Menurut informasi, Kongres PDI-P akan digelar antara akhir Juli-awal Agustus 2025 di Bali. Regenerasi partai terus disiapkan, tak hanya andalkan "darah biru".
18 Jul 2025 19:24 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Kongres VI Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P diyakini tinggal menunggu momentum. Hal itu sepenuhnya menjadi kalkulasi politik Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Politisi senior PDI-P Panda Nababan pun menegaskan, penyelenggaraan kongres juga tidak menunggu hasil sidang perkara korupsi Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto. Kongres akan digelar sesuai skenario yang sudah dirancang dan bukan dalam rangka merespons tekanan dari luar.
”Kongres ini enggak ada kaitannya dengan dia (Hasto). Enggak ada istilah menunggu sidang Hasto,” ujar Panda dalam wawancara khusus dengan Kompas untuk program podcast Gercep di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Selasa (15/7/2025).
Berdasarkan informasi yang diperoleh Kompas, Kongres VI PDI-P kemungkinan digelar di Bali pada rentang akhir Juli hingga awal Agustus 2025 di Bali. Dengan jadwal tersebut, pelaksanaan kongres diperkirakan berlangsung setelah sidang vonis Hasto Kristiyanto pada 25 Juli 2025. Dalam forum tertinggi partai itu, salah satu agenda utamanya adalah meminta kesediaan Megawati kembali menjabat Ketua Umum PDI-P.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/18/dbd20e4868ad7b128e010c713fc0cea2-RAN08664.JPG)
Panda menyebut, Megawati telah menyiapkan semuanya dengan sangat matang. Penghitungan waktu pelaksanaan kongres tidak sekadar soal teknis, tetapi membutuhkan kalkukasi politik yang sangat cermat.
”Kami enggak mau terjebak ke kalkulasi-kalkulasi soal bulan berapa. Ini Mega dan kita tahu sendiri kapan mau bikin. Mega itu punya perhitungan politik yang betul-betul di luar dugaan,” tutur Panda.
Panda juga menepis anggapan bahwa ada pihak yang ingin mengacaukan Kongres PDI-P, termasuk jika yang dimaksud adalah salah satu mantan kader PDI-P, yakni Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Menurut Panda, Jokowi sudah tidak lagi memiliki pengaruh di internal PDI-P. Ia menegaskan bahwa proses konsolidasi partai dari tingkat pimpinan anak cabang (PAC) hingga dewan pimpinan daerah (DPD) telah tuntas.
Panda juga menepis anggapan bahwa ada pihak yang ingin mengacaukan Kongres PDI-P, termasuk jika yang dimaksud adalah salah satu mantan kader PDI-P, yakni Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
”Enggak, jangankan pengaruh, baunya pun enggak ada lagi. Sudah selesai dia (Jokowi). Karena apa? Dia yang bikin dirinya selesai. Dia yang membuat dia tidak terhormat. Dia yang membuat dirinya tidak dihargai. Jadi, begini ya, dia tidak dalam posisi, dalam kapasitas dan kemampuan untuk mengintervensi. Dia bukan satu milimeter pun orang yang diperhitungkan,” tegas Panda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/12/9581aacd-bb28-4afc-a116-d75560414394_jpg.jpg)
Sebelumnya, Megawati sempat menyampaikan, menerima kabar bahwa ada pihak yang ingin mengacaukan atau ”mengawut-awut” PDI-P. Pihak itu disebut tidak ingin agar Megawati menjadi ketua umum partai kembali dengan dalih tidak berhasil memimpin PDI-P. Pernyataan itu disampaikan Megawati dalam keynote speech ”Peluncuran dan Diskusi Buku: Pilpres 2024 Antara Hukum, Etika, dan Pertimbangan Psikologis”, di Jakarta, 12 Desember 2024.
Namun, dipastikan Panda, saat ini tidak ditemukan ada pihak-pihak yang ingin menggagalkan kongres. ”Enggak ada klik-klikan, enggak ada sindikat-sindikatan untuk kemudian menggalang kekuatan untuk menggagalkan kongres. Kalau di PDI-P, kalau mau melakukan itu, pasti sudah bisa kebaca,” ucapnya.
Menjelang Kongres, proses regenerasi di tubuh PDI-P juga menjadi sorotan. Panda menilai, regenerasi di partainya terus berjalan tanpa harus terjebak pada garis keturunan atau yang disebut ”darah biru”. Semua kader memiliki kesempatan yang sama, termasuk dua anak Megawati, Puan Maharani ataupun Prananda Prabowo.
Sejumlah kader muda pun dinilai telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan, termasuk dalam hal menggantikan posisi strategis seperti Sekretaris Jenderal maupun Ketua Umum. Sebut saja, katanya, ada Ahmad Basarah, Utut Adianto, Ganjar Pranowo, Yasonna Laoly, Olly Dondokambey, dan Said Abdullah.
”Enggak ada istilahnya apa itu ’darah biru’. Enggak ada. Mega tersinggung kalau dibilang darah biru. Jadi, kalau aku enggak terlampau khawatir. Itu automatically (regenerasi partai pasti berjalan). Enggak usah dibikin kalkulasi. Kita banyak kali orang yang kader-kader potensial begitu,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/10/75753109-31cc-4b83-a3ec-a9c1fd7d0edb_jpg.jpg)
Untuk Puan dan Prananda, menurut Panda, tidak ada yang diistimewakan. Keduanya dilatih dengan sangat baik untuk bisa memimpin PDI-P. ”Karena itu, aku pun tidak terlampau tanda tanya (siapa calon ketua umum PDI-P nantinya) karena prosesnya kulihat ini sudah on the right track. Tidak ada yang diistimewakan, tidak ada (yang) dibikin menjadi orang nomor satu, atau apa. Berproses saja. Bahwa nanti kemudian terpilih di situ Puan, bisa. Prananda, bisa,” katanya.
Untuk Puan dan Prananda, menurut Panda, tidak ada yang diistimewakan.
Sementara itu, Ketua DPP PDI-P Said Abdullah saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (18/7/2025) ini, mengaku belum ada informasi dari Ketua Umum PDI-P terkait pelaksanaan kongres. ”Kami menunggu keputusan Ibu Ketua Umum (Megawati),” tuturnya.
Terkait dengan kongres PDI-P, pada awal Juli lalu, Puan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, juga meminta publik untuk bersabar terkait kapan kongres partainya akan digelar. ”Sabar,” ucapnya sambil tersenyum.
Ia juga enggan mengungkapkan siapa kader PDI-P yang telah ditunjuk sebagai ketua pelaksana Kongres VI PDI-P. ”Pasti nanti kami umumkan secepatnya,” ujarnya.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase