Kontraksi sektor pertambangan menjadi pertanda perlunya tranformasi sektor ekonomi agar tidak banyak bergantung pada sumber daya alam ekstraktif.
17 Nov 2025 13:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA
Saat semua lapangan usaha mencatatkan laju pertumbuhan positif, pertambangan menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh negatif. Pada satu sisi menjadi tantangan, terutama pada daerah yang bergantung pada komoditas hasil tambang ini. Namun, pada sisi lainnya menjadi sinyal baik bagi upaya tranformasi ekonomi yang selama ini masih banyak bergantung pada sumber daya alam ekstraktif.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak, perekonomian Indonesia tercatat cukup resilien. Saat sejumlah negara ekonomi maju mencatatkan laju pertumbuhan yang melemah, ekonomi Tanah Air tercatat masih mampu tumbuh 5,04 persen pada triwulan III-2025. Meskipun demikian, secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi nasional kali ini sedikit lebih rendah dari sebelumnya.
Peningkatan gerak ekonomi pada triwulan III-2025 ini terpantau menyeluruh hampir ke semua lapangan usaha. Industri pengolahan, pertanian, hingga perdagangan besar sebagai kontributor ekonomi juga tercatat tumbuh cukup kuat pada periode yang sama.
Namun, di balik semua peningkatan pertumbuhan itu terdapat sinyal peringatan dari sektor yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi dan ekspor nasional. Sektor tersebut adalah bidang pertambangan dan penggalian yang tercatat tumbuh minus 1,98 persen.
Jika ditarik garis waktu yang lebih panjang, sinyal perlambatan sejatinya sudah terjadi sejak awal tahun ini. Triwulan pertama tahun 2025, sektor ekstraktif itu terkontraksi atau tumbuh minus 1,23 persen. Cukup mengagetkan setelah secara beruntun mencatatkan laju pertumbuhan positif, bahkan secara berulang melampaui capaian pertumbuhan nasional di tahun-tahun sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/5fc8a8576c9767423e774e3f450eae63-20251114_DMS_Pertumbuhan_Ekonomi_1_mumed.png)
Menyusutnya permintaan global bersamaan dengan anjloknya harga sejumlah komoditas dunia menjadi salah satu penyebab utamanya. Merujuk publikasi BPS terbaru, sepanjang Januari-September 2025 ekspor hasil pertambangan turun 23,70 persen. Faktor penyebabnya adalah anjloknya ekspor batubara. Padahal, di antara semua jenis komoditas pertambangan, batubara masih menjadi primadona ekspor hasil tambang Tanah Air hingga sekarang.
Bukan hanya pada triwulan ketiga ini saja, sejak semester pertama tahun ini seretnya mesin ekspor batubara telah terjadi di Indonesia. BPS mencatat, pada periode tersebut ekspor batubara nasional hanya tercatat 184,19 juta ton. Turun 6,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sehingga secara nominal hanya mampu terjual 11,97 miliar dollar AS atau turun 21,09 persen.
Sejatinya, fenomena itu tak terlalu mengejutkan. Sebab, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sudah memproyeksikan bahwa kinerja ekspor batubara akan menurun pada tahun ini. Diperkirakan akan turun 20 juta-30 juta ton dibandingkan tahun lalu. Melambatnya ekonomi negara mitra utama, yakni China dan India, disebut-sebut sebagai pemicunya sehingga berdampak pada menyusutnya permintaan impor batubara dari Indonesia.
Selain itu, susutnya nilai ekonomi pertambangan juga disebabkan oleh turunnya harga di tingkat global, setidaknya pada satu tahun terakhir. Pada September 2025, harga batubara susut menjadi 103,49 dollar AS per ton atau meluncur cukup dalam dibandingkan Januari 2025 yang masih mampu menembus 124 dollar AS per ton.
Tergerusnya batubara, baik dari sisi permintaan ataupun harga, tampaknya mulai tergantikan oleh kehadiran komoditas andalan lainnya, yakni nikel. Sepanjang periode yang sama, Januari-September 2025, nilai ekspor nikel naik hampir 20 persen dibandingkan tahun lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/a972c505399546490a3dce20e8e01d9a-20251114_DMS_Pertumbuhan_Ekonomi_2_mumed.png)
Sayangnya, sebagaimana yang terjadi pada batubara, harga nikel dunia juga anjlok. Data Kementerian ESDM mencatat, pada awal tahun harganya masih menembus angka 15.660 dollar AS per dry metric ton (dmt), tetapi kini harganya turun menjadi 15.000,3 dollar AS per dmt. Secara umum, permintaan ekspor nikel relatif masih meningkat, tetapi harga jual komoditasnya cenderung turun.
Fenomena tersebut salah satunya disebabkan oleh merosotnya harga nikel dunia akibat kelebihan pasokan di pasar global. Hal ini turut memberikan dampak bagi sektor pertambangan di Tanah Air yang notabene merupakan salah satu produsen nikel terbesar di pasar internasional.
Kontraksi beruntun pada kinerja pertambangan akan memberikan tantangan bagi daerah yang ekonominya bergantung pada komoditas tersebut. Hal ini tecermin dari melemahnya perekonomian kawasan timur Indonesia pada triwulan III-2025, pada saat sejumlah wilayah lain mencatatkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi.
Maluku dan Papua, misalnya, hanya mampu tumbuh 2,68 persen atau terpaut jauh dari tahun sebelumnya yang mampu menembus angka 6 persen. Begitu halnya dengan Sulawesi, meskipun seluruh pertumbuhannya relatif tipis dengan sebelumnya yang hanya 0,04 persen.
Fenomena tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata sebab perlambatan laju pertumbuhan itu sudah terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2023, pada periodisasi yang sama, kinerja ekonomi dua daerah penghasil tambang itu tumbuh lebih masif.
Jika ditilik secara spasial, terutama pada provinsi yang bergantung pada komoditas nikel, sangat tampak perlambatan gerak ekonominya. Maluku Utara, misalnya, pada 2023 mampu tumbuh di atas 20 persen, empat kali lipat dari rata-rata nasional. Sulawesi Tengah pun demikian, salah satu ”lumbung nikel” lainnya, mampu tumbuh di atas 11 persen laju ekonominya. Namun, pada tahun berikutnya, lajunya mulai melambat menjadi 13,73 persen di Maluku Utara dan 9,89 persen di Sulawesi Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/b89bd86c33e11f76b8c0c901e92ec86f-20251114_DMS_Pertumbuhan_Ekonomi_3_mumed.png)
Kontraksi pertambangan pada triwulan III-2025 ini dapat dibaca sebagai tantangan sekaligus kesempatan. Dalam jangka pendek, tekanan sektor pertambangan tetap perlu diantisipasi, terutama pada wilayah yang masih mengandalkan pendapatan daerah dari usaha ekstraktif.
Namun, dalam jangka menengah, penyesuaian ini justru memberi kesempatan untuk memperkuat struktur ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada sumber daya alam. Membangun pertumbuhan yang lebih seimbang antarsektor ekonomi sehingga mengurangi volatilitas harga komoditas pertambangan yang mengikuti tren global.
Hal tersebut perlu menjadi perhatian bagi para kepala daerah, khususnya penghasil tambang, untuk memperluas basis ekonomi lokal. Masih dominannya peran ekonomi rumah tangga sebagai kontributor pembangunan menjadi salah satu sinyal kuat untuk terus menguatkan potensi usaha mikro yang selama ini terbukti mampu menyelamatkan ekonomi nasional. Sebab, jika hanya bergantung pada komoditas andalan daerah, akan sangat rentan terpengaruh situasi global yang penuh ketidakpastian.
(Litbang Kompas)
Penulis:
Agustina PurwantiEditor:
Budiawan Sidik APenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan