Kontribusi Penerima Beasiswa LPDP Disorot

Penyiapan SDM unggul lewat beasiswa LPDP diharapkan dapat lebih dioptimalkan dan penerima beasiswa difasilitasi agar siap berkontribusi kembali untuk negeri.

07 Nov 2024 17:41 WIB · Nasional

Oleh Ester Lince Napitupulu - [email protected]

Suasana pertemuan antara 20 orang penerima beasiswa LPDP dan peneliti di Swedia di Solna, Stockholm, Swedia, Minggu (6/10/2019). Mereka menyudun rekomendasi untuk LPDP

JAKARTA, KOMPAS – Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan dengan alumni lebih dari 24.000 orang lulusan magister dan doktor dari perguruan tinggi luar dan dalam negeri sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Kini, opsi agar penerima beasiswa LPDP tidak wajib pulang ke Tanah Air dan dorongan kesiapan pemerintah memfasilitasi para alumnus yang kembali ke Indonesia mengemuka.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro beberapa waktu lalu menyampaikan, karena keterbatasan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian penerima beasiswa LPDP, ada opsi bagi penerima yang tidak ada ikatan dinas untuk mengembangkan kariernya di luar negeri terlebih dahulu. Syaratnya, antara lain, mendapat izin dan memastikan tetap punya kontribusi untuk Indonesia. Adapun yang memiliki ikatan dinas wajib kembali ke Tanah Air begitu selesai kuliah. ”Ini keputusan bersama,” katanya di Jakarta, Kamis (7/11/2024).

Satryo mengatakan, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi ialah kurangnya perhatian terhadap pengembangan talenta sains dan teknologi (STEM). Padahal, menuju Indonesia Emas, Indonesia harus meningkatkan PDB agar naik signifikan menjadi nomor 4 atau 5 kekuatan ekonomi dunia dengan pertumbuhan tinggi mencapai 8 persen.

 

”Sudah clear di media. Tidak perlu dijelaskan lagi,” kata Direktur Beasiswa LPDP Dwi Larso saat dimintai tanggapan tentang opsi penerima LPDP tidak wajib kembali ke Tanah Air.

Secara terpisah, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Daniel Murdiyarso mengatakan, beasiswa LPDP perlu fokus untuk bidang prioritas. Ketika mendanai warga negara untuk kuliah di luar negeri dengan uang publik, tentu perlu ada prioritas topik atau bidang ilmu yang jangkauannya jauh ke depan.

Selain itu, industri di dalam negeri juga perlu selaras dengan pendidikan. Dengan demikian, ketika merekrut orang dengan kompetensi dan keahlian tinggi ada tempatnya dan mendapatkan penghargaan yang sesuai.

Penerima beasiswa (awardee)  Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tergabung dalam PK-150 Garuda Manggala telah mengadakan proyek sosial yang menyasar isu literasi di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, akhir pekan lalu.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno saat kunjungan kerja pertamanya ke Kantor LPDP awal November lalu mendorong LPDP untuk menggali talenta berbakat yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

”Banyak SDM unggul yang belum terjangkau beasiswa, perlu ada talent scouting yang dilakukan LPDP, pemerintah harus mampu jemput bola untuk menjembatani mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik,” ujar Pratikno.

Fasilitasi untuk kembali

Pratikno mengatakan, LPDP perlu membuat kebijakan untuk memfasilitasi mahasiswa yang telah menerima beasiswa luar negeri untuk kembali dan turut membangun negeri dengan keterampilan dan pengetahuan yang didapat selama kuliah. 

”Perlu ada skema untuk memfasilitasi para alumnus LPDP. Karena, selain ada skema untuk mendidik, skema mempertahankan, tetapi juga perlu ada skema akuisisi sehingga investasi besar negara untuk pendidikan dapat berdampak kembali pada pertumbuhan dan kemajuan negara,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto menjelaskan, sejauh ini LPDP telah menjalankan berbagai program beasiswa strategis, antara lain Beasiswa Afirmasi yang telah dinikmati lebih dari 12.000 orang. Beasiswa ini terdiri dari berbagai jalur, seperti Beasiswa Prasejahtera, Beasiswa Daerah Afirmasi, Beasiswa Penyandang Disabilitas, dan Beasiswa Putra-Putri Papua. Dengan demikian, kelompok rentan juga memiliki kesempatan setara dalam mengakses pendidikan tertinggi dan terbaik di dalam ataupun luar negeri.

LPDP juga telah meningkatkan penerimaan beasiswa tahap 1 tahun 2024 pada bidang STEM hingga 55 persen dan akan terus ditingkatkan sesuai dengan program prioritas nasional melalui program Beasiswa Prioritas dan skema co-funding.

Para peserta calon penerima beasiswa LPDP sedang mengikuti ujian seleksi di Aceh Besar, Aceb Selasa (17/7/2018). Selama enam tahun LPDP telah membiayai sebanyak 18.466 penerima beasiswa.

Penerima beasiswa LPDP lulusan program doktor di University of Nottingham, Inggris, Rizal Azis, mengatakan, kesempatan berkuliah di luar negeri membuka peluang untuk meningkatkan penguasaan ilmu dan teknologi mutakhir serta jejaring internasional.

Rizal yang merupakan dosen program studi Teknik Biomedik, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), telah berhasil mematenkan hasil studinya. Dia menemukan media pengembangbiakan sel punca non-hewani (xeno-free) dari hasil penelitian bersama pembimbingnya, Profesor Nick Hannan, selama empat tahun sejak 2020. Penelitian ini juga melibatkan sejumlah peneliti dari Indonesia.

Quote

Saya yakin orang Indonesia mampu melakukan riset bagus asal disediakan ’tempat mainnya’. Semoga ini dipikirkan secara serius oleh pemerintah.

Pengobatan berbasis sel selama ini selalu menggunakan media hewani yang rentan kontaminasi. ”Temuan terbaru ini memberikan keamanan lebih tinggi, konsistensi, dan efisiensi dalam produksi sel yang sangat penting untuk penerapan klinis,” ujar Rizal yang kembali ke Indonesia pada September 2024.

Temuan tersebut telah menarik minat enam perusahaan bioteknologi internasional di Inggris, Kanada, dan Jerman. Perusahaan itu berminat membeli hak paten produk ini agar dapat diproduksi secara luas.

Penerima beasiswa LPDP

Selain itu, Rizal juga berhasil membuat sel punca terinduksi dari pasien orang Indonesia yang merupakan pasien talasemia dan pasien normal melalui serangkaian penelitian yang dilakukan pada November 2023-April 2024 di University of Nottingham. Sel punca terinduksi ini diberi nama RI (Republic of Indonesia) cells.

”Saya ingin melihat dunia sel punca di Indonesia bisa memiliki level yang sama dengan negara lain. Saya yakin orang Indonesia mampu melakukan riset bagus asal disediakan ’tempat mainnya’. Semoga ini dipikirkan secara serius oleh pemerintah,” kata Rizal.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .