KOMUNIKASI POLITIK

Konten Satire Pindah Negara dan Akumulasi Kekecewaan Warga

Perlakuan menyuruh masyarakat yang menyuarakan kritik untuk pindah negara dinilai merupakan sebuah titik terendah, sangat menyedihkan, dan menyakitkan.

20 Jul 2026 13:48 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Supriyanto

Oleh Iqbal Basyari

Lini masa media sosial Indonesia dalam sepekan terakhir mendadak riuh oleh berbagai unggahan foto warga negara di luar negeri, mulai dari yang melakoni pekerjaan, memamerkan perjalanan hidup anak-anaknya yang telah berganti kewarganegaraan, hingga memegang paspor asing. Sebagian besar unggahan tersebut memuat keterangan foto seragam bertuliskan ”Lapor Pak Prabowo: Kami Sudah Pindah ke Negara Lain”.

Salah satu unggahan dari akun @pangeranmanurung di media sosial Threads dari kawasan Times Square, New York, misalnya, menampilkan foto satu keluarga yang berpose di tengah keramaian kota. Di dalam foto tersebut, sang pemilik akun menulis teks grafis bertuliskan ”Lapor Pak Prabowo, Kami Sudah Pindah Sesuai Arahan Bapak”.

Hingga Senin (20/7/2026) pagi, unggahan yang dibagikan dua hari sebelumnya itu telah disukai lebih dari 48.500 kali dan ditayangkan lebih dari 1,2 juta kali. Postingan itu juga dibanjiri sekitar 6.000 komentar, dibagikan ulang sebanyak 1.100 kali, dan dikirimkan (shares) oleh 879 warganet.

Quote

Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja, yang merasa Indonesia suram silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang.

Lulusan SMK Negeri 15 Bandung mengikuti program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai persiapan bekerja di luar negeri.  Telihat guru mendampingi peserta memperkuat kemampuan bahasa Jepang, Senin (15/6/2026), agar mereka siap bekerja di Jepang.

Gelombang ”laporan” massal ini dengan cepat memantik respons berantai dari warganet Indonesia lainnya yang juga sedang berada di luar negeri. Kolom balasan seketika bertransformasi menjadi ruang unjuk gigi dan berbagi kisah perantauan dengan balutan nada satire serupa.

Suasana tersebut tampak dari unggahan akun @ninggarnina yang membagikan potret dirinya sedang bekerja sebagai petugas kebersihan di luar negeri dengan narasi satir menyapa presiden. Ia mengapresiasi sistem kerja di sana yang tidak mempermasalahkan latar belakang fisik ataupun pendidikan, serta memberikan jaminan kesejahteraan yang layak.

Tak kalah menarik, akun @citrawatihariati turut membagikan potret bersama kedua anaknya di Singapura dengan mengaku telah merantau ke sana sejak lebih dari 30 tahun lalu. Dalam unggahan tersebut, ia menceritakan bahwa anak bungsunya yang berumur 21 tahun dan kakaknya yang berusia 26 tahun telah menjadi warga negara Singapura.

Ada pula akun @buhel_wms yang turut membagikan foto paspor Amerika Serikat. ”Tadinya bingung punya anak, suruh milih warga negara Amerika apa Indonesia... ? Skrg udh tau jawabannya,” tulisnya.

Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan pada puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026). Acara dihadiri ribuan pengurus koperasi dari seluruh Indonesia. Kompas/Hendra A Setyawan

Gelombang unggahan itu muncul bukan tanpa sebab. Pemicunya adalah sepenggal kalimat dari pidato Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan saat Peringatan Hari Koperasi Nasional Ke-79 Tahun 2026, Minggu (12/7/2026). Di hadapan sekitar 20.000 pengurus Dewan Koperasi Indonesia, Presiden menyampaikan optimismenya tentang masa depan ekonomi bangsa.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya, akan bangkit, dan mampu memperkuat seluruh kekuatannya di Republik ini. Sementara itu, bagi mereka yang pesimistis, Presiden menegaskan, ”Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja, yang merasa Indonesia suram silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang,” ujar Prabowo.

Ini bukan pertama kali Prabowo melontarkan retorika serupa sejak dilantik pada Oktober 2024. Jika ditelusuri, polanya cenderung berulang setiap kali gelombang kritik terhadap pemerintahannya menguat di ruang publik.

Tagar Indonesia gelap

Awal mula sindiran ini dapat ditarik ke Februari 2025, saat tagar ”Indonesia Gelap” ramai di platform X, di mana Prabowo merespons dengan nada santai dan menyebut tak akan melarang siapa pun yang ingin terus memandang segala sesuatu dari sisi yang gelap.

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Jatim Menggugat menggelar aksi unjuk rasa "Indonesia Gelap" di depan Kantor DPRD Jawa Timur, Surabaya, Senin (17/2/2025). Dalam aksinya, Aliansi Jatim Menggugat menyampaikan sepuluh poin tuntutan, di antaranya adalah menolak efisiensi anggaran di sektor pendidikan yang dinilai mengancam masa depan generasi muda. Sempat terjadi aksi dorong setelah mahasiswa berusaha menghalangi polisi memadamkan ban yang dibakar. 

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Pada Kongres Partai Solidaritas Indonesia di Solo, Minggu (20/7/2025), Prabowo juga kembali menyinggung tagar ”Kabur Aja Dulu” yang populer di kalangan generasi muda. Prabowo menuding gerakan itu sebagai rekayasa kelompok yang menginginkan Indonesia terus gaduh.

Lantas delapan bulan berselang, dalam taklimat kepada jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2026), ia kembali menegaskan bahwa baginya Indonesia tidak pernah gelap. Presiden juga kembali mempersilakan siapa saja yang ingin pergi ke luar negeri.

Prabowo tercatat pernah meninggalkan Indonesia dan tinggal di Jordania sesaat setelah kejatuhan rezim Orde Baru pada Mei 1998. Kala itu, Prabowo memilih untuk bermukim di Jordania selama kurang lebih tiga tahun hingga akhirnya kembali ke Tanah Air pada November 2001.

Selama tinggal di sana, ia menemui sahabatnya, Raja Abdullah II, dan bahkan ditawari suaka serta kewarganegaraan kehormatan oleh pihak kerajaan. Namun, tawaran tersebut ditolak Prabowo karena dirinya tetap memilih pulang untuk mengabdikan diri sebagai warga negara Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto dan Raja Abdullah II berjalan menuju perjamuan makan malam di Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/11/2025).

Di Indonesia, berpindah ke negara lain untuk sekolah, bekerja, hingga mengganti kewarganegaraan bukanlah hal yang baru. WNI yang ingin melepas status kewarganegaraan atas permohonan sendiri kepada Presiden bahkan bakal dikenai tarif Rp 5 juta, seperti yang termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2026 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Hukum.

Meningkat drastis

Data Kementerian Luar Negeri menunjukkan terdapat 2.544.062 WNI yang berada di luar negeri pada 2024, dengan komposisi didominasi perempuan sebesar 56,76 persen dan laki-laki 43,24 persen. Tren mobilitas ini mencatatkan peningkatan yang sangat drastis, bahkan mencapai 74 kali lipat jika ditarik dari angka total pada tahun 2018 yang sebesar 34.180 jiwa.

Lonjakan paling fantastis terjadi pada periode 2021 ke 2022, yakni jumlah WNI di luar negeri melompat tajam dari kisaran ratusan ribu—tepatnya 383.445 jiwa pada 2021—langsung menembus angka di atas 2,1 juta jiwa atau tepatnya 2.117.121 pada 2022. Tren peningkatan tersebut kemudian terus berlanjut secara konsisten dalam dua tahun terakhir, yakni naik menjadi 2.234.135 jiwa pada 2023 hingga akhirnya menyentuh angka 2.544.062 jiwa pada 2024.

Berdasarkan kawasan, wilayah Asia-Pasifik dan Afrika-ASEAN mencatat konsentrasi tertinggi dengan 1.501.222 orang pada 2024, diikuti Asia Timur (559.353 orang) serta Timur Tengah GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) (146.641 orang). Sementara itu, jika dikerucutkan ke dalam daftar negara tujuan utama, Malaysia menempati urutan teratas dengan jumlah terbanyak, disusul oleh China, Singapura, Arab Saudi, dan Australia.

Screenshot

Riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Nusantara (Volume 1, Nomor 2, Februari 2025) oleh Rivaldi Azhar Priambodo, Nabil Aditia, Muhammad Ulil Albab, Ryan Kusnanto, dan Dadi Mulyadi Nugraha dari Universitas Pendidikan Indonesia memotret bahwa keputusan untuk berpindah kewarganegaraan atau mencari penghidupan di luar negeri kerap dipicu oleh akumulasi persoalan struktural.

Dari hasil penelitian tersebut, mayoritas responden yang berkeinginan pindah kewarganegaraan didorong oleh berbagai aspek dan keadaan, terutama persoalan sosial, ekonomi, dan politik. Sejumlah keluhan utama yang diungkapkan mencakup penilaian bahwa pemerintah dinilai belum memperhatikan ketersediaan lapangan pekerjaan dan justru mengutamakan tenaga kerja asing, serta kecilnya besaran gaji di Indonesia, di mana beberapa pekerjaan tidak dihargai secara layak.

Para responden juga menyoroti beban pajak di Indonesia yang tinggi tanpa adanya timbal balik yang setara bagi masyarakat, buruknya sistem hukum dan keadilan yang kerap dinilai tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, serta kebijakan pemerintah yang dianggap kurang efektif. Persoalan tersebut kian diperparah oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil, aspirasi rakyat Indonesia yang tidak didengar, hingga masalah kualitas sumber daya manusia yang dinilai masih rendah.

Akumulasi kekecewaan

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai fenomena warganet memamerkan momen tinggal atau pindah ke luar negeri merupakan bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat, khususnya kelas menengah ke atas, yang merasa hak-hak dan kegiatan ekonomi mereka tidak terakomodasi dengan baik.

”Saya kira ini akumulasi kekecewaan dari masyarakat, terutama kelas menengah ke atas, yang merasa tidak terakomodasi hak-hak ataupun kegiatan mereka di bidang ekonomi sehingga memilih pindah kewarganegaraan atau pindah negara,” ujar Agung saat dihubungi dari Jakarta, Senin (20/7/2026).

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro

Menurut Agung, Presiden mestinya tidak perlu memancing di air keruh lewat pernyataan provokatif yang justru berbalik menjadi bumerang. Ke depan, pemerintah disarankan menyampaikan hal-hal yang lebih substantif dan merespons kritik secara bijak serta elegan tanpa sikap emosional.

Lebih lanjut, ia menilai keberanian publik—khususnya kalangan well-educated—melontarkan konten satire berakar dari masalah output komunikasi publik pemerintah yang berulang dan kerap dianggap sepele, mulai dari level presiden hingga bawahan. Padahal, pada masa krisis, publik membutuhkan komunikasi yang empatik, transparan, dan solutif—bukan sebaliknya.

”Saya kira memang soal-soal blunder komunikasi publik pemerintah yang terus terjadi dan itu berulang. Hal yang tidak perlu disampaikan, kata-kata yang dipilih kurang tepat, kurang santun, kurang etis,” tutur Agung.

Respons dan kritik keras terhadap gaya komunikasi presiden turut disuarakan oleh kalangan masyarakat sipil. Anggota MBG Watch, Media Wahyudi Askar, dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR pada Kamis (16/7/2026), bahkan mengungkapkan kekecewaannya atas sikap Presiden yang kerap menyuruh warganya untuk pindah negara ketika menyampaikan kritik.

Media yang juga menjadi Menteri Perekonomian di Kabinet Bayangan itu memandang perlakuan menyuruh masyarakat sipil pindah negara saat menyuarakan kritik merupakan sebuah titik terendah yang sangat menyedihkan. Terlebih, banyak pihak yang telah berjuang dan bersekolah hingga ke luar negeri dengan baik demi masyarakat malah justru diminta pergi dari Indonesia. ”This is so painful,” kata Media.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji