Konglomerat Kompak: Badai Berlalu, Bursa Bangkit Kembali

Penurunan harga saham jadi momentum berinvestasi untuk jangka panjang.

04 Mar 2025 13:08 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah konglomerat pemilik perusahaan terbuka di pasar modal mengakui kuatnya fundamental banyak emiten di tengah tekanan global. Mereka menilai tren penurunan (bearish) Indeks Harga Saham Gabungan justru menjadi momentum positif untuk meningkatkan investasi saham dalam jangka panjang.

Para pemilik perusahaan besar di pasar modal menyampaikan pandangan tersebut kepada media seusai diundang dalam diskusi bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Senin (3/3/2025). Diskusi langka itu menyoroti perkembangan pasar saham yang beberapa bulan terakhir ramai ditinggal investor asing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir perdagangan bursa hari itu terkoreksi 7,9 persen ke level 6.519 sejak awal 2025.

Pengusaha seperti Garibaldi Thohir, salah satunya, mengaku masih percaya diri dengan pasar dalam negeri kendati mayoritas harga saham di bursa tengah anjlok seperti masa pandemi Covid-19. Penurunan harga saham, menurut dia, lebih dipicu sentimen terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang terpilih kembali pada akhir 2024 lalu.

Konferensi pers Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia bersama perwakilan pelaku pasar modal dalam menanggapi kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (3/3/2025). Diskusi antarpemangku kepentingan pasar modal dilakukan menyusul derasnya dana investor asing yang keluar pasar modal hingga IHSG terkoreksi 11 persen sejak awal 2025. Beberapa kebijakan yang diambil hasil diskusi tersebut antara lain ditundanya perdagangan short selling dan kebijakan buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham.

Dalam kondisi tersebut, ia justru menyarankan investor untuk membeli saham berkinerja baik tersebut. ”Secara fundamental, banyak perusahaan di dalam negeri yang fundamentalnya bagus, value-nya murah, it’s time to buy,” ujar Presiden Direktur PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tersebut kepada media.

Senada, konglomerat dari Grup Sinar Mas, Franky Oesman Widjaja, juga mengaku percaya diri dengan fundamental perusahaan terbuka di Indonesia. Kendati demikian, masih ada peluang besar bagi Indonesia untuk memperbaiki kinerja perusahaan hingga memperdalam pasar di bursa.

”Masih banyak sekali potensi yang bisa kita lakukan, banyak hal yang bisa kita lakukan dengan bergotong royong,” ujarnya.

Dalam konferensi pers, pebisnis perusahaan Grup Barito, Agus Salim Pangestu, mengakui fundamental perusahaan yang baik membantu kinerja keuangan perusahaan di bawah benderanya tetap tumbuh positif. ”Selama ini kami bangga, berapa tahun ini rata-rata semua di atas 10 persen dari grup kami. Jadi, kalau cerita badai yang kita rasakan sekarang, semua badai akan dilalui. Semoga semua tenang, biar kita bisa melalui badai,” ujarnya.

Untuk semakin menopang pertumbuhan bisnis mereka, putra pertama dari konglomerat Prajogo Pangestu itu menyebut, mereka akan mendukung pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sesuai dengan target pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Prospek sektoral

Menanggapi pandangan ini, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai, mayoritas kinerja perusahaan yang terdaftar di pasar modal tidak tecermin dalam kinerja harga sahamnya.

Perusahaan-perusahaan dengan performa keuangan terbaik didukung oleh tren positif di banyak sektor, seperti logistik, transportasi, komunikasi, kemasan, farmasi, e-commerce atau ekonomi digital, perkebunan (sawit, cokelat, kopi), perikanan, dan perdagangan.

”Sektor jasa keuangan dan sektor makanan dan minuman juga masih baik,” kata David kepada Kompas, Selasa (4/3/2025).

Kendati demikian, ia menilai, belakangan ini ada potensi penurunan laba dan kinerja untuk sektor-sektor usaha yang terkait dengan perlambatan perdagangan global. Hal ini terprediksi dari kontribusi ekspor barang dan jasa terhadap pertumbuhan ekonomi yang melambat di 2024 menjadi minus 0,01 persen. Padahal, di 2023, ekspor yang berkontribusi 0,66 persen terhadap pertumbuhan.

”Tapi, secara umum kinerja usaha, terutama sektor-sektor di atas masih cukup baik,” ungkapnya.

Pengamat Pasar Modal, Lanjar Nafi, mengatakan, saham dengan fundamental cukup kuat di antaranya ada pada saham-saham berkapitalisasi besar, yang harganya kini terkoreksi signifikan. Ke depan, harga saham sektor-sektor unggulan berpotensi kembali bangkit karena sejumlah faktor.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi kedua terpampang pada layar monitor di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (24/2/2025). IHSG pada Senin ditutup di posisi 6.749,60, melemah 53,40 poin atau 0,78 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada akhir pekan lalu. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 24-02-2025

Sektor perbankan, misalnya, dapat menjadi pilihan utama untuk dibeli di tengah penurunan harga karena prospek imbal hasil dividen tinggi dan pertumbuhan kredit yang lebih baik. Hal ini mengiringi potensi pemotongan suku bunga Bank Indonesia (BI) sepanjang tahun ini.

Sektor Infrastruktur telekomunikasi, menurut dia, juga berkinerja baik karena ekspansi yang masif dan adanya peningkatan basis pelanggan. Sektor properti juga prospektif karena didukung oleh pertumbuhan infrastruktur publik dan potensi penurunan suku bunga BI yang dapat meningkatkan prospek penjualan properti.

Selanjutnya, sektor energi juga dinilai positif dengan prospek harga komoditas yang tetap kuat secara global dan permintaan yang mulai stabil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .