Di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (5/3/2026) hingga pukul 13.00 WIB, terdapat 22 penerbangan rute Timur Tengah yang dibatalkan.
05 Mar 2026 16:51 WIB · Ekonomi & Bisnis
ISMAIL ZAKARIA
Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mengguncang sektor penerbangan. Warga negara Indonesia yang sedang berada di kawasan Timur Tengah pun kesulitan kembali ke Tanah Air. Kalaupun tiket tersedia, harganya melonjak berkali-kali lipat.
Sejak serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026, kondisi di Timur Tengah penuh ketidakpastian. Apalagi, Iran membalas menyerang ke berbagai fasilitas milik AS dan Israel di negara-negara sekitar.
Salsabila Alkatiri (30) yang tengah menunaikan ibadah umrah bersama keluarganya di Tanah Suci pun tak bisa kembali ke Tanah Air. Salsabila semestinya sudah menyelesaikan ibadah dan bertolak ke Jakarta, Selasa (4/3/2026). Namun, penerbangannya dibatalkan. Dia terpaksa harus memperpanjang masa tinggal di Tanah Suci dan mencari penerbangan lain menuju Indonesia.
Mencari tiket pun menjadi penuh tantangan. Sebab, harga tiket melambung tinggi. Garuda Indonesia, misalnya, masih menyediakan tiket, tetapi hanya untuk kelas bisnis dengan tarif sekitar Rp 21 juta per kursi.
”Akhirnya dapat tanggal 12 (Maret 2026) dengan Saudi Arabia Airlines, war ticket-nya dibantu agen, semoga aman nanti,” katanya penuh harap.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/246c80f11b8c8fcb9e8e222bf1556ffa-cropped_image.jpg)
Hal serupa dialami sekitar 24 warga Indonesia yang baru melakukan ziarah rohani dan tertahan di Amman, Jordania, sejak Minggu (1/3/2026). Melalui rekaman, pemandu wisata menyuarakan kebingungannya kembali ke Tanah Air karena penerbangannya dibatalkan.
KBRI Amman segera menanggapi melalui media sosialnya, @indonesiainamman, dan menyatakan sudah beberapa kali berkomunikasi dengan rombongan wisatawan tersebut.
Opsi penerbangan alternatif juga ditawarkan karena maskapai Royal Jordanian yang transit, seperti di Kairo, Jeddah, dan Istanbul, masih beroperasi. Selain itu, KBRI Amman juga menyebut tetap mendampingi para WNI yang terdampar serta memberikan bantuan konsumsi dan obat-obatan.
Sampai 4 Maret 2026, jumlah WNI yang masih di Amman dan menanti kepulangan mencapai 164 orang dari 11 rombongan travel berbeda.
Adapun di Doha, Qatar, menurut Duta Besar RI untuk Qatar Guruh Langkah Samudra, ada sekitar 240 WNI yang sedang menanti kepulangan ke Tanah Air. Namun, wilayah udara Qatar masih ditutup.
KBRI Doha mengimbau semua WNI tetap menunggu dulu di tempat tinggal atau shelter in place sembari menunggu penerbangan keluar. Apalagi, semua infrastruktur penting, seperti listrik, air, dan internet komunikasi, di Qatar masih berfungsi baik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/a844742a6d2baffbbd51876eade0cb3f-wires_photo_285.jpg)
”Pemerintah Qatar sangat capable dalam melakukan proteksi. Jadi, saya mengimbau (WNI) stay saja dulu, sabar, tetapi tidak melarang jika ada yang akan evakuasi mandiri. Namun, perjalanan darat itu berjam-jam dan kita tidak tahu apa yang terjadi di jalan. Lebih baik tetap tinggal di Qatar,” katanya kepada Kompas, Kamis (5/3/2026).
Sejauh ini, beberapa maskapai telah menghentikan penerbangan di jalur-jalur sekitar Timur Tengah. Maskapai penerbangan asal India, Indigo, menghentikan lebih dari 500 penerbangan dari dan ke Timur Tengah sejak 28 Februari sampai setidaknya 3 Maret. Etihad Airways juga menangguhkan penerbangan dari dan ke Abu Dhabi sampai 6 Maret.
Qatar Airways pun menunda penerbangan dari dan ke Doha karena wilayah udara Qatar masih ditutup. Dalam laman situs Qatar Airways dikabarkan sejumlah penerbangan terbatas beroperasi mulai 5 Maret untuk membantu penumpang yang terdampar. Namun, penerbangan ini hanya dari Muskat ke London Heathrow, Berlin, Kopenhagen, Madrid, Roma, dan Amsterdam serta penerbangan dari Riyadh ke Frankfurt.
Asisten Deputi Komunikasi dan Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta Aziz Fahmi Harahap menyebutkan operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tetap berjalan normal untuk seluruh rute domestik dan internasional di luar wilayah terdampak, Kamis (5/3/2026). Namun, penyesuaian tetap dilakukan pada sejumlah rute Timur Tengah seiring penutupan wilayah udara di kawasan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/21/6b0aa793-a313-4d01-a9aa-a933d91d257e_jpg.jpg)
Sepanjang Kamis ini, terdapat 39 penerbangan terkait kawasan Timur Tengah. ”Hingga pukul 13.00 WIB tercatat 22 penerbangan rute Timur Tengah mengalami pembatalan hari ini,” ujarnya.
Penerbangan yang dibatalkan, antara lain, Etihad Airways EY475 (Departure), EY473 (Departure), Etihad Airways EY474 (Arrival), Etihad Airways EY472 (Arrival), Qatar Airways QR955 (Departure), Qatar Airways QR959 (Departure), Qatar Airways QR957 (Departure), Garuda Indonesia GA900 (Departure), Qatar Airways QR958 (Arrival).
Selain itu, ada juga Qatar Airways QR956 (Arrival), Qatar Airways QR954 (Arrival), Garuda Indonesia GA901 (Arrival), Emirates EK359 (Departure), Emirates EK357 (Departure), Emirates EK356 (Arrival), Emirates EK358 (Arrival), Saudia Airlines SV823 (Departure), Saudia Airlines SV822 (Arrival), Lion Air JT115 (Arrival), Saudia Airlines SV821 (Departure), dan Saudia Airlines SV820 (Arrival).
Sebaliknya, penumpang beberapa penerbangan dari Jeddah, Arab Saudi, dan Muskat, Oman, tiba di Soekarno-Hatta, Kamis ini. Selain penerbangan yang dibatalkan, lanjut Aziz, semua terpantau sesuai jadwal.
Sejak 28 Februari hingga 5 Maret sudah 106 penerbangan rute Timur Tengah dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta yang dibatalkan karena penutupan ruang udara akibat konflik yang dipicu Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
”Manajemen bandara terus memantau dan berkoordinasi dengan maskapai untuk memastikan layanan dan meminimalkan dampak terhadap penumpang,” tambah Aziz.
Penumpang diharap selalu memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi sebelum menuju bandara. Di samping itu, informasi bisa diperoleh melalui contact center Bandara Soekarno-Hatta di nomor 172.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi hanya meminta maskapai meningkatkan kewaspadaan. Penumpang juga diharap aktif memantau perkembangan informasi.
Selain Qatar, beberapa negara yang juga menutup ruang udara untuk semua kedatangan dan keberangkatan, baik penerbangan komersial maupun pribadi, adalah Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah.
”Kami telah berkoordinasi dan meminta maskapai memonitor kondisi ruang udara Timur Tengah, termasuk untuk perjalanan umrah,” kata Menhub dalam keterangan yang diterima Kompas, Minggu (1/3/2026).
Penulis:
Nina SusiloEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim