LIGA INGGRIS

Konsisten, Inkonsistensi Chelsea di Stamford Bridge

Chelsea, di era Rosenior, masih merasakan problem inkonsistensi di kandang yang sudah terjadi sejak kepemimpinan Maresca. Mereka kesulitan mempertahankan keunggulan.

22 Feb 2026 04:58 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, SABTU — Walaupun sudah berganti pelatih, Chelsea masih berkutat dengan masalah inkonsistensi hasil di Stadion Stamford Bridge. Mereka terlalu sering mempersulit diri ketika bermain di kandang sendiri. Kali ini, inkonsistensi itu disebabkan oleh isu disiplin ”Si Biru” yang juga sudah menghantui sejak era Pelatih Enzo Maresca.

Chelsea semestinya bisa menang mudah atas tim promosi Burnley setelah unggul cepat lewat penyerang Joao Pedro di Stadion Stamford Bridge, London, Sabtu (21/2/2026) WIB. Namun, tim asuhan Pelatih Liam Rosenior itu harus rela berbagi poin akibat gol balasan dari striker Zlan Flemming pada injury time paruh kedua. Laga berakhir imbang 1-1.

Penyebab utama antiklimaks tuan rumah adalah kartu merah bek Wesley Fofana pada menit ke-72. Saat Chelsea sangat nyaman mendominasi permainan, sang bek malah mendapatkan kartu kuning kedua akibat tekel keras. Burnley pun mendapatkan angin segar karena hanya berhadapan dengan sepuluh pemain. Situasi langsung berbalik di pengujung laga.

Burnley's Dutch striker #19 Zian Flemming eyes the ball during the English Premier League football match between Chelsea and Burnley at Stamford Bridge in London on February 21, 2026. (Photo by Ben STANSALL / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

”Di babak pertama, kami masih mencoba masuk ke dalam permainan. Di babak kedua, kami bermain melawan 10 pemain, tetapi tidak mudah karena mereka punya pemain berkualitas. Kualitas mereka itu bisa menjadi masalah, tetapi kami menunjukkan keinginan dan gairah yang sangat berkelas,” kata Pelatih Burnley Scott Parker.

Isu disiplin sudah menjadi masalah besar Chelsea sejak era Maresca. Sejak awal musim, mereka sudah mendapatkan enam kartu merah di liga. Itu adalah jumlah hukuman terbanyak di seisi liga. Sebagai konteks, tidak ada tim lain yang menghasilkan lebih dari empat kartu merah pada musim ini. Isu itu sangat mengkhawatirkan bagi Si Biru.

Masalahnya, peluang Chelsea menang selalu merosot drastis jika bermain dengan sepuluh orang. Mereka hanya menang sekali, dari enam laga, setelah mendapatkan kartu merah. Kemenangan itu diraih saat berhadapan dengan Nottingham Forest. Itu pun mereka menang karena sudah unggul 3-0 saat bek Malo Gusto diusir pada menit ke-87.

Lihat saja di laga tadi, Chelsea langsung kehilangan kontrol seusai insiden Fofana. Mereka yang mendominasi 72,4 persen penguasaan bola, jadi harus bertahan total dengan 31,1 persen penguasaan. Burnley pun menghasilkan tujuh tembakan selama 18 menit terakhir waktu normal, lebih banyak daripada di 72 menit awal (5 kali).

Rosenior berkata, masalah disiplin tim belum mengganggunya. Sebab, Chelsea baru pertama kali mendapatkan kartu merah sejak di era sang pelatih. ”Saya hanya bisa berbicara berdasarkan pengalaman saya sejauh ini. Catatan disiplin kami cukup bagus, tetapi memang kartu merah itu tidak menguntungkan,” ujarnya.

Rosenior lebih menyoroti permasalahan Cole Palmer dan rekan-rekan di depan gawang. Mereka sebenarnya memiliki beberapa peluang besar, salah satunya dari Palmer, tetapi gagal menambah keunggulan. Menurut Rosenior, persoalan ketajaman itu pula yang membuat mereka gagal menang atas Leeds United di laga sebelumnya.

TOPSHOT - Chelsea's English midfielder #10 Cole Palmer (R) takes on the Burnley defence during the English Premier League football match between Chelsea and Burnley at Stamford Bridge in London on February 21, 2026. (Photo by Ben STANSALL / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

”Kami seharusnya memenangkan laga ini. Kami seharusnya bisa lebih kejam. Di paruh kedua, kami memiliki banyak momen yang berujung tanpa sentuhan akhir yang tepat. Tim-tim terbaik pasti akan bisa menyudahi laga dengan mudah. Tim-tim terbaik tidak kenal ampun ketika mereka unggul. Jika tidak, Anda harus benar-benar menjaga gawang tidak tersentuh,” kata Rosenior.

Alhasil, Chelsea sudah kehilangan empat poin dari dua laga terakhir di Stamford Bridge. Keduanya dari tim promosi. Sebelumnya, mereka ditahan Leeds, 2-2, setelah unggul dua gol lebih dulu. Palmer mendapatkan peluang senilai 0,87 xg (expected goals) di pengujung laga, tetapi gagal dikonversi jadi gol kemenangan.

Tren terbaru Si Biru tampak jauh lebih buruk jika dilihat dari awal musim. Chelsea sejauh ini sudah kehilangan 17 poin dari posisi unggul di Stamford Bridge. Itu merupakan yang terburuk dalam sejarah tim sejak 1995-1996. Akibat itu pula, mereka gagal mengapitalisasi keuntungan di rumah sendiri, hanya menjadi tim peringkat ke-8 terbaik dalam rekor kandang.

Harga yang harus dibayar dari inkonsistensi itu sangat mahal. Jika bisa mempertahankan keunggulan di kandang, Chelsea mungkin saat ini akan memuncaki klasemen dan bersaing juara. Namun, mereka kini hanya berada di peringkat keempat (45 poin) dan berpotensi disusul para pesaing, antara lain Manchester United (45) dan Liverpool (42).

Apabila dilihat dari statistik, Chelsea memang kurang tajam ketika bermain di kandang. Mereka hanya menghasilkan 23 gol dari 14 laga, tertinggal jauh dari para persaing juara, seperti Arsenal (31 gol) dan Manchester City (32 gol). Bahkan, jumlah itu lebih rendah dibandingkan produktivitas Si Biru ketika bertandang (25 gol).

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra