Apabila pemerintah hanya mengandalkan belanja kelas menengah-atas sebagai penopang konsumsi nasional, pertumbuhan ekonomi tidak akan bergerak di atas 5 persen.
12 Agt 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Capaian pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 sebesar 5,12 persen yang belakangan ini memantik perdebatan cenderung disangga oleh belanja masyarakat kelas menengah-atas. Jika hanya mengandalkan konsumsi kelompok ini, perekonomian diperkirakan hanya akan berjalan di tempat atau terjebak di angka 5 persen.
Demikian salah satu kesimpulan dalam paparan Permata Institute for Economic Research (PIER) Economic Review untuk periode semester I-2025, pada Senin (11/8/2025), secara virtual. Dalam kesempatan itu, PIER juga memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada akhir 2025 dalam rentang 4,8-5,1 persen, dengan titik tengahnya 4,9 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, lonjakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025 didorong oleh penguatan investasi dan konsumsi rumah tangga. Laju pertumbuhan konsumsi ini didukung oleh momentum liburan saat Idul Fitri dan Idul Adha.
”Kami meyakini bahwa spending (belanja) kelas menengah ke atas masih menjadi penopang terbesar karena kalau kita bagi desilnya menjadi 40 persen terbawah, 40 persen tengah, dan 20 persen teratas, kontribusi yang terbesar itu justru dari 20 persen teratas, (porsinya) lebih kurang 40 persen dari konsumsi nasional,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/05/7d5dc1b9-b132-47ae-84ee-2a51ae15747f_png.png)
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian nasional pada triwulan II-2025 tumbuh 5,12 persen secara tahunan, meningkat dibanding triwulan I-2025 yang tumbuh 4,87 persen. Angka ini melampaui konsensus pasar yang memperkirakan pertumbuhan hanya 4,8 persen.
Adapun penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional itu berasal dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,97 persen, dengan kontribusi 2,64 persen. Namun, angka ini masih berada di bawah 5 persen dan hanya naik tipis, dari triwulan I-2025 yang tumbuh 4,95 persen dan triwulan II-2024 yang tumbuh 4,93 persen.
Mengapa inisiatif pemerintah lebih banyak diarahkan kepada kelas menengah karena yang bisa mengakselerasi ”spending” itu kelas menengah dan kelas menengah-atas.
Josua melanjutkan, kontribusi masyarakat berpenghasilan rendah tidak lebih besar ketimbang kelompok masyarakat menengah-atas. Kelas bawah dan kelas menengah memberikan kontribusi, masing-masing kurang dari 20 persen dan 30 persen dari konsumsi nasional.
”Artinya, kalau bicara mengapa inisiatif pemerintah atau intervensi kebijakan pemerintah lebih banyak diarahkan kepada kelas menengah karena yang bisa mengakselerasi spending itu kelas menengah dan kelas menengah-atas,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/11/c0e3c6832b359aad97047a522a7cd3fb-20250811TOK8.jpg)
Menurut Josua, daya beli kelas menengah-atas cenderung tetap stabil dibandingkan kelas menengah-bawah. Kondisi ini antara lain tecermin dari tingginya belanja rekreasi dan hiburan (leisure) melampaui belanja kebutuhan primer, seperti belanja makanan dan minuman dan alas kaki.
Tingginya belanja rekreasi dan hiburan itu juga tecermin dari pertumbuhan sejumlah sektor pada konsumsi rumah tangga, yakni makanan dan minuman sebesar 4,15 persen, transportasi dan komunikasi sebesar 6,48 persen, serta restoran dan hotel sebesar 6,77 persen.
Dalam kesempatan yang sama, Head of Industry and Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi menambahkan, kondisi tersebut juga tampak dari tren penjualan kendaraan, khususnya mobil. Penjualan mobil dengan harga di atas Rp 500 juta cenderung terus tumbuh dibanding mobil dengan harga di bawah Rp 500 juta.
”Terkait dengan penjualan EV (mobil listrik), EV notabene adalah kendaraan yang pasti biasanya akan dimiliki oleh kelas menengah-atas dan ini merupakan mobil kedua dari si pengguna mobil itu,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/779db5a5-c25d-47e5-9eed-4589a57e2ffc_jpg.jpg)
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengatakan, pertumbuhan ekonomi tidak akan bergerak di atas 5 persen, apabila pemerintah hanya mengandalkan belanja kelas menengah-atas sebagai penopang konsumsi nasional.
Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi ke atas 5 persen, konsumsi masyarakat kelas bawah dan kelas menengah perlu didorong. Dengan demikian, belanja mereka tidak hanya semata-mata untuk kebutuhan primer, melainkan juga barang-barang sekunder.
”Kalau memang pemerintah ingin (pertumbuhan ekonomi) ke atas 5 persen, apalagi target 6-8 persen itu, kita tidak bisa memungkiri bahwa driver Indonesia itu masih small open economy (usaha kecil-menengah yang sudah berkecimpung di pasar global) dan memang lebih dari 50 persen itu konsumsi rumah tangga sehingga itu yang harus dikencangkan,” ujarnya.
Menurut Rachman, daya beli kelas menengah tidak bisa diabaikan begitu saja. Bila demikian, fenomena perilaku konsumsi masyarakat yang kini cenderung memilih barang yang lebih murah (downtrading) akan terus berlanjut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/11/b35e7149a284a537057172639276dbd1-Screenshot_2025_08_11_195219.png)
Lebih dari itu, ia melanjutkan, tidak menutup kemungkinan masyarakat bisa beralih ke barang bekas atau bahkan barang ilegal yang tidak berdampak terhadap perekonomian. Oleh sebab itu, pemerintah pada semester II-2025 harus menjaga daya beli masyarakat menengah-bawah.
”Pemerintah juga punya program prioritas yang memang harus juga in-line (sejalan), termasuk hilirisasi dan reindustrialisasi, itu harus bersifat padat karya, harus juga menyerap tenaga kerja sehingga bisa menciptakan peningkatan pendapatan secara rata-rata dan menyeluruh sehingga juga konsumsi bisa meningkat,” kata Rachman.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Mohamad Faisal berpendapat, pelemahan daya beli terjadi pada kalangan kelas menengah yang notabene pengeluarannya Rp 4 juta per kapita per bulan ke bawah alias kelas menengah-bawah.
Dari sisi kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga, tetap lebih besar dari kelompok yang Rp 4 juta ke bawah terhadap total konsumsi.
Sebagai gambaran, mereka yang memiliki rentang pengeluaran Rp 2 juta-Rp 9,9 juta per kapita per bulan disebut kelas menengah, pengeluaran Rp 800.000-Rp 2 juta per kapita per bulan termasuk calon kelas menengah, sedangkan pengeluaran Rp 600.000-Rp 800.000 per kapita per bulan masuk kelas rentan miskin atau hampir miskin dan di bawah Rp 600.000 per kapita per bulan masuk kelompok miskin.
”Dari sisi kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga, tetap lebih besar (kelompok) yang Rp 4 juta ke bawah terhadap total konsumsi. Jadi, jumlah yang mengalami penurunan itu dari (kelompok) calon kelas menengah dan kelas menengah, yang (pengeluarannya) di bawah 4 juta, kontribusinya terhadap total konsumsi tetap di atas 50 persen,” kata Faisal.
Artinya, konsumsi kelas menengah-atas atau kelompok pengeluaran Rp 4 juta ke atas menopang pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional di tengah pelemahan konsumsi calon kelas menengah dan kelas menengah. Setidaknya, ini menahan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,8-4,9 persen pada triwulan II-2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/431858d7-2135-4a06-b213-017c51321f29_jpg.jpg)
Faisal menambahkan, perbedaan atau divergensi tingkat konsumsi bukan hanya terjadi antara kalangan atas dengan kalangan bawah, melainkan di dalam kalangan menengah itu sendiri. Kondisi tersebut terefleksi dalam beberapa indikator, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) berdasarkan tingkat pendapatannya.
”Tingkat keyakinannya itu makin rendah, pendapatannya itu juga makin rendah tingkat keyakinannya. Lalu, dari sisi tren juga makin ke sini makin mengalami penurunan, walaupun dari data BI terakhir yang barusan kemarin dirilis itu sudah mulai ada kenaikan tipis, tapi secara level itu masih relatif rendah,” ujarnya.
Hasil Survei Konsumen BI pada Juli 2025 menunjukkan, IKK berada di level 118,1 atau meningkat dibanding Juni 2025 yang sebesar 117,8. Meski berada dalam zona optimistis atau di atas 100, IKK Juli 2025 masih lebih rendah dibanding Juli 2024 yang sebesar 123,4.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase