga Putri itu jalan, kita harus ciptakan grassroots,” ucap Erick, 28 Juni lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/06/2afd0ebf3b529a5d033251ff0deb758f-20250705YGA19.jpg)
Namun, jawaban itu tak pernah cukup. Apalagi, perhelatan liga selalu ditunda. Erick, pada Mei 2024, memastikan liga sepak bola putri akan bergulir 2026. Selama dua tahun menuju 2026, PSSI memilih membangun timnas lebih dahulu.
Saat itu saja, beberapa pesepak bola putri menilai, 2026 terlalu lama untuk liga putri mati suri sejak edisi pertama pada 2019. Terlebih, tidak semua pesepak bola putri terwadahi di timnas yang menjadi fokus utama PSSI.
Walakin, setelah itu, gaung liga putri kerap tertutup ketika timnas putri menang pada beberapa laga persahabatan dan turnamen. Indonesia naik 12 peringkat menjadi posisi ke-95 setahun terakhir.
Kekalahan dari Taiwan jadi momentum menggaungkan lagi urgensi menggulirkan kompetisi dalam waktu dekat. Apalagi, dengan kekalahan ini, Indonesia gagal mengulangi pencapaian pada edisi 2022 saat berhasil lolos.
Penampilan Garuda Pertiwi melawan Taiwan sebenarnya lebih baik dari laga versus Pakistan dan Kirgistan. Pertahanan lebih disiplin, serangan juga lebih agresif.
Namun, problem klasik masih membayangi timnas putri, yaitu kurangnya penguasaan teknik dasar bermain sepak bola, seperti mengumpan, mengontrol, dan menggiring bola, serta menempatkan posisi. Sejak menangani timnas putri mulai 2024, Pelatih Satoru Mochizuki sudah menyoroti kekurangan itu.
Masalah itu sebenarnya tak hanya mengemuka di timnas putri. Mantan pelatih timnas putra, Shin Tae-yong, pernah mengeluhkan yang hal sama. Namun, bagi pemain putri, problem ini diperparah dengan ketiadaan kompetisi dalam enam tahun terakhir.
Para pemain praktis tak bisa mengasah kemampuan mereka lewat pertandingan reguler. Mereka hanya mengandalkan turnamen yang juga tidak konsisten digelar, sisanya berjuang sendiri dengan mencari pengalaman di luar negeri.
”Memang penting ada lingkungan yang bisa memungkinkan pemain untuk bermain sepak bola putri dari kecil sampai level top,” kata Mochizuki, Rabu (2/7/2025).
Bagian tim kepelatihan Jepang yang menjuarai Piala Dunia Putri 2011 ini mengamplifikasi ucapannya pada Februari lalu saat melihat potensi pemain-pemain muda. ”Untuk mengembangkan potensi pemain, harus ada lingkungan yang memungkinkan mereka bermain di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Kompetisi memberikan mereka target, dan target memotivasi mereka untuk berlatih,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/06/385f0546d4cfff6003fb5b27fc9c9dde-20250705YGA05.jpg)
Pelatih Taiwan Chan Hiu Ming melihat Indonesia sedang berambisi memajukan sepak bola, termasuk sektor putri. Namun, Chan mengingatkan pentingnya sebuah proses.
”Kami memang pantas lolos karena kami juga telah mengeluarkan banyak upaya dan para pemain kami telah berkorban banyak. Tidak hanya 1 bulan, 2 bulan, tetapi 2 tahun untuk bersiap pada kualifikasi ini,” ucap pelatih yang sebelumnya menyoroti upaya Indonesia menarik pemain diaspora.
Taiwan tampil percaya diri dengan teknik dasar yang mumpuni. Kemampuan mereka tak hanya terbangun lewat persiapan bersama timnas, tetapi juga melalui kompetisi bersama klub masing-masing. Seluruh pemain Taiwan aktif berkompetisi di liga dalam negeri dan luar negeri.
Jika Taiwan, yang tiga kali juara Piala Asia, tidak bisa jadi perbandingan yang adil bagi Indonesia, mari bandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lain. Jangankan bicara persaingan Asia, untuk Asia Tenggara saja sebenarnya jurang disparitas itu terasa.
Terbaru, pemain tim putri Indonesia U-19 kalah 1-6 dari Thailand, yang akhirnya keluar sebagai juara, dan imbang 1-1 dari Kamboja di Kejuaraan ASEAN 2025. Indonesia hanya menempati peringkat ketiga. Pada kelompok usia yang lebih muda, Indonesia takluk 1-6 dari Filipina di Piala Asia Putri U-17 2024.
Di kualifikasi Piala Asia 2026, Thailand juga gagal lolos. Mereka, pertama kalinya sejak 1997, gagal tampil di Piala Asia. Negara yang memiliki Thai Women’s League dengan dua kasta saja tidak lolos, sulit berharap hasil lebih baik diraih Indonesia yang tak punya kompetisi apa-apa dalam enam tahun terakhir.
Kegagalan Thailand yang ditentukan lewat laga hidup-mati melawan India juga menunjukkan persaingan makin sengit di Asia dan Asia Tenggara. Filipina dan Vietnam mulai muncul jadi ”ratu” baru di kawasan. Mereka jadi wakil ASEAN di Piala Asia 2026 setelah jadi juara di grup masing-masing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/05/1b61118cc2827f94cd60eb1da2f9a0f3-20250705YGA08.jpg)
Vietnam dan Filipina, yang lolos ke Piala Dunia Putri 2023, dapat menjadi contoh keberhasilan pembinaan dan pengembangan sepak bola putri lewat kompetisi. Filipina punya The PFF Women’s League sejak 2016 dan Vietnam menggulirkan VFF Women’s League atau Thai Son Bac Cup sejak 1998.
Di Asia Tenggara, hanya Indonesia dan Brunei Darussalam yang tak punya liga sepak bola putri saat ini. Kamboja dan Laos, beberapa tahun lalu masih belum dianggap sebagai ancaman, bahkan sudah konsisten menggulirkan liga. Begitu juga dengan Timor Leste yang akan meluncurkan liga pada Agustus 2025.
Singapura bahkan memiliki dua tingkatan kompetisi, Deloitte Women’s Premier League dan Women’s Nation League. Juara Women’s Premier League, Lion City Sailors, dan juara Lao Women’s League 2023, Young Elephants, juga sudah ikut tahap penyisihan Liga Champions Asia Putri 2024-2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/06ca029f-b278-44fa-9223-5fed9a84bf89_jpeg.jpg)
Erick Thohir menyadari ancaman kebangkitan negara-negara Asia tenggara lainnya. Namun, dia lebih menyoroti pada upaya negara memperkuat timnas dengan menarik diaspora, bukan pada upaya pembinaan.
Setelah kegagalan Indonesia ke Piala Asia 2026 dan ditanya lagi soal perhelatan liga, Erick mengaku tidak takut tekanan. Semua pihak dimintanya tetap bersabar menanti kompetisi tersebut.
Sebelumnya, Erick menuturkan, liga tidak bisa digelar 2026 karena menurut studi, kolam talentanya belum cukup. Saat Kompas bertanya butuh berapa banyak pemain untuk bisa menggelar liga, Erick menjawab, butuh 30 pemain untuk masing-masing 8 klub. Artinya, total 240 pemain.
”Pemain timnas putri kita saja jumlahnya 30. Usianya rata-rata 22 tahun. Jadi sebenarnya tipis (stoknya). Ditambah pemain yang U-20, U-19, mungkin ada sekitar 10-15, berarti 45 pemain,” ucap Erick, 28 Juni lalu.
”Jadi, enggak cukup. Kalau talenta yang di bawah ini juga kita paksakan, nanti kualitas liga putrinya tidak bagus, tidak ada yang nonton. Orang enggak mau beli tiket, enggak mau pasang iklan, akhirnya apa? Nanti bubar di tengah jalan klub-klub putri ataupun liga,” tutur Erick.
Jika terkendala minimnya peserta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia Souraiya Farina pernah mengusulkan membuka peluang bagi klub homogen, hanya berisi tim putri, untuk jadi peserta. Klub-klub ini punya struktur, akta, dan badan hukum jelas dan bisa didorong jadi klub profesional.
Lagi pula Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pemain atau klub putri. Pada Piala Pertiwi 2024, misalnya, ada sebanyak 16 tim dari 16 asosiasi provinsi PSSI ikut serta.
Sebagian besar yang jadi wakil asosiasi provinsi masing-masing itu adalah klub yang sudah eksis di daerah tersebut. Klub ini kebanyakan juga homogen. Dengan asumsi tiap tim yang bermain di Piala Pertiwi itu 20 orang, sudah ada 320 pemain yang siap berlaga di liga.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/17/7d2a01bb-ef0b-4d18-a339-086dc33fdb92_png.png)
Pencetak gol ke gawang Taiwan, Helsya Maeisyaroh, mengaku tetap bangga dengan tim karena mau berjuang keras meski banyak yang meragukan. Setidaknya, mereka bisa mengimbangi permainan Taiwan. Setelah ini, mereka pun tidak mau menyerah.
Walakin, Helsya dan pesepak bola putri di Indonesia ini perlu dukungan, termasuk diberi wadah berkompetisi dan berkembang dengan liga. Jika tidak, mereka akan kembali harus berjuang sendirian. Indonesia pun berpotensi makin tertinggal bahkan dalam persaingan tingkat Asia Tenggara.
Pada akhirnya, kita pun kembali bertanya, ”Kapan liga putrinya?”
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra