Kunci untuk mempercepat pertumbuhan ialah meningkatkan daya saing dan produktivitas serta pemberdayaan masyarakat.
26 Nov 2025 06:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/PRIYOMBODO
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia memerlukan strategi percepatan ekonomi yang jitu guna meraih mimpi besar menjadi negara maju. Terlebih, tantangan yang dihadapi pun kian kompleks baik secara global maupun domestik. Untuk itu, diperlukan langkah transformasi besar yang mengarah kepada peningkatan daya saing dan produktivitas serta pemberdayaan masyarakat.
Demikian salah satu topik besar yang akan dibahas dalam Kompas100 CEO Forum Ke-16 dengan tema ”Menavigasi Arah dan Menelisik Strategi Ketahanan Indonesia di Tengah Gejolak Global”. Acara yang diselenggarakan oleh Harian Kompas itu digelar di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (26/11/2025) pagi hingga siang.
Turut hadir secara langsung sebagai pembicara antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, dan CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani. Acara tersebut juga akan dihadiri oleh para CEO emiten.
Selanjutnya, berbagai temuan dan rekomendasi strategis yang dibahas akan dirangkum dalam Laporan Ekonomi Kompas100 CEO Forum Ke-16 untuk diserahkan kepada Presiden Prabowo Subianto guna memperkuat arah kebijakan nasional, memperdalam ketahanan ekonomi, dan meneguhkan semangat kolektivisme dalam menjaga stabilitas Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/e2896f3ca2a9765eb34a3fab917ecc6f-20251105_H01_ARS_Laju_Pertumbuhan_Ekonomi_mumed.png)
Secara garis besar, forum ini akan membahas kondisi stabilitas dan daya tahan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global dan dinamika geopolitik yang terus bergerak. Di era penuh turbulensi itu, cita-cita menuju negara maju menjadi semakin kompleks. Indonesia memerlukan strategi percepatan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi jangka panjang.
Pengajar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, berpendapat, perekonomian Indonesia tengah menghadapi fase transformasi yang sangat penting. Fase ini akan menentukan apakah cita-cita Indonesia maju mampu terealisasi.
”Kuncinya adalah kemampuan meningkatkan daya saing dan produktivitas, selain pemberdayaan masyarakat,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Kontribusi sektor swasta sangat penting, selain peran pemerintah yang aktif dalam menyelesaikan beragam persoalan sosial.
Di sisi lain, forum Kompas100 CEO Forum turut mengingatkan akan pentingnya sektor swasta dalam menggerakkan perekonomian. Salah satu peran penting tersebut ialah penciptaan lapangan pekerjaan. Terlebih, di era bonus demografi di mana angkatan kerja terus bertumbuh tetapi lapangan kerja terbatas akibat pergeseran lanskap industri.
Strategi untuk mewujudkan cita-cita Indonesia maju pun menghadapi sejumlah tantangan. Selain faktor global yang penuh ketidakpastian, tantangan lain datang dari sisi domestik. Sejauh ini, pemerintah masih fokus pada upaya pemberdayaan melalui program sosial yang masif.
”Kontribusi sektor swasta sangat penting, selain peran pemerintah yang aktif dalam menyelesaikan beragam persoalan sosial,” ujar Prasetyantoko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/c4b6c7a4b8310b8c498030a2b0e38858-20251104TOK2.jpg)
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menempuh berbagai program untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Hilirisasi, digitalisasi, dan transisi energi diyakini dapat menjadi tiga mesin utama pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
”Kita ketahui pertumbuhan ekonomi pada triwulan II sebesar 5,12 persen. Pada triwulan III tunggu pengumuman besok pukul 11.00. Pada triwulan IV, saya yakin lebih tinggi dari 5,12 persen katanya,” katanya dalam acara CEO Insight 2025, satu hari sebelum pengumuman pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025 yang tercatat 5,04 persen (Kompas.id, 4/11/2025).
Selain mendorong hilirisasi melalui ekosistem kendaraan listrik, pemerintah juga tengah mengembangkan industri semikonduktor. Dengan potensi pasar global senilai Rp 1 triliun dollar AS pada 2030, Indonesia diperkirakan mampu menyuplai 9 persen dari kegiatan perakitan (assembling), pengemasan (packaging), dan pengujian (testing).
Dari sisi global, Menteri Perdagangan Budi Santoso menambahkan, Indonesia juga masih terus bernegosiasi dengan Pemerintah Amerika Serikat terkait pengenaan tarif resiprokal sebesar 19 persen. Ada beberapa komoditas yang sedang dinegosiasikan agar mendapat tarif khusus nol persen.
Negosiasi yang ditargetkan rampung pada akhir tahun ini dilakukan secara berhati-hati. ”Pangsa ekspor kita ke Amerika cukup besar. Jangan sampai ini hilang,” ujarnya dalam acara yang sama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/eca653feada2f9fa9e5f782616a931bd-20251104TOK27.jpg)
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan