”Kompetisi” Arab Saudi-UEA di Yaman

Hubungan Arab Saudi-UEA kian tegang menyusul pelarian pemimpin Dewan Transisi Selatan Zubaidi. Saudi menuduh UEA membantu pelarian Zubaidi ke Abu Dhabi.

09 Jan 2026 19:30 WIB · Internasional

AFP

Oleh Luki Aulia

DUBAI, KAMIS - Arab Saudi menuding Uni Emirat Arab menyelundupkan pemimpin Dewan Transisi Selatan atau STC, Aidarous al-Zubaidi, keluar dari Yaman dan menerbangkannya ke Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab. Zubaidi yang dituding menjadi pemimpin separatis di Yaman dan didukung Uni Emirat Arab itu sedang dicari-cari koalisi pimpinan Arab Saudi karena dianggap berkhianat.

Ia melarikan diri dari Yaman dengan naik perahu ke Somaliland lalu terbang menggunakan Ilyushin Il-76 ke Mogadishu. Zubaidi lantas terbang lagi menuju sebuah pangkalan militer di Abu Dhabi. Pelarian Zubaidi ini dapat memperburuk ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, raksasa minyak dunia dan sama-sama sekutu dekat Amerika Serikat.

Fighters said to be backed by the Saudi-led coalition drive through the streets of the port city of Aden on January 8, 2026, the day after it was annouced that Yemen's separatist leader had fled to the United Arab Emirates. A Saudi-led coalition struck the home province of Yemen's UAE-backed separatist Southern Transitional Council (STC) leader on January 7, 2026, after he failed to show up for talks in Saudi Arabia, kicking him out of Yemen's Presidential Leadership Council and accusing him of high treason, while the Saudi coalition bombed his home province after he refused to attend talks in Riyadh. (Photo by SALEH AL-OBEIDI / AFP)

Pernyataan dari Arab Saudi, Kamis (8/1/2026), menyebutkan apa yang dilakukan Uni Emirat Arab (UEA) itu memperparah krisis kedua negara. Krisis itu dipicu saat kelompok separatis menyapu Yaman selatan, termasuk Aden, hingga mendekati perbatasan dengan Arab Saudi, pada bulan lalu. Arab Saudi menilai serangan itu mengancam keamanan nasionalnya.

Badan Imigrasi dan Kewarganegaraan Somalia sedang menyelidiki tuduhan Arab Saudi itu dan memastikan apakah ada bandara mereka yang digunakan untuk mengangkut “buronan politik”, merujuk pada Zubaidi. Jika tuduhannya terbukti, berarti penerbangan itu melanggar kedaulatan nasional. Somalia berpandangan setiap upaya Zubaidi menghindari seruan Arab Saudi untuk berdialog bertentangan dengan proses dialog.

Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan, Zubaidi dan orang-orang lain yang menyertainya di pesawat menuju Mogadishu berada di bawah pengawasan petugas UEA dan menunggu satu jam sebelum terbang ke bandara militer di Abu Dhabi. Pesawat yang digunakan Zubaidi serupa dengan yang sering dipakai dalam zona konflik di rute negara-negara seperti Ethiopia, Libya, dan Somalia.

Militer UEA dituduh memanfaatkan rute ini sebagai jalur penyelundupan senjata di masa lalu. Namun, UEA membantah tuduhan tersebut. Pesawat itu dilaporkan mematikan sistem identifikasinya di atas Teluk Oman lalu dinyalakan kembali 10 menit sebelum tiba di bandara militer Al Reef di Abu Dhabi. Tidak diketahui secara jelas apakah Zubaidi masih berada dalam pesawat dalam perjalanan menuju ke Abu Dhabi.

Dicari

Surat kabar berbahasa Inggris Arab Saudi, Arab News, menampilkan gambar Zubaidi di halaman depan dengan judul "DICARI”. Editorial halaman depan yang pedas dari surat kabar yang didukung pemerintah itu mengatakan, penolakan Zubaidi untuk datang ke Arab Saudi memperkuat citranya sebagai pengkhianat negara.

“Al-Zubaidi memilih kepentingan pribadi yang sempit, bersekutu dengan kekuatan asing dengan mengorbankan tanah airnya dan mencoba memaksakan pemisahan selatan dengan kekerasan. Satu-satunya tujuannya merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri,” sebut editorial itu.

Terkait dugaan pelarian Zubaidi, saluran berita satelit milik Saudi, Al Arabiya, menayangkan rekaman penyadapan sebuah panggilan telepon.

STC tidak merespon tuduhan itu. Pada, Rabu, mereka hanya mengatakan Zubaidi tetap berada di Aden. Sebelumnya, Zubaidi tidak hadir di Riyadh untuk membahas krisis di Yaman, Rabu lalu.

Alasan STC, Zubaidi diminta pergi ke Arab Saudi karena diancam. Selain itu, Zubaidi juga tak bisa hadir karena harus mengawasi operasi militer dan keamanan di Aden untuk mencegah kekosongan keamanan di sana.

Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammed al-Jaber, mengatakan ia bertemu dengan delegasi STC yang mendarat di Riyadh sehari sebelumnya. Mereka membahas tindakan Zubaidi yang dianggap merugikan perjuangan.

“Kami juga menjajaki cara-cara untuk mencapai keamanan dan stabilitas di Yaman dan membahas Konferensi Kepentingan Selatan yang akan diadakan di Riyadh,” ujarnya.

Aden telah menjadi pusat kekuasaan utama di Yaman di luar wilayah yang dikuasai kelompok Houthi pada 2015. Namun, para pemimpin pemerintah yang didukung Arab Saudi meninggalkan Aden menuju Arab Saudi ketika STC mengambil alih kendali bulan lalu. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan yang didukung Arab Saudi telah merebut kembali wilayah di daerah lain, setelah Arab Saudi menekan UEA untuk mengendalikan para separatis.

Perseteruan

Arab Saudi dan UEA sebelumnya bekerja sama dalam koalisi untuk memerangi Houthi yang didukung Iran dalam perang saudara Yaman. Perang saudara di Yaman memicu salah satu krisis kemanusiaan yang terburuk di dunia. Selain menewaskan ratusan ribu orang, jutaan warga Yaman mengungsi.

Namun, di tengah situasi serba tidak menentu itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua negara paling kuat di Teluk, memiliki perbedaan tajam mengenai berbagai isu di Timur Tengah. Perbedaan ”tersamar” di isu geopolitik hingga produksi minyak itu kemudian mencuat ke permukaan terpicu persoalan STC.

Arab Saudi dan UEA pertama kali melakukan intervensi di Yemen setelah Houthi merebut Sanaa, ibu kota Yaman, pada tahun 2014. UEA bergabung dengan koalisi yang didukung Saudi pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.

STC dibentuk pada 2017 dengan dukungan UEA dan akhirnya bergabung dengan koalisi pemerintah. Sejak tahun 2022, Yaman Selatan dikelola di bawah Dewan Kepemimpinan Presiden, sebuah kelompok yang di dalamnya termasuk Zubaidi dan tokoh lain. Dewan Kepemimpinan Presiden mengusir Zubaidi dan mendakwanya dengan pengkhianatan setelah ia menolak terbang ke Arab Saudi untuk berdialog. (REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim