SOSOK

Kombinasi Kepribadian dan Talenta Carlos Alcaraz

Dalam usia 22 tahun, Carlos Alcaraz menjadi bagian dari sejarah tenis dunia. Dia membuat rekor sebagai petenis termuda dalam banyak kategori.

05 Feb 2026 17:00 WIB · Tokoh

AFP/DAVID GRAY

Oleh Yulia Sapthiani

Rendah hati dan selalu menebar senyum kepada siapa pun. Sikap rendah hati membuat Carlos Alcaraz tak sungkan membuka pintu dan menahannya agar petugas yang mendorong troli dengan banyak perlengkapan turnamen bisa lewat. Di lapangan, Alcaraz adalah sosok buas yang akan membuat lawan kewalahan dan kelelahan.

”Tak ada sedetik pun muncul di pikiran bahwa saya akan mundur. Jika ingin mengalahkan saya, dia harus berkeringat banyak,” kata Alcaraz.

Quote

Saya sangat menikmati dan menghargai setiap detik yang dijalani. Bukan hanya ketika saya memenangi pertandingan dan mengangkat trofi, melainkan juga dalam menikmati setiap proses, termasuk saat kalah.

Komentar itu diucapkan petenis Spanyol tersebut seusai memenangi semifinal turnamen tenis Grand Slam Australia Terbuka melawan Alexander Zverev, Jumat (30/1/2026). Setelah memenangi dua set awal, performa Alcaraz terganggu pada set ketiga karena sakit di paha kanan bagian atas.

Ada pendapat pro-kontra tentang hal ini karena peraturan tidak membolehkan petenis mendapat perawatan medis jika kram. Kram dinilai sebagai tanda kurangnya persiapan, bukan cedera. Namun, penentu dilakukannya medical timeout bukan petenis, melainkan tim medis turnamen atas seizin wasit pertandingan.

Kombinasi foto tujuh kemenangan Carlos Alcaraz dalam turnamen tenis Grandn Slam. Terakhir, dia menjuarai Australia Terbuka di Melbourne, Minggu (1/2/2026).

Alcaraz kesulitan bergerak cepat seperti dua set awal sehingga kehilangan set ketiga dan keempat, lalu tertinggal 3-5 pada set kelima. Namun, dia tak pernah berpikir ”memberi kemenangan” kepada lawan dengan mudah.

Seperti ”Spanish Warrior”, pejuang-pejuang tangguh Spanyol sejak zaman kekaisaran Romawi, Alcaraz berjuang di Rod Laver Arena, Melbourne Park, dan memenangi semifinal setelah bertanding selama 5 jam 27 menit.

Dua hari kemudian, Alcaraz mencetak sejarah, bagi diri sendiri dan buku rekor tenis dunia, saat mengalahkan Novak Djokovic di final dengan skor 2-6, 6-2, 6-3, 7-5. Gelar juara Australia Terbuka menjadi gelar ketujuh dari arena Grand Slam setelah Amerika Serikat Terbuka 2022 dan 2025, Wimbledon 2023 dan 2024, serta Perancis Terbuka 2024 dan 2025.

Petenis tunggal putra peraih "Career Grand Slam".

Dalam usia 22 tahun 272 hari, Alcaraz menjadi tunggal putra termuda yang mencetak ”Career Grand Slam”, menjuarai semua Grand Slam. Hanya ada Steffi Graf yang lebih muda dari Alcaraz saat menjuarai Grand Slam secara lengkap. Graf membuat catatan lebih fenomenal, yaitu menjuarai semua Grand Slam ditambah meraih medali emas Olimpiade Seoul 1988 dalam satu tahun (Golden Slam) pada usia 19 tahun.

Di tunggal putra, hanya ada Rod Laver, Andre Agassi, Roger Federer, Rafael Nadal, dan Djokovic yang mencetak Career Grand Slam di era Terbuka, yaitu era saat Grand Slam boleh diikuti petenis profesional sejak 1968.

Alcaraz menambahkan pencapaian itu dalam daftar rekor yang lebih dulu dibuatnya di sektor tunggal putra. Gelar juara AS Terbuka 2022 membawanya menjadi petenis termuda di puncak peringkat dunia dalam usia 19 tahun 130 hari. Dia pun menjadi petenis nomor satu dunia termuda akhir tahun, pada tahun yang sama, dalam usia 19 tahun 201 hari.

Pada 2024, petenis yang dipanggil dengan nama Carlitos oleh keluarga dan teman-temannya itu menambah rekor lain. Gelar juara Perancis Terbuka pada usia 21 tahun 35 hari membuatnya menjadi petenis termuda yang menjuarai Grand Slam di semua jenis lapangan, yaitu lapangan keras, tanah liat, dan rumput.

Foto yang dirilis oleh Tennis Australia pada 2 Februari 2026, menunjukkan Carlos Alcaraz dari Spanyol berpose dengan Norman Brookes Challenge Cup di ruang ganti setelah mengalahkan Novak Djokovic di final tunggal putra pada Hari ke-15 turnamen tenis Australia Terbuka di Melbourne.

Di tahun yang sama, Alcaraz menjuarai Perancis Terbuka dan Wimbledon, salah satu tantangan besar di arena tenis profesional. Diselenggarakan dalam waktu dua pekan untuk setiap turnamen dengan jeda tiga pekan, untuk turnamen pemanasan Wimbledon, petenis dituntut beradaptasi sangat cepat dengan pergantian jenis lapangan. Perancis Terbuka digelar di lapangan tanah liat berkarakter lambat, sedangkan Wimbledon di lapangan rumput yang berkarakter sangat cepat.

Alcaraz mencapai semua prestasi itu sejak memulai perjalanan di arena tenis profesional pada 2018, bermain di ATP Tour pada 2020, dan debut pada babak utama Grand Slam pada 2021.

Dalam sisi teknis, Alcaraz tak terkalahkan ketika berada dalam performa terbaik. Dia mempunyai kombinasi antara kekuatan pukulan, variasi gerakan yang berubah-ubah dan sentuhan, seperti dropshot, yang mematikan.

Kemampuan itu diasah dan dipertajam secara detail meski sudah berstatus juara Grand Slam dan petenis nomor satu dunia. Servis, forehand, dan backhand-nya semakin terarah.

Carlos Alcaraz saat bertanding melawan Novak Djokovic di final kejuaraan tenis Australia Terbuka di Melbourne, Australia, Minggu (1/2/2026).

Hal-hal kecil seperti ini pula yang selalu menjadi perhatian Roger Federer, Rafael Nadal, dan Djokovic hingga tak ada yang bisa mengimbangi pencapaian mereka. ”Big Three” dan Alcaraz melakukan itu agar terus lebih baik dari yang lain.

Federer pernah mengubah cara servis, Nadal memilih raket lebih berat agar servisnya meluncur lebih keras. Djokovic menjalani diet gluten untuk kebugaran tubuh.

Gerakan servisnya membuat bola sulit dikembalikan lawan meski Alcaraz bukan bertipe ”big server”. Caranya melakukan pukulan pembuka itu, oleh pemerhati tenis internasional, disamakan dengan servis Djokovic.

”Saya harus terus membuat perubahan, setiap turnamen, setiap hari, meski tak ada yang menyuruh saya seperti itu,” kata Alcaraz dalam The Athletic.

Dalam sisi mental yang merupakan faktor tak kasatmata, dia pun mencoba berubah. Setelah mengalahkan Zverev, dia bercerita ketika enggan berjuang mati-matian, bahkan cenderung gampang menyerah saat tertekan di kala muda.

”Saat bertambah dewasa, saya benci sikap seperti itu. Saya akan berjuang dan rela menderita untuk mendapatkan setiap poin. Saya juga benci kalah. Jadi, saya berusaha untuk mengurangi kekalahan,” katanya.

Ekspresi Carlos Alcaraz dari Spanyol usai memenangkan pertandingan final tunggal putra melawan Novak Djokovic di kejuaraan tenis Australia Terbuka di Melbourne, Australia, Minggu (1/2/2026).

Sikap mental itu menjadikan Alcaraz sebagai petenis terbaik dalam menghadapi tekanan. Dalam 16 pertandingan lima set di arena Grand Slam, Alcaraz menang 15 kali.

Tiga kemenangan di antaranya dilakukan dalam tiga pertandingan beruntun, melawan Marin Cilic (babak keempat), Jannik Sinner (perempat final), dan Frances Tiafoe (semifinal) pada AS Terbuka 2022. Adapun satu-satunya kekalahan dialami dari Matteo Berrettini pada babak ketiga Australia Terbuka 2022.

Alcaraz juga berada pada posisi teratas daftar petenis terbaik ”Under Pressure”, dalam 52 pekan terakhir, yang disusun ATP. Indikator yang digunakan adalah persentase saat mematahkan servis lawan, menggagalkan break point lawan, tiebreak, dan kemenangan pada set penentu (set ketiga dalam ATP Tour dan set kelima di Grand Slam). Dengan poin 256,4, Alcaraz unggul atas Sinner (247,7) dan Djokovic (246,5).

Meski demikian, petenis yang juga hobi bermain sepak bola (klub favoritnya adalah Real Madrid), golf, dan catur ini tak lepas dari rasa gugup, seperti ketika mendapat championship point melawan Djokovic. ”Banyak yang terlintas dalam pikiran. Saya sangat gugup, tubuh saya hampir bergetar. Saat melihat bola dari Novak jatuh di luar lapangan, saya berpikir, oke, saya sudah bisa melakukannya,” tuturnya.

Carlos Alcaraz dari Spanyol diwawancarai oleh seorang anak di Royal Exhibition Building setelah kemenangannya melawan Novak Djokovic di turnamen tenis Australia Terbuka di Melbourne pada Senin (2/2/2026).

Selain mental juara, semakin matangnya Alcaraz dalam menghadapi tekanan adalah karena dia bisa merangkum perjalanan hidup dalam poin-poin penting untuk dibawa ke persaingan kompetitif tenis profesional.

”Saya sangat menikmati dan menghargai setiap detik yang dijalani. Bukan hanya ketika saya memenangi pertandingan dan mengangkat trofi, melainkan juga dalam menikmati setiap proses, termasuk saat kalah,” kata petenis yang selalu didampingi ayah dan salah satu dari tiga saudaranya dalam setiap turnamen.

Maka, ketika dia mendapat banyak pertanyaan tentang target besar berikutnya, termasuk apakah bisa menjuarai semua Grand Slam pada 2026, Alcaraz tak langsung menjawab. Dia memilih menikmati momen kemenangan Australia Terbuka dengan berkumpul bersama keluarga dan tim pelatih. Media di Australia menyebut, Alcaraz merayakan di hotel dengan memesan pizza, bir, dan sampanye.

Keesokan harinya, ketika sesi foto untuk juara Australia Terbuka dilakukan di ruang terbuka di Melbourne, barulah anak kedua dari empat bersaudara itu menyebut targetnya. Dia ingin menjuarai semua turnamen ATP Masters 1000 yang terdiri atas sembilan turnamen setiap tahunnya. Alcaraz memiliki gelar dari enam turnamen hingga tinggal menyisakan Kanada Masters, Shanghai Masters, dan Paris Masters untuk dijuarai. Sejak digelar pada 1990, hanya Djokovic yang memiliki gelar lengkap dari ATP Masters 1000 dengan total 40 gelar.

”Tentu saja, saya juga ingin menjuarai Final ATP dan Piala Davis. Saya ingin mewujudkan itu untuk negara saya. Ada target lain juga, saya akan berusaha meraihnya selangkah demi selangkah,” katanya.

Alcaraz dan Big Three

Alcaraz mulai bermain tenis pada usia empat tahun dan berlatih di Real Sociedad Club de Campo de Murcia di El Palmar, Murcia, kota kelahirannya. Dia mengenal tenis dari ayahnya, Carlos Alcaraz Gonzalez, yang juga pelatih tenis dan petugas administrasi di klub tersebut.

Carlos Alcaraz dari Spanyol merayakan kemenangan dengan timnya setelah mengalahkan Novak Djokovic dari Serbia di final tunggal putra di kejuaraan tenis Australia Terbuka di Melbourne, Australia, Minggu (1/2/2026).

Ayahnya juga bermain tenis semasa muda, tetapi tak sampai menapaki jalur profesional. Maka, setiap kali menjuarai ajang besar, Alcaraz mendedikasikan gelar untuk sang ayah.

Kemampuan Alcaraz kemudian diasah di akademi olahraga milik Juan Carlos Ferrero, mantan petenis nomor satu dunia asal Spanyol, di Villena, yang berjarak sekitar 120 kilometer dari El Palmar. Alcaraz memilih lebih sering tinggal di Villena agar bisa fokus latihan karena jauh dari gangguan apa pun. Alcaraz dilatih Ferrero sejak berusia 15 tahun hingga kerja sama itu berakhir pada Desember 2025. Bersama Ferrero, Alcaraz enam kali menjuarai Grand Slam.

Melihat potensi Alcaraz remaja, sponsor besar, seperti Nike dan Rolex, tertarik mengajak kerja sama. Timnya pun bertambah besar dengan masuknya pelatih fisik, fisioterapis, dokter, dan psikolog.

Spain's Carlos Alcaraz (R) and Spain's Rafael Nadal (L) react while they play against Argentina's Maximo Gonzalez and Argentina's Andres Molteni during their men's doubles first round tennis match on Court Philippe-Chatrier at the Roland-Garros Stadium at the Paris 2024 Olympic Games, in Paris on July 27, 2024. (Photo by Miguel MEDINA / AFP)

Selain berkembang sesuai gaya main dan karakternya sendiri, Alcaraz belajar dari para senior, khususnya trio Federer, Nadal, dan Djokovic. Dia menjadi rekan latihan Nadal di Melbourne Park menjelang Australia Terbuka 2020.

Alcaraz melihat seniornya itu berlatih dengan intensitas tinggi. ”Meski latihan, Rafa selalu memukul dengan keras. Saya jadi tahu harus seperti apa ketika melawan petenis seperti Rafa,” kata Alcaraz.

Alcaraz berkesempatan tiga kali berhadapan dengan Nadal pada 2021-2022, sebelum 14 kali juara Perancis Terbuka itu pensiun pada November 2024. Nadal menang dua kali dan Alcaraz memenangi pertemuan terakhir.

Quote

Pukul bola dengan keras, dia bisa mengatasinya.

Dari Djokovic, seperti dikatakan seusai mengalahkannya di Melboune Park, Alcaraz terinspirasi oleh motivasi petenis berusia 38 tahun itu yang tak juga padam. Meski berbeda usia 16 tahun, Djokovic dan Alcaraz sudah bertemu 10 kali dengan statistik imbang, 5-5. ”Kamu menjadi inspirasi bagi tenis, atlet cabang lain, dan orang di seluruh dunia, termasuk saya,” katanya.  

Di antara Big Three, Alcaraz sebenarnya paling mengidolakan Federer. Menurut dia, permainan Federer berada pada level berbeda dengan petenis lain. ”Melihatnya bermain seperti melihat seni, begitu elegan. Dia membuat banyak orang tertarik menonton tenis,” katanya.

Alcaraz tak sempat berhadapan dengan Federer karena sang maestro pensiun pada September 2022. Meski demikian, dia mendapat kesempatan sebagai lawan Federer pada pemanasan menjelang perempat final Wimbledon 2019. Kepada Federer, Ferrero mengatakan, ”Pukul bola dengan keras, dia bisa mengatasinya.” Hal itu benar adanya.

Carlos Alcaraz (kiri) bertemu Roger Federer menjelang kejuaraan tenis Piala Laver di Berin, Jerman, September 2024.

Empat tahun setelah momen itu, Alcaraz akhirnya bisa mengangkat trofi juara Wimbledon, salah satu cita-citanya sejak kecil selain menjuarai Perancis Terbuka.

Atas semua pencapaian Alcaraz dalam usia 22 tahun, para senior pun memberikan pujian. Djokovic bahkan sudah menyematkan status legenda kepada Alcaraz.

Sementara itu, mantan petenis nomor satu dunia, John McEnroe, menilai Alcaraz adalah petenis yang lebih baik dibandingkan dengan banyak petenis senior saat seusia dia.

(AP/AFP)

Carlos Alcaraz

Lahir: El Pamar, Murcia, Spanyol, 5 Mei 2003

Main profesional: 2018

Pegangan raket: kanan, backhand dua tangan

Pelatih: Samuel Lopez

 

Juara Grand Slam

Australia Terbuka 2026

Perancis Terbuka 2024, 2025

Wimbledon 2023, 2024

AS Terbuka 2022, 2025

 

Hasil lain

Finalis Final ATP Tour 2025

Final Olimpiade Paris 2024

Delapan gelar ATP Masters 1000

 

Rekor (tunggal putra)

Petenis termuda dengan Career Grand Slam (22 tahun 272 hari)

Petenis termuda dengan tujuh gelar Grand Slam (22 tahun 272 hari)

Petenis nomor satu dunia termuda (19 tahun 130 hari)

Petenis nomor satu dunia akhir tahun termuda (19 tahun 201 hari)

Petenis termuda juara Grand Slam di lapangan keras, tanah liat, dan rumput (21 tahun 35 hari)

Petenis termuda peraih ”Channel Slam”, yakni juara Perancis Terbuka dan Wimbledon pada tahun yang sama (21 tahun 70 hari)

Finalis Olimpiade termuda (21 tahun 89 hari)

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra