Kontras dengan 2021,  Trump Mulus Disahkan Jadi Pemenang Pilpres

Wakil Presiden AS Kamala Harris, selaku Ketua Senat AS, mengumumkan pengesahan kemenangan Trump dalam Pilpres AS sekaligus mengumumkan kekalahan dirinya sendiri di sidang Senat.

07 Jan 2025 10:19 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

WASHINGTON, SELASA — Dalam demokrasi yang sehat, pihak yang kalah pun berbesar hati menyikapi kemenangan lawan. Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris—lawan Donald Trump dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat 2024—memimpin upacara pengesahan kemenangan Trump pada sidang Senat di Gedung Capitol, Washington DC, Amerika Serikat, Senin (6/1/2025) waktu setempat atau Selasa dini hari WIB (7/1/2025).

Keseluruhan proses pengesahan itu berlangsung mulus. Kontras dengan peristiwa empat tahun lalu pada 6 Januari 2021, di tempat yang sama, saat para pendukung Trump—saat itu kalah dari Joe Biden—menyerbu Capitol. ”Hari ini demokrasi Amerika tegak (lagi),” kata Harris, yang memimpin sidang pengesahan kali ini, sebagai ketua Senat.

Harris, mantan capres Partai Demokrat, membacakan dokumen demi dokumen dari negara-negara bagian yang menyatakan pemenangan pemilihan presiden. Tak ada keberatan. Yang ada, tepuk tangan santun. Dan hasil pilpres pun, yang menyatakan Trump dari Partai Republik kembali memimpin AS, disahkan.

Harris selanjutnya terlihat berdiri sambil berdiam diri dengan tangan tertangkup di depan tubuh seusai hasil pemilu per negara bagian dibacakan. Saat mengumumkan kemenangan Trump, yang sekaligus mengumumkan kekalahan dirinya sendiri, Harris terlihat tersenyum kaku, sementara para anggota Kongres dari Partai Republik berdiri dan bersorak-sorai.

Dari hasil penghitungan suara elektoral, Trump mengumpulkan 312 suara, sedangkan Haris 226 suara. ”Saya sebagai Ketua (Senat) menyatakan sesi pertemuan ini berakhir. Terima kasih,” kata Harris.

Sesuai undang-undang di Amerika Serikat, Wakil Presiden juga menjabat sebagai Ketua Senat yang harus menyatakan pemenang hasil pemilu presiden AS. Sidang pengesahan hasil pemilu itu berlangsung hanya setengah jam.

WASHINGTON, DC - JANUARY 06: U.S. Vice President Kamala Harris certifies the Electoral College vote as U.S. Speaker of the House Mike Johnson (R-LA) and Congressional clerks applauds during a joint session of Congress to ratify the 2024 Presidential election at the U.S. Capitol on January 06, 2025 in Washington, DC. Congress held a joint session to ratify President-elect Donald Trump’s Electoral College win over Vice President Kamala Harris, four years after a mob of supporters of then-President Donald Trump stormed the Capitol to halt the certification of the 2020 election results.   Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Photo by CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Melalui pesan yang diunggah melalui media sosial Truth Social, mengenai pengesahan dirinya sebagai pemenang pilpres, Trump menulis: ”Kongres mengesahkan kemenangan besar kita hari ini—peristiwa besar dalam sejarah.”

Dalam pesan video, Harris mengatakan, yang dijalankannya adalah tugas suci untuk memastikan pemindahan kekuasaan secara damai.

”Demokrasi kita pun memiliki kerentanan. Menjadi tugas kita untuk menjaga nilai-nilai demokrasi tersebut. Walau kalah dalam proses pemilu, kita harus mengakuinya. Itulah demokrasi Amerika Serikat,” kata Harris.

Quote

Situasi yang terkendali itu berbeda dengan kondisi ketika Donald Trump dan pendukungnya tidak menerima kekalahan dan menyerbu Gedung Capitol tahun 2021.

Sebelum Kamala Harris, ada sejumlah kandidat presiden AS (yang menjabat Wakil Presiden) yang memimpin sidang pengesahan kemenangan lawannya dalam pemilu presiden AS. Mereka, antara lain, Richard Nixon yang dikalahkan John Fitzgerald Kennedy tahun 1960, Al Gore yang dikalahkan George W Bush dalam keputusan Mahkamah Agung AS tahun 2000, dan Mike Pence–wakil presiden dari Trump, mengesahkan kemenangan Biden, empat tahun silam.

Situasi yang terkendali itu berbeda dengan kondisi ketika Donald Trump dan pendukungnya tidak menerima kekalahan dan menyerbu Gedung Capitol tahun 2021. Ketika itu kelompok kanan pendukung Trump menyebut terjadi kecurangan pemilu dan mengganggu proses pengesahan kemenangan Joe Biden tanggal 6 Januari 2021.

January 6 Then and Now Photo Gallery

Ketika serbuan massa terjadi, Kamala Harris berada di kantor Komite Nasional Partai Demokrat di Washington DC. Ditemukan bom pipa di dekat tempat dia berada. Dia pun dievakuasi dari ancaman bom tersebut.

Dalam kampanye pemilihan Presiden AS tahun lalu, Harris berulang kali mengingatkan serbuan ke Gedung Capitol tanggal 6 Januari 2021 sebagai peringatan bahaya kembalinya Trump ke Gedung Putih yang disebutnya sebagai ”Tiran Kecil dan Diktator Jadi-jadian”.

Setelah kalah dalam pemilu presiden AS, Harris yang sebelumnya digadang-gadang untuk menjadi perempuan pertama presiden AS menjanjikan menghormati hasil pemilu. ”Prinsip dasar demokrasi Amerika Serikat adalah jika seseorang kalah dalam pemilu, kita akan menerima hasilnya. Itulah yang membedakan demokrasi dari tirani,” kata Harris.

Suasana sidang pengesahan kemenangan Donald Trump dalam Pilpres pada sidang Senat AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden Kamala Harris di gedung Capitol, Washington DC, AS, Senin (6/1/2025).
<p>Gedung Capitol Hill, Gedung Kongres di Washington DC Amerika Serikat Infografik Kompas.id Internasional</p>

Juru bicara tim transisi Donald Trump yang juga calon jubir Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan, peralihan kekuasaan kali ini berjalan secara mulus. Ia tidak menanggapi pertanyaan wartawan tentang upaya Trump menggagalkan pengesahan kemenangan Joe Biden, empat tahun silam.

Ketika itu Trump mendesak Wapres Pence untuk membatalkan kemenangan dari negara bagian yang diperebutkan oleh Demokrat dan Republik dengan dalih ada kecurangan pemilu. Mike Pence menolak permintaan Trump.

Selama sidang berlangsung, pendukung Trump menyerbu Capitol dan berupaya menghentikan proses pengesahan kemenangan Biden.

Andy Biggs, anggota DPR dari Partai Republik yang pada 2021 memimpin upaya menentang hasil pilpres, mengatakan bahwa kala itu warga terkejut dengan hasil pemilu dan ada ”banyak klaim serta tudingan-tudingan”. Kali ini, lanjut dia, ”Saya pikir, kemenangan ini begitu telak.”

Berbeda dari Republikan tahun 2021, kubu Demokrat—meski dibuat frustrasi dengan kemenangan Trump—mau menerima pilihan publik AS. ”Tak ada penolak hasil pemilu dari pihak kami,” kata Hakeem Jeffries, Ketua Fraksi Demokrat di DPR AS. (AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .