Bermula dari keresahan guru-guru di Pontianak pada 1985, CU Pancur Kasih tumbuh menjadi kekuatan ekonomi rakyat, menjangkau ratusan ribu anggota di Kalimantan Barat.
19 Jul 2025 05:55 WIB · Ekonomi & Bisnis
Di tengah denyut Kota Pontianak di Kalimantan Barat tahun 1985, sekelompok guru dan staf Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih atau YKSPK berkumpul dalam kegelisahan. Bukan soal politik atau kurikulum, melainkan soal jeratan utang berbunga tinggi.
Saat itu, banyak di antara mereka yang terpaksa meminjam uang kepada tengkulak atau penyedia kredit informal yang kerap menjerat dengan bunga mencekik. Sementara itu, lembaga perbankan formal terasa jauh dan tak ramah terhadap masyarakat kecil.
Namun, dari keresahan itu muncul gagasan yang revolusioner: bagaimana jika membangun lembaga keuangan milik sendiri? Sebuah koperasi yang bukan hanya tempat meminjam, melainkan ruang untuk belajar, menabung, dan tumbuh bersama. Sebuah lembaga yang berlandaskan solidaritas, bukan sekadar transaksi.
Gagasan itu menemukan jalannya saat beberapa pengurus YKSPK mengikuti pelatihan dasar credit union (CU) yang digelar Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D). BK3D merupakan lembaga penggerak koperasi kredit berbasis nilai solidaritas dan pemberdayaan.
Di sinilah mereka diperkenalkan pada konsep ekonomi berbasis nilai: bahwa kredit bukan hanya soal uang, melainkan juga membangun karakter, tanggung jawab, dan kemandirian anggota. Kemudian, pada 28 Mei 1987, berdirilah Koperasi Credit Union Pancur Kasih. Jumlah anggotanya baru 61 orang dengan modal awal Rp 167.000. Kecil, tapi dengan semangat besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/d032af2b-6a34-416b-96e0-16d8170c6821.jpg)
Sejak awal, CU Pancur Kasih menempatkan anggotanya sebagai pusat pengelolaan koperasi. Bukan hanya sebagai nasabah, melainkan juga menjadi bagian sebagai anggota yang setara.
Sistem simpanan pokok dan simpanan wajib diberlakukan. Setiap anggota yang ingin meminjam wajib mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Transparansi dan akuntabilitas ditanamkan sejak dini, bahkan ketika koperasi masih berjalan dengan sangat terbatas.
Tantangan tentu saja tak sedikit. Namun, perlahan, langkah demi langkah, CU Pancur Kasih tumbuh. Tahun demi tahun, jumlah anggota bertambah, simpanan meningkat, dan sistem pengelolaan menjadi semakin solid. Pada 1996, koperasi ini resmi berbadan hukum. Lalu, tahun 2000 menjadi momen penting ketika CU Pancur Kasih memperluas layanan bagi masyarakat umum di Kalimantan Barat.
Perkembangan pun melonjak cepat. Tahun 2010, aset koperasi ini mencapai Rp 755 miliar dengan 81.339 anggota. Dua tahun kemudian, aset melesat menjadi Rp 1,2 triliun dan anggotanya mencapai 106.008 orang. Perkembangan ini tentu saja bukan sekadar angka. Pencapaian ini menunjukkan bahwa koperasi bisa menjadi kekuatan ekonomi alternatif yang kokoh, mandiri, dan berpihak kepada rakyat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/17/54e0d367-2280-441d-8f56-17228fdfe067_jpg.jpg)
Meski berakar pada semangat kolektif masa lalu, CU Pancur Kasih terus bergerak dinamis. Ketika dunia bergerak ke arah digital, koperasi ini memilih ikut berinovasi. Tahun 2016, mereka meluncurkan aplikasi CUPK Mobile. Melalui aplikasi ini, anggota bisa mengecek saldo, menyetor simpanan, membayar cicilan, hingga membeli pulsa dan membayar tagihan. Semua dari genggaman tangan.
Yang lebih menarik, aplikasi ini dikembangkan oleh tim internal CU sendiri. Mereka tidak mengandalkan vendor eksternal, tapi memberdayakan kemampuan sumber daya dari dalam. Ini menunjukkan bahwa transformasi digital tak harus meninggalkan prinsip-prinsip kemandirian.
Hingga awal Juli 2025, CU Pancur Kasih memiliki 228.603 anggota yang tersebar di 63 tempat pelayanan di seluruh Kalimantan Barat. Dari kota besar hingga pelosok pedalaman, anggota koperasi ini saling terhubung melalui sistem dan semangat yang sama: tumbuh bersama dengan nilai kolektif.
Di balik pencapaian yang monumental tersembunyi kisah-kisah kecil yang menyentuh. Seperti kisah Dahlan, seorang tukang ojek dari Kecamatan Sungai Raya. Dahulu, ia hanya mampu menyekolahkan satu anak karena penghasilan harian yang serba tak pasti.
Setelah menjadi anggota CU dan mengikuti pelatihan, ia mendapatkan pinjaman ringan untuk membeli motor bekas. Usahanya berkembang, dan kini tiga anaknya sudah menyelesaikan pendidikan menengah. Istrinya pun membuka warung kecil di depan rumah. ”Kami bukan jadi orang kaya, tapi bisa hidup lebih tenang,” ungkapnya.
Ada pula Kristina, ibu rumah tangga di pinggiran Kabupaten Landak. Awalnya ia merasa tak punya keterampilan dan ragu untuk memulai usaha. Namun, pelatihan kewirausahaan dari CU memberinya semangat baru. Ia mulai membuat kue dan menjualnya di sekitar rumah. Kini, kue buatannya dipasok ke dua sekolah dan satu toko kelontong. ”Saya baru percaya bahwa perempuan desa juga bisa punya mimpi asal ada yang percaya dan membimbing,” katanya.
Kisah-kisah semacam ini menjadi bukti nyata bahwa keberadaan CU Pancur Kasih bukan hanya soal neraca keuangan. Ia adalah ruang tumbuh yang membumi. Sebuah komunitas yang menghadirkan harapan di tengah keterbatasan.
Tak hanya pinjaman motor dan modal usaha, CU Pancur Kasih juga memiliki layanan simpanan yang sangat berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia, mulai dari simpanan pendidikan, simpanan rumah, hingga simpanan hari tua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/f3781f20-6784-4a8b-90ca-1609a8ec9c1f.jpg)
Di balik keberhasilan CU Pancur Kasih, terdapat filosofi kerja yang menjadi napas gerak mereka: SEJATI, singkatan dari Solidaritas, Empati, Jujur, Akuntabel, Tangguh, dan Inovatif. Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi jargon, tapi benar-benar hidup dalam keseharian organisasi. Dalam setiap pelatihan, rapat pengurus, atau interaksi dengan anggota, nilai-nilai SEJATI menjadi kompas moral dan identitas kolektif.
Dalam zaman ketika banyak lembaga keuangan terjebak pada eksploitasi dan orientasi laba semata, CU Pancur Kasih justru menunjukkan alternatif yang manusiawi. Jalan yang barangkali lebih lambat, tapi memberikan ruang bagi mereka yang selama ini tak dianggap. Jalan yang tak menjanjikan kekayaan instan, tetapi membuka akses menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
CU Pancur Kasih adalah contoh nyata bagaimana kekuatan kolektif bisa menjadi jawaban atas ketimpangan. Ia bukan hanya koperasi dalam arti administratif, melainkan gerakan sosial-ekonomi yang berakar pada semangat solidaritas dan keberdayaan. Dari Pontianak untuk Kalimantan Barat, dan mungkin suatu hari, menjadi inspirasi bagi Indonesia.
(Litbang Kompas)
Penulis:
Vincentius GitiyarkoEditor:
MB Dewi PancawatiInfografik:
Arie NugrohoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji